Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
2
Suka
3,123
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Mystery Box
Dwi Kurnialis
Cerpen
Sayap-Sayap yang Saling Mencari
Rina F Ryanie
Novel
Gantari Purnama
Mutiara Dinanti Pratiwi
Cerpen
Anti Crown
Rexa Strudel
Flash
Secangkir Cokelat Panas
Reveniella
Cerpen
Puasa Bukan Halangan
pena aksara
Cerpen
Bronze
Bodyguard Cat
Nabilla Shafira
Skrip Film
Hanya Cerita Sebuah Keluarga
Alim Alghani Achmad Winardi
Novel
Tasna Srikandi Betawi
Siti Mulia Al-Mufarrid
Cerpen
Bronze
Gigi Naga
Ahmad Muhaimin
Flash
Bronze
Cerita cinta santri PN
Irtafiul ulya
Flash
Jika aku harus menyapa nerakaMu, Tuhan
Dinda Kusuma Ati
Novel
Bhairava
Ghozy Ihsasul Huda
Flash
Pemburu Capung
Indra Afriza Arsad
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Hidroponik
Keita Puspa
Flash
KANKER
Keita Puspa
Flash
Amplop
Keita Puspa
Flash
Menjual Jiwa
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Bukan Sugarcoating
Keita Puspa
Novel
DELTA TEAM
Keita Puspa
Flash
Bronze
Telor Rebus (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Hai Darling
Keita Puspa
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Flash
Pecah
Keita Puspa
Cerpen
Satu Hari di 2010
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa