Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Patut Di Rayakan
1
Suka
2,608
Dibaca

Perempuan itu lahir tanpa tahu bahwa dunia sudah menyiapkan daftar panjang tentang bagaimana ia seharusnya hidup.

Sejak kecil, ia dipuji karena manis, bukan karena berani. Ia diajarkan untuk duduk rapi, bukan untuk berlari kencang. Dunia menepuk bahunya ketika ia mengalah, tetapi mengernyit saat ia bersuara. Seolah-olah keberadaannya lebih nyaman ketika ia mengecil.

Namun hidup tidak pernah benar-benar kecil baginya.

Ia tumbuh dengan luka-luka yang tidak selalu berdarah. Luka karena dibandingkan. Luka karena diremehkan. Luka karena dianggap terlalu emosional ketika ia hanya sedang jujur pada perasaannya. Dunia sering menyebutnya “terlalu” terlalu keras, terlalu lembut, terlalu ambisius, terlalu memilih, terlalu diam.

Lucunya, dunia jarang merasa dirinya “terlalu” pada perempuan.

Ia pernah patah hati, bukan hanya karena cinta, tetapi karena harapan-harapan yang runtuh. Ia pernah berdiri di depan cermin dan bertanya, “Apa aku cukup?” Dan pertanyaan itu lebih tajam dari kritik mana pun.

Tetapi ada sesuatu yang dunia lupa pahami tentang perempuan: ia belajar.

Ia belajar dari kecewa.

Ia belajar dari ditinggalkan.

Ia belajar dari tidak didengar.

Dan dari semua itu, ia membangun dirinya ulang.

Pelan-pelan ia berhenti meminta izin untuk menjadi kuat. Ia berhenti mengecilkan mimpinya agar orang lain tidak merasa terancam. Ia mulai menyadari bahwa keberadaannya bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun, melainkan untuk hidup sepenuh-penuhnya.

Dunia mungkin memperlakukannya dengan standar ganda. Dunia mungkin menilainya lebih cepat daripada mendengarnya. Tapi perempuan itu akhirnya mengerti satu hal yang membebaskannya:

Ia bukan diciptakan untuk disukai semua orang.

Ia diciptakan untuk hidup dengan utuh.

Dan betapa indahnya ketika seorang perempuan berhenti bertanya apakah ia pantas, lalu mulai berkata, “Aku berharga.”

Perjalanannya bukan tentang melawan dunia dengan amarah, tetapi tentang berdamai dengan dirinya sendiri. Tentang memilih berdiri meski pernah diremukkan. Tentang tetap lembut di dunia yang kasar, tanpa kehilangan ketegasannya.

Monolog ini patut dirayakan.

Karena setiap perempuan yang tetap berjalan meski dunia meragukannya adalah revolusi kecil yang hidup.

Dan setiap langkahnya adalah perayaan diam-diam atas keberanian yang tidak selalu terlihat.

Ia bukan sekadar bertahan.

Ia bertumbuh.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Novel
Bronze
Serigala Rimba Beton
Davie Al-Fattah
Flash
Table Manner
Rin
Novel
Perjalanan 25
Aviskha izzatun Noilufar
Flash
Sepotong Daging Premium
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Yang Terpilih
Kemala88
Flash
Tuhan, Botol & Babi Hutan
Alysya Zivana Pranindya
Cerpen
Bronze
RESEP KEDUA AYU
ari prasetyaningrum
Flash
Monoton
Hans Wysiwyg
Cerpen
Aku untuk Diriku Part 1
Dyah
Flash
Bronze
Dia Masih di Sini
Keita Puspa
Flash
Rengkuh
Wulan Kashi Dhamar
Cerpen
Bronze
Ada tak Adanya Ibu, Hidup Tetap Harus Berjalan, Kan?
Mitchy Lou
Cerpen
Bronze
Yu Rus Tak Pernah Utang
Kinanthi (Nanik W)
Flash
Perkenalkan Martil
Indra Afriza Arsad
Rekomendasi
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
Sisa Di Gelas
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
A letter: Unbreakable Love From Seoul
lidia afrianti
Flash
SELF
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kenapa Kita Berpisah?
lidia afrianti
Flash
Kenapa kita kura-kura
lidia afrianti
Flash
Akhirnya Tetap Kalah
lidia afrianti
Flash
Jika Sudah Lupa, Mari kita Bertemu
lidia afrianti
Flash
Bronze
Bayang
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
StepMother
lidia afrianti
Novel
Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)
lidia afrianti
Flash
Suatu Hari
lidia afrianti
Flash
Bronze
Sandiwara
lidia afrianti
Flash
Bronze
Ibu, sebenarnya. . .
lidia afrianti
Flash
Aku ingin kamu mendengarku
lidia afrianti