Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Patut Di Rayakan
1
Suka
2,981
Dibaca

Perempuan itu lahir tanpa tahu bahwa dunia sudah menyiapkan daftar panjang tentang bagaimana ia seharusnya hidup.

Sejak kecil, ia dipuji karena manis, bukan karena berani. Ia diajarkan untuk duduk rapi, bukan untuk berlari kencang. Dunia menepuk bahunya ketika ia mengalah, tetapi mengernyit saat ia bersuara. Seolah-olah keberadaannya lebih nyaman ketika ia mengecil.

Namun hidup tidak pernah benar-benar kecil baginya.

Ia tumbuh dengan luka-luka yang tidak selalu berdarah. Luka karena dibandingkan. Luka karena diremehkan. Luka karena dianggap terlalu emosional ketika ia hanya sedang jujur pada perasaannya. Dunia sering menyebutnya “terlalu” terlalu keras, terlalu lembut, terlalu ambisius, terlalu memilih, terlalu diam.

Lucunya, dunia jarang merasa dirinya “terlalu” pada perempuan.

Ia pernah patah hati, bukan hanya karena cinta, tetapi karena harapan-harapan yang runtuh. Ia pernah berdiri di depan cermin dan bertanya, “Apa aku cukup?” Dan pertanyaan itu lebih tajam dari kritik mana pun.

Tetapi ada sesuatu yang dunia lupa pahami tentang perempuan: ia belajar.

Ia belajar dari kecewa.

Ia belajar dari ditinggalkan.

Ia belajar dari tidak didengar.

Dan dari semua itu, ia membangun dirinya ulang.

Pelan-pelan ia berhenti meminta izin untuk menjadi kuat. Ia berhenti mengecilkan mimpinya agar orang lain tidak merasa terancam. Ia mulai menyadari bahwa keberadaannya bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun, melainkan untuk hidup sepenuh-penuhnya.

Dunia mungkin memperlakukannya dengan standar ganda. Dunia mungkin menilainya lebih cepat daripada mendengarnya. Tapi perempuan itu akhirnya mengerti satu hal yang membebaskannya:

Ia bukan diciptakan untuk disukai semua orang.

Ia diciptakan untuk hidup dengan utuh.

Dan betapa indahnya ketika seorang perempuan berhenti bertanya apakah ia pantas, lalu mulai berkata, “Aku berharga.”

Perjalanannya bukan tentang melawan dunia dengan amarah, tetapi tentang berdamai dengan dirinya sendiri. Tentang memilih berdiri meski pernah diremukkan. Tentang tetap lembut di dunia yang kasar, tanpa kehilangan ketegasannya.

Monolog ini patut dirayakan.

Karena setiap perempuan yang tetap berjalan meski dunia meragukannya adalah revolusi kecil yang hidup.

Dan setiap langkahnya adalah perayaan diam-diam atas keberanian yang tidak selalu terlihat.

Ia bukan sekadar bertahan.

Ia bertumbuh.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
Hidup Setelah Mati
Ika nurpitasari
Cerpen
Bronze
Di Hari Berkabung
Rika S. Muliawan
Flash
Bronze
Sepi Ditengah Ramainya Trending Topik
Wawan Setiawan
Cerpen
Bronze
Menyapu sisa luka
sercan
Novel
I Am Way Better than You, Nelman
Vyas Cornanila Wahana Putri
Novel
Setelah Diam Ada Langkah Baru
Asep Saepuloh
Cerpen
Kehilangan Diri
Fata Raya
Cerpen
Bronze
Aku dan Tenang Pikiranku
Ezra Jo
Flash
Bronze
Parallel Myself in Kanagawa Morning
Silvarani
Flash
Noises Inside My Head
Steffi Adelin
Cerpen
Langkah tanpa nama
Erlangga Putra
Novel
Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia
Desto Prastowo
Flash
Hidup yang Katanya Normal
El falach
Cerpen
Bronze
Langit
Hekto Kopter
Rekomendasi
Flash
Patut Di Rayakan
lidia afrianti
Flash
Bronze
Luapan Luka Luna
lidia afrianti
Novel
Simulasi Pernikahan (The year we practiced forever)
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
StepMother
lidia afrianti
Flash
Bronze
Hear You
lidia afrianti
Flash
Bronze
Jeda Yang Tak Pernah Usai 2
lidia afrianti
Flash
Bronze
Kenapa Kita Berpisah?
lidia afrianti
Flash
SELF
lidia afrianti
Flash
Bronze
Juni Tanpa Ju
lidia afrianti
Flash
My Battery
lidia afrianti
Flash
Gravitasi
lidia afrianti
Flash
Bronze
Hilang di Kota Virtual
lidia afrianti
Flash
Andai semua ini benar-benar terjadi
lidia afrianti
Flash
Bronze
Ramai
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Strange Thoughts
lidia afrianti