Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
1
Suka
594
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Mangue-ku Mangrove
Khairunnisa
Flash
Terbuka
Mahmud
Novel
Bronze
Queen Of Mafia
Kakco
Novel
Bronze
Kiwi Berlumuran Cokelat Beku
Gia Oro
Novel
Bronze
Adiwira: Invasi dari Bintang Viperos
Jun Prakoso
Novel
Sang Petarung
Zulfan Fauzi
Novel
Bronze
Sang Pembangkang
Deianeira
Flash
Amongst Laughters
Adinda Amalia
Flash
November di Kedai Usang
Lukitokarya
Flash
Bronze
Plugeon
Okhie vellino erianto
Flash
Bronze
Desa Istri
Silvarani
Cerpen
Bronze
Sebuah Perlawanan
Luthfiah
Flash
KUMPULAN TATIKA
Citra Rahayu Bening
Skrip Film
Hanya Cerita Sebuah Keluarga
Alim Alghani Achmad Winardi
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Novel
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Flash
Bronze
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
KOLOR RIJEK
Keita Puspa
Flash
Bronze
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Hai Darling
Keita Puspa
Flash
Bronze
Bukan Sugarcoating
Keita Puspa
Flash
Bronze
Hidroponik
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Cerpen
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Bronze
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Cerpen
My Razor Blade (from Sintas Universe)
Keita Puspa