Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Patut Di Rayakan
0
Suka
493
Dibaca

Perempuan itu lahir tanpa tahu bahwa dunia sudah menyiapkan daftar panjang tentang bagaimana ia seharusnya hidup.

Sejak kecil, ia dipuji karena manis, bukan karena berani. Ia diajarkan untuk duduk rapi, bukan untuk berlari kencang. Dunia menepuk bahunya ketika ia mengalah, tetapi mengernyit saat ia bersuara. Seolah-olah keberadaannya lebih nyaman ketika ia mengecil.

Namun hidup tidak pernah benar-benar kecil baginya.

Ia tumbuh dengan luka-luka yang tidak selalu berdarah. Luka karena dibandingkan. Luka karena diremehkan. Luka karena dianggap terlalu emosional ketika ia hanya sedang jujur pada perasaannya. Dunia sering menyebutnya “terlalu” terlalu keras, terlalu lembut, terlalu ambisius, terlalu memilih, terlalu diam.

Lucunya, dunia jarang merasa dirinya “terlalu” pada perempuan.

Ia pernah patah hati, bukan hanya karena cinta, tetapi karena harapan-harapan yang runtuh. Ia pernah berdiri di depan cermin dan bertanya, “Apa aku cukup?” Dan pertanyaan itu lebih tajam dari kritik mana pun.

Tetapi ada sesuatu yang dunia lupa pahami tentang perempuan: ia belajar.

Ia belajar dari kecewa.

Ia belajar dari ditinggalkan.

Ia belajar dari tidak didengar.

Dan dari semua itu, ia membangun dirinya ulang.

Pelan-pelan ia berhenti meminta izin untuk menjadi kuat. Ia berhenti mengecilkan mimpinya agar orang lain tidak merasa terancam. Ia mulai menyadari bahwa keberadaannya bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun, melainkan untuk hidup sepenuh-penuhnya.

Dunia mungkin memperlakukannya dengan standar ganda. Dunia mungkin menilainya lebih cepat daripada mendengarnya. Tapi perempuan itu akhirnya mengerti satu hal yang membebaskannya:

Ia bukan diciptakan untuk disukai semua orang.

Ia diciptakan untuk hidup dengan utuh.

Dan betapa indahnya ketika seorang perempuan berhenti bertanya apakah ia pantas, lalu mulai berkata, “Aku berharga.”

Perjalanannya bukan tentang melawan dunia dengan amarah, tetapi tentang berdamai dengan dirinya sendiri. Tentang memilih berdiri meski pernah diremukkan. Tentang tetap lembut di dunia yang kasar, tanpa kehilangan ketegasannya.

Monolog ini patut dirayakan.

Karena setiap perempuan yang tetap berjalan meski dunia meragukannya adalah revolusi kecil yang hidup.

Dan setiap langkahnya adalah perayaan diam-diam atas keberanian yang tidak selalu terlihat.

Ia bukan sekadar bertahan.

Ia bertumbuh.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
Bronze
Srigala berbulu domba
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
Gembel di Tanah Asing
Bang Jay
Cerpen
Hari Ini Aku Datang Lebih Awal
Aulia umi halafah
Cerpen
Akasia dalam diriku
Rain Dandelion
Cerpen
Bronze
NODA HITAM PENA
zanu ariska wakhida ainia
Flash
Arunika
Adam Nazar Yasin
Novel
Di Balik Merah Putih
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Liminal Euphoria
Silvarani
Novel
Antara mesin produksi dan hati yang remuk
Bang Jay
Flash
Mengeja Angka
Chie Kudo
Cerpen
Bronze
Buku Kecil
Novia Sekar Arum
Flash
Seri Suara Dan Opini : Mulut Yang Diam, Hati Yang berteriak
M. Fagih Alhafizh
Cerpen
Bronze
Bintang
Dingu
Novel
berharap pada siapa??
hendidesfian
Rekomendasi
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
SELF
lidia afrianti
Flash
Kesalahan Hitung
lidia afrianti
Flash
Hari Ketika Aku Mati Sebentar
lidia afrianti
Flash
Cinta Tanpa Pamrih
lidia afrianti
Flash
Rumus Manual ayah
lidia afrianti
Flash
Maaf aku tidak menjadi apa yang kamu mau
lidia afrianti
Flash
Jika aku tidak cukup, bilang saja
lidia afrianti
Flash
Bronze
Juni Tanpa Ju
lidia afrianti
Flash
STORY OF GERBERA
lidia afrianti
Flash
Aku ingin kamu mendengarku
lidia afrianti
Flash
Gravitasi
lidia afrianti
Flash
Kotak
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Line And Word
lidia afrianti
Flash
Bronze
Suar
lidia afrianti