Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
'Bilang kakak ya, jangan suka ngegas kalo ngomong, gampang banget ketriggernya'
Bukan sekali aku mendengar kata-kata itu keluar, meski lebih sering langsung, kali ini adikku yang jadi perantara.
Dan demi Tuhan, aku berusaha, aku benar-benar berusaha untuk berbicara lebih lembut, merespon lebih baik. Aku merasakan perubahan itu meski sedikit demi sedikit, aku bersumpah itu bukan hanya perasaanku. Tapi ibu tidak memperhatikan itu. Yang beliau tahu hanya aku masih belum seperti adikku, belum seperti beliau.
'Kamu itu sama saja seperti ayah, sedikit-sedikit marah, kalau ada masalah, bukannya fokus mencari solusi, malah menyalahkan'
Dulu aku percaya itu, aku percaya dari ayahlah aku memperoleh sifat-sifat burukku, sampai aku melihat sendiri bagaimana ibu merespon nenek. Ternyata ibu sama saja seperti ayah belasan tahun lalu. Aku melihat ayah sudah lebih tenang sekarang, meski gerutuan itu kadang ada. Tapi ibu? Ibu memang orang yang aktif di organisasi, terbiasa memecahkan masalah, terbiasa lebih tenang. Satu-satunya hal yang tidak bisa dihadapi ibu dengan lebih sabar adalah nenek.
Suatu sore, aku, ibu dan nenek makan kacang edamame rebus, hasil kegiatan berkebun ibu di belakang rumah. Entah apa pasal, aku tidak begitu ingat pencetusnya, tapi ibu begitu kesal melihat nenek sampai-sampai dia melempar-lempar kulit kacang begitu menguyah isinya. Tanpa suara, tapi persis seperti anak kecil tantrum yang tidak boleh bermain gadget. Aku tertegun. Nenek memang sudah pikun. Sering beliau melakukan hal-hal yang ibu tidak suka. Maunya ibu, nenek itu mengaji-ngaji saja, atau menonton ceramah dan membaca buku, seperti nenekku dari pihak ayah. Tapi begitulah, beliau tidak terbiasa. Beliau tahunya hanya bekerja saja.
'Ibu lebih memilih mengurus buang air nenek yang belepotan daripada meladeni nenek berceloteh-celoteh. Apa gunanya coba? Lebih baik mengaji, baca buku.' kata ibu suatu kali saat membersihkan kloset yang lupa disiram nenek.
Ayah sering mengingatkan ibu untuk tidak ngegas kalau berbicara dengan nenek. Tapi alasan ibu selalu 'kalau pelan-pelan, ama tidak dengar'
Padahal maksud ayah bukan begitu. Kadang memang perlu mengeraskan suara kalau berbicara dengan nenek. Tapi bukan ngegas. Kita bisa kan, membedakan mana suara yang keras dan mana suara yang ngegas?
Kembali ke topik awal, sampai dimana kita tadi? Ah ya, begitulah manusia, seringnya lebih suka melihat hasil daripada proses. Tapi bagaimanalah ibu bisa melihat proses itu kalau setiap hari yang menyita pikirannya hanya organisasi, umat. Ibu, bagaimana dengan aku? Aku juga orang yang akan melanjutkan generasi umat ini. Aku bukan hanya butuh nasehat, tapi juga kehadiran. Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikis, mental. Dan bagaimana beliau akan hadir kalau pulang mengajar saja sudah magrib? Sampai di rumah pun, masih ada kerjaan organisasi yang menunggu. Alhamdulillah sekarang beliau sudah pensiun, lebih banyak waktu di rumah. Tapi tetap saja, bonding ibu-anak antara aku dan ibu tidak terlalu kuat. Aku dulu berpikir bahwa organisasilah yang membuat ibu tidak maksimal hadir secara fisik dan emosional, sehingga aku tidak suka untuk masuk organisasi apapun. Aku tidak ingin suatu hari menjadi orang tua seperti ibu.
'Baik-baiklah bicara dengan ama. Ingat dulu waktu kecil gimana' kata ayah suatu hari.
'Waktu kecil? Mana ada Ama mengurus anak, semuanya inyiak yang mengurus' jawab ibu setelah terdiam sejenak.
Ternyata bukan salah organisasi, itu luka yang diwariskan. Nenek tidak pernah, atau mungkin, jarang hadir untuk ibu, karena itulah pola itu kembali muncul. Bukan ibu tidak berusaha mengubahnya. Aku tahu ada buku emotional intelligence di rak buku di rumah. Mungkin ibu sempat membacanya dan lupa, atau baru membaca sedikit lalu tersibukkan lagi oleh urusan organisasi.
Ayah? Ayah kehilangan ayahnya saat umur tiga tahun. Kemudian nenek menikah lagi saat ayah berumur enam tahun. Masa kecil ayah pun tidak seberuntung itu. Beliau harus bekerja sedari kecil. Tuhan, aku tidak membenci mereka. Aku sudah memaafkan, aku benar-benar sudah memaafkan. Jadi tolong bantu aku berbuat baik kepada keduanya.