Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
2
Suka
2,624
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Misi
Laila NF
Flash
Setumpuk Kolang-Kaliang
Vynka Madani Siagian
Skrip Film
Negeri yang Tak Pernah Selesai
Dede Nurrahman
Cerpen
Bayangan Terakhir di Black Harbor
Penulis N
Flash
Mengejar Pesawat Pembawa Uang
Sena N. A.
Novel
Sang Petarung
Zulfan Fauzi
Flash
LUPUT
Edelmira (Elmira Rahma)
Novel
Bronze
The Doomsday
Rama Sudeta A
Novel
VLINDER
Yohanna Claude
Novel
The Elder: Perang Lima Tahun
Manu de Hart
Flash
Bronze
SALAH PAHAM
sisibulan
Novel
Bronze
Rama's Story : Krisna - Pandawa Pertama
Cancan Ramadhan
Flash
Bronze
Kopi Bintang
Silvarani
Novel
THE VISIBILITY
Dwi Budiase
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Amplop
Keita Puspa
Novel
SINTAS
Keita Puspa
Flash
Pendosa
Keita Puspa
Flash
Pengusiran Setan
Keita Puspa
Flash
Hidroponik
Keita Puspa
Flash
KANKER
Keita Puspa
Flash
Pecah
Keita Puspa
Novel
Bronze
We're (Not) Really Break Up
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Novel
JAM PULANG
Keita Puspa
Novel
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
LOG OUT
Keita Puspa