Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Wartawan dan Mimpi Bodohnya
1
Suka
1,970
Dibaca

Derik pintu berbunyi ketika dibuka. Ruangan dengan nuansa sore yang hangat kini terasa pahit dan hambar bagi gadis bermata biru itu. Pantulan redup cahaya matahari sudah tak dapat membuat matanya kembali berbinar. Mungkin bila ada kalimat yang bisa mewakili semuanya, gadis itu akan memilih "Benang sudah kusut sekarang."

Biru kosong itu membidik ke arah boneka beruang yang terduduk manis di atas kursi kayu kecil. Dengan senyum getir dan langkah berat, ia masuk ke dalam kamarnya, menghantam pintu bak hatinya yang kini tertutup rapat.

"Zhel ...," lirih gadis itu dengan suara serak. Tenggorokannya terasa seperti tercekat ketika ia melafalkan nama itu. Seakan ada padang gurun di dalam mulutnya, dan mata sebagai matahari yang panas.

Gadis itu berjalan mendekati bonekanya, mengelilingi kursi kayu kecil itu.

"Andaikata aku bekerja sebagai wartawan ... Mungkin, hidup kita tidak akan berakhir seperti ini ... Zhel ...."

Gadis itu berdiri di depan boneka beruangnya. Tatapannya setajam ujung anak panah. Dibaluri dengan kebencian juga kekecewaan.

"Sebenarnya, apa yang kau rasakan? Apa yang hatimu rasakan terhadapku?"

Hening. Tak ada jawaban.

"Zhel ... Apakah kau mencintaiku? Apakah kau benar-benar masih mencintaiku ...? Lalu mana janjimu? Mana janjimu untuk mewujudkan keinginan dan mimpi kita BERSAMA!?"

Suara gadis itu menukik tajam dan tinggi. Gigi-giginya saling bergesekan satu sama lain, membuat rahangnya tampak seperti bergetar.

Ia bersimpuh di depan kursi kayu itu. Bibirnya bergetar. Selembar lapisan kaca terbentuk di atas bola matanya. Kedua tangannya mencengkeram pundak boneka beruang itu, layaknya seekor elang yang tak mau kehilangan makan malamnya.

"Sebenarnya, apa tujuanmu, Zhel...? Apa salahku? KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN KALAU KAU SUDAH HILANG RASA TERHADAPKU!?"

Bentak gadis itu parau. Rambut pirang panjangnya menutupi sebagian wajahnya, berantakan. Mata birunya bagai tenggelam, seakan siap melahap siapapun yang berada di hadapannya.

Hembusan kaku terlepas dari mulut gadis itu.

"Hahaha ... Retta, Auretta ... Memang, aku ini bodoh ya? Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti kepada BAJINGAN seperti dirimu ... Padahal, aku tidak pernah meminta untuk diberi bunga Lily of the Valley yang katanya indah memesona itu ... Aku hanya ingin Botiak. Dan itu cukup. Murahan bukan?"

Nafas gadis itu mulai tak stabil. Dadanya naik turun tidak beraturan.

"Aku tidak membutuhkan harapan omong kosong itu darimu! Aku hanya butuh penjelasan agar seluruh masalah ini bisa terselesaikan! Apakah aku harus membungkam mulutmu agar kau mau membuka mulut? Haruskah aku menyuap jutaan lembar daun merah agar kau mau menjelaskan semuanya!?"

Mata biru Auretta berkilat, seakan badai petir sedang terjadi di dalamnya.

Ruangan itu hening. Hanya hembusan angin sore dan gemerisik daun kering yang dapat ia dengarkan. Sayup-sayup suara itu seperti meniupkan ramuan kepedihan di dalam kehidupannya.

Boneka beruang di genggamannya diam tak bergeming. Auretta tak kunjung mendapatkan jawaban pasti yang bisa langsung ia petik. Dan kesunyian itu perlahan membuatnya semakin tenggelam ke dalam pikiran dan perasaannya.

Gadis itu menghela nafasnya gusar. Genggamannya melemah tatkala buliran mutiara mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.

"Andaikata aku bekerja sebagai wartawan ... Aku akan menanyakan berbagai hal kepadamu ... Aku akan mengulik semua informasi yang kau punya ... Akan ku tuntaskan seluruh benang kusut ini! Tanpa ada penutup! Tanpa ada tabir yang menghalangi! TANPA MEMBUATMU PERGI DARI SISIKU!"

Auretta menepis kursi kayu dihadapannya dengan sisa tenaga yang ia miliki, membuat boneka dan kursi itu terpental tak karuan ke ujung kamarnya.

Dia memukul lantai kamarnya kuat-kuat. Badannya bergetar hebat menahan amarah yang ia pendam sendiri.

Tangannya bergetar, nafasnya berhembus tak beraturan. Rasa-rasanya hatinya bisa meledak detik ini juga. Sebuah aliran sungai deras terbentuk membasahi pipinya.

"ARGH! ARZHEL SIALAN!"

Kini, sang wartawan bodoh hanya bisa bersimpuh di atas lantai. Tenggelam dalam cumbu gelap yang ia ciptakan sendiri bersama dengan Dewi Cinta.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Komik
Mataram In Memory
Uco Penguin
Flash
Wartawan dan Mimpi Bodohnya
Athena Atlantia Muara
Cerpen
Harmonika Penghubung (kenali dirimu dan aku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Perang Dunia Kaiju
Rama Sudeta A
Novel
Pribumi
Raida Hasan
Novel
Menanti Hujan Teduh
Isti Anindya
Flash
Bronze
Tiga Seteru
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
Hentak Mesin Dini Hari
Johanes Gurning
Novel
FRATERNAL
Lisna W Amelia
Flash
Gelap
Fajar R
Flash
Genks Kompleks Gaes
Fitri Handayani Siregar
Flash
Enam Bulan Seumur Hidup
L
Flash
Sedikit Waktu
Cathalea
Cerpen
THE CHOICE
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Si Kecil Penjaga Pohon
alifa ayunindya maritza
Rekomendasi
Flash
Wartawan dan Mimpi Bodohnya
Athena Atlantia Muara
Cerpen
Bronze
Sejajar, Bukan Menyatu
Athena Atlantia Muara
Cerpen
Bronze
Petrichor dan Angin Rindu
Athena Atlantia Muara