Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Ranah Jaya
2
Suka
911
Dibaca

Udara pagi yang seharusnya semerbak cemara kini dipenuhi bau amis dan besi. Tidak perlu lidah untuk bisa merasakan darah. Cukup bernapas. 

Tubuh-tubuh tergeletak di atas tanah yang dingin. Beralaskan rumput berembun yang memerah. 

Surya mengintip di balik bukit. Cahaya jingganya lembut memantul pada pedang yang tertancap di atas dada seorang prajurit yang membelalakkan mata. 

Suara napas kasar dan patah memecah pagi yang sunyi. Dia berusaha bangkit, menyingkirkan potongan-potongan tubuh yang menindihnya. 

Isaknya terdengar. Melihat seluruh padang telah penuh daging dan darah tak bernyawa. Darah sesamanya. 

Ketika cahaya matahari memandikannya, ia berdiri. Melangkah dengan satu kaki diseret. Menuju ujung bukit yang dipenuhi bunga beri liar. 

Jauh di bawah sana, terlihat ribuan kaki melangkah. Dengan pedang dan tameng. Juga zirah besi dan pelindung kepala. Menjemputnya. 

Sesekali, mereka berteriak, berseru. Tak takut mati. Tapi tujuan mereka memang mati. 

Dia tersenyum. Medan selanjutnya menanti dengan ribuan nyawa baru untuk diadu. 

Tapi jiwanya terlalu lelah. Ribuan hari pertempuran sudah dilalui. Jutaan nyawa hilang. Ribuan kilometer berhasil disatukan. 

Namun yang ia dapatkan hanya pertempuran lain dan lain lagi. Dia lelah dengan hal menjemukan itu. Kemenangan yang awalnya manis menjadi terlalu banal. Tujuannya untuk mencapai damai melahirkan perang lain dan lain. 

Ketika wajahnya mendongak, sesosok wanita dengan kulit berpendar keperakan terbang mendekatinya. 

Dia terpesona dengan wajah cantik menyejukkan dan senyum yang membawa aroma bunga kenanga. Ketika wanita itu mengulurkan tangan, dia menyambutnya.

Genggaman tangan itu terasa lebih menyenangkan dari kemenangan mana pun. Pelukan itu membuatnya merasa rapuh dengan cara paling aman.

Tanpa suara, tanpa ijin tersurat, dia mengikutinya. Menanggalkan segala lelah dan kecewa di padang berdarah itu. 

Pada akhirnya, setelah hari-hari penuh denting pedang, dia menang atas dirinya sendiri. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Serdadu Bidadari
JWT Kingdom
Flash
Bronze
KERASUKAN
sisibulan
Flash
Secangkir Cokelat Panas
Reveniella
Novel
Gold
The Lost Hero
Noura Publishing
Flash
Bronze
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Nataraja
Ghozy Ihsasul Huda
Novel
MAHAWIRA
el
Flash
Introvert, ekstrovert, dan ambivert
Nimilsy Butterfly
Flash
Ghostwing
Fajar R
Novel
Bronze
HITAM - PUTIH
hendri putra
Novel
THE YOUTH CRIME
Dwi Budiase
Flash
Orang di Peron Kereta
Lebah Bergantung
Novel
Bronze
Sekolah petarung
Bungaran gabriel
Flash
Seminggu Tanpa Listrik
M. Ferdiansyah
Rekomendasi
Flash
Ranah Jaya
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pecah
Keita Puspa
Flash
KOLOR RIJEK
Keita Puspa
Flash
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
Bronze
JAM PULANG
Keita Puspa
Flash
Hai Darling
Keita Puspa
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Flash
Bronze
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Cerpen
Black Friday
Keita Puspa
Flash
Bronze
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Bronze
Hidroponik
Keita Puspa