Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Sahur ikut sahur, buka puasa ikut buka. Padahal nggak puasa." Ibu mertuamu bicara sambil mencedok nasi, sementara kamu hanya jadi pendengar seraya menatap anakmu yang sudah mampu duduk mandiri di samping.
"Nirta lagi fase nyusuin, Bu."
"Ibu waktu dulu juga nyusuin kamu, kakakmu, tapi tetep puasa kok. Masa iya nggak kuat kamu Nirta?"
"Ibu, tau nggak?" Suamimu lantas memangku sang putra yang kini kegirangan sebab dekat dengan sosok ayah. "Ibunya Nirta buka puasa sendiri lho di rumahnya."
"Terus?"
"Sementara Ibu di sini berbuka sama aku, sama menantu dan cucu ibu. Kak Gita, kak Tarta, mana?"
"Jadi kamu—"
"Aku nggak permasalahin, Bu. Cuma jangan jadi kita buta betapa nikmat diri sekarang, nggak perlu membandingkan ini dan itu.
"Jadi tolong, udah cukup pembahasan soal Nirta puasa atau nggak. Ibu selalu bicara pola yang sama sejak awal puasa. Terpenting cucu ibu sehat, nggak terganggu, Nirta juga nyaman. Allah sudah mempermudah, kita yang suka persulit. Aku pastikan Nirta mengqada atau kalau belum memungkinkan, Nirta bisa bayar fidiah."
Jika biasanya kamu susah menyetujui kutipan-kutipan yang tersebar di media sosial, kini kamu percaya pada satu kalimat yang pernah kamu baca; bahwa apa pun masalahmu, jika pasangan ada di pihakmu, semua akan terasa ringan. Kamu akan baik-baik saja.