Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
1
Suka
300
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
mata luka sengkon karta
pena aksara
Flash
Sandera
Justang Zealotous
Novel
Bronze
Jalan Pulang
Widiyati Puspita Sari
Novel
Underground Fire
kimchiroll
Novel
Bhairava
Ghozy Ihsasul Huda
Cerpen
Menyulam Asa Di Balik Dinding Desa
Marliana
Cerpen
TAHAJUD EVERYDAY
NURYATI
Cerpen
Bronze
MYTHOEPIA: Sebuah Cerpen Fantasi Epik
Blue Sky
Novel
MAHAWIRA
el
Novel
Bronze
The Justice
djangles
Cerpen
Bronze
Pangeran Elvandar
Kemal Ahmed
Novel
Tempat paling aman
Ris Aruni
Novel
TITIK BUTA
Shireishou
Novel
Bronze
Rimba Jaya
E. Precious
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Novel
CAHAYA HITAM
Keita Puspa
Cerpen
Black Friday
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Hai Darling
Keita Puspa
Cerpen
TRIAL ON MERAPI (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
My Razor Blade (from Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Pendosa
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pecah
Keita Puspa
Flash
Bronze
Sembilan Nyawa
Keita Puspa
Flash
Bronze
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Bronze
Hidroponik
Keita Puspa