Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Semua orang yang tampak sudah kelelahan tengah berlomba menenangkan kegugupan pasangan yang akan segera menikah esok pagi.
Para Groomsmen dan Bridesmaids sepakat untuk mengadakan 'sesi' penutupan acara pesta bridal mereka dengan menggabungkan pesta kecil-kecilan. Sebuah upaya terakhir untuk merayakan sisa-sisa kebebasan sebelum janji suci mengambil alih segalanya.
Di tengah aula ballroom yang lebih kecil di The Savoy—tepat di samping aula utama tempat pesta pernikahan Sarah dan Joseph akan berlangsung esok hari—mereka berkumpul sekadar untuk minum, bercanda, dan bertukar cerita, mencoba melepaskan penat setelah seharian penuh berlari dari satu persiapan ke persiapan lainnya, dari latihan masuk altar sampai pengecekan dekorasi terakhir yang harus tampak sempurna ketika pagi tiba.
“Truth or Dare!”
Angela menyerukan ide permainan itu dengan suara ceria yang langsung disambut sorakan riuh oleh hampir semua orang di ruangan.
“Bukankah kita sudah terlalu tua untuk memainkan permainan ini?” protes Tom dari ujung sofa. Sebuah serbet makan langsung melayang dan mengenai bahunya.
Oliver terkekeh puas. “You’re always welcome to go back to your room,” katanya santai. “Because I, personally, always enjoy this kind of game. Bring it on, ladies.”
Ia bersiul sambil menenggak segelas sampanye, dan ruangan kembali dipenuhi tawa.
Well, tidak semua orang.
Ada Faira, yang memilih duduk di pinggir sofa tepat disebelah Sarah, sudah meneriakkan doanya sejak tadi agar bisa kembali cepat-cepat ke kamar hotelnya supaya ia bisa melepas sepatunya setelah seharian bergerak tanpa henti, dan supaya ia juga bisa lebih cepat mendarat di kasur tidurnya yang empuk.
Karena dia lelah.
Iya, lelah fisik.
Faira ingin pergi dari sana murni karena tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga setelah seharian berdiri dan berlari dari satu tugas ke tugas lain.
Bukan karena hatinya terasa semakin berat setiap kali matanya, tanpa izin, mencuri pandang ke arah Hero Campbell yang duduk di seberang kursi bersama Arianna Sinclair—wanita cantik dengan senyum menawan yang seakan selalu tahu tempatnya di dunia ini.
Faira merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Ia menegaskan pada langit, bumi, dan seluruh alam semesta kalau perlu, bahwa suasana hatinya yang buruk malam ini hanyalah efek dari alkohol ringan yang ia minum dan tubuhnya yang tak lagi bertenaga.
Iya.
Harusnya seperti itu.
Tapi sisi hatinya yang lain seperti menyangkal.
Permainan dimulai dengan cara klasik, memutar botol wine kosong di tengah meja untuk menentukan siapa yang harus memilih antara truth atau dare.
Botol itu berputar dengan suara kecil di atas permukaan kayu meja, memantulkan cahaya lampu gantung ballroom yang temaram.
Permainan sederhana seperti ini memang selalu berhasil menciptakan kegembiraan yang aneh. Bahkan di ballroom mewah The Savoy pada pukul dua belas malam.
Sampai botol itu berhenti, tepat mengarah ke Hero Campbell.
Albert Hanns bersandar ke depan dengan senyum licik.
“Come on, Best Man. Truth or dare?”
Hero mengangkat alisnya dengan santai.
“Truth.”
“Coward!” Michelle berseru keras, yang langsung dibalas cubitan dari Angela hingga membuatnya tertawa terpingkal.
Albert menjentikkan jarinya, lalu bertanya dengan nada penuh rasa ingin tahu.
“Have you ever been in love with someone in this room?”
Ruangan langsung meledak oleh sorakan.
Beberapa orang bahkan sudah bersiul ke arah Arianna.
Hero tidak langsung menjawab.
Ia memutar gelas di tangannya perlahan, seolah menimbang jawaban yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak awal.
Beberapa detik berlalu. Lalu ia berkata pelan.
“Yes.”
Sorakan memenuhi ruangan.
Semua orang menoleh ke Arianna yang duduk merona di sampingnya.
Namun ada beberapa orang yang tidak ikut bersorak.
Mereka hanya melirik sekilas ke arah Faira.
Padahal yang sedang dilirik pun dengan santai masih duduk dalam diam tanpa bereaksi apa-apa.
Namun ketenangan Faira jelas hanyalah topeng tipis untuk menyembunyikan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.
Faira memberanikan diri mengangkat pandangannya. Dan ketika ia melirik Hero,
tubuhnya membeku.
Karena sementara semua orang menatap Arianna, Hero justru sedang menatapnya.
Mata biru itu tajam.
Untuk satu detik yang terasa seperti selamanya, mereka saling pandang dalam diam. Seolah mata mereka adalah dua bilah belati yang saling menikam jantung masing-masing, mencari sisa-sisa luka yang belum sepenuhnya mengering di bawah permukaan.
Lalu permainan kembali berlanjut, kini giliran Oliver yang kebagian memutar botol.
Dan botol itu berakhir mengarah ke Faira, membuat gadis itu terkekeh pahit.
Semesta ini sepertinya memang sedang suka bercanda dengan Faira.
"Truth," jawab Faira samar sebelum ditanya, membuat semua orang di ruangan tertawa.
"What’s the biggest regret you’ve ever had in love?” tanya Oliver, suaranya rendah dan menuntut kejujuran di tengah keheningan ballroom yang mendadak mencekam.
Faira mengetuk pinggiran gelas, menimbang jawaban yang ia tahu kedengarannya akan sangat merana.
"Letting go too easily," bisiknya.
Keheningan itu berubah menjadi empati yang menyesakkan.
Ia menolak menatap mata biru Hero, meski genggaman hangat Sarah di tangannya mengisyaratkan bahwa luka lama itu baru saja berdarah lagi.
Permainan berlanjut hingga botol sialan itu kembali menunjuk Hero.
Kali ini Tom melempar tantangan mutlak,
"No more Truth for you, Dumbass."
Hero akhirnya mengangguk pasrah.
"Text the person you once loved the most and say you’re thinking about them.”
Ruangan meledak dalam keriuhan.
Hero meraih ponselnya di saku celana seketika, mengetik sesuatu dengan ekspresi tak terbaca, lalu meletakkan benda itu dengan bunyi tanda terkirim yang terdengar final ke atas meja.
Faira menyaksikan itu dalam diam dibalik gelas sampanye nya, sampai sebuah getar di saku celananya membuatnya membeku.
Faira masih terdiam dalam tenang, namun ia enggan menarik ponselnya untuk memastikan pesan siapa yang baru saja masuk.
Arianna, di sisi Hero, memekik kesal karena tak menerima apa pun.
Hero tertawa renyah, "I texted my mom."
Jantung Faira mencelos. Ia merasa menjadi wanita paling bodoh karena sempat berharap bahwa pesan itu dari Hero.
Dengan sisa martabat yang hancur, Faira undur diri, melarikan diri dengan alasan tubuhnya sudah tidak mampu untuk duduk lebih lama di dalam ballroom karena terlalu lelah.
Namun saat akhirnya Faira keluar dari ruangan, Hero menatap lekat kepergian Faira hingga ke pintu keluar.
Berdiri di koridor sunyi, Faira meyakinkan diri bahwa getaran tadi hanyalah pesan dari rekan kerjanya saja yang kebetulan masuk di waktu yang bersamaan dengan tantangan Hero tadi.
Namun, saat layar ponselnya menyala, pertahanannya runtuh total.
Napasnya tercekat. Tangannya mulai bergetar.
Disana, Faira membaca sederet kalimat yang tertera di layar ponselnya.
“Some things never really stop mattering.”
Dan pesan itu datang dari Hero Campbell.