Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
1
Suka
9
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Sandera
Justang Zealotous
Flash
Bronze
Revenge
FS Author
Flash
Bronze
JIKA MOBIL BISA NGOMONG..
Shabrina Farha Nisa
Flash
Bronze
Desa Naga Kayu
Silvarani
Flash
Suara Hati FM
Yuanita Faridatun Ni'mah
Novel
Black Coffee
rizky al-faruqi
Flash
Dinda Mimpi
Aneidda
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 3
Daffa Amrullah
Novel
GALLENTERA
Adella Kusuma
Flash
Orang di Peron Kereta
Lebah Bergantung
Flash
The Last Boss
Laila NF
Flash
Bronze
Hello Dunia
Rahmayanti
Novel
Rama's Story : Kirana - Bittersweet Symphony
Cancan Ramadhan
Cerpen
Bronze
Aiden: Pandeka Withernsea
Mila Phewhe
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Bronze
Bukan Sugarcoating
Keita Puspa
Novel
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pecah
Keita Puspa
Flash
Menjual Jiwa
Keita Puspa
Flash
Bronze
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Bronze
Hidroponik
Keita Puspa
Cerpen
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Bronze
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Pendosa
Keita Puspa
Flash
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Flash
Bronze
LOG OUT
Keita Puspa
Cerpen
TRIAL ON MERAPI (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Pengusiran Setan
Keita Puspa