Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Jejak Pelangi di Langit Hati
0
Suka
6,480
Dibaca

Evi selalu percaya pada keajaiban kecil yang tersembunyi di dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, hidup bukan hanya tentang rutinitas dan kesibukan, tapi juga tentang warna-warni yang membuat setiap hari terasa berbeda dan bermakna. Aku tahu itu bukan sekadar kata-kata kosong. Aku melihat bagaimana matanya berbinar saat berbicara tentang mimpi dan harapan, tentang cerita-cerita kecil yang biasa dialami tapi terasa istimewa karena dibagikan bersamanya.

Suatu pagi di musim semi, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman kota yang baru saja direnovasi. Taman itu terhampar luas, dengan bunga-bunga bermekaran warna-warni — merah, kuning, ungu, dan biru — semuanya membentuk kanvas hidup yang membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.

Evi berjalan di depanku, tersenyum sambil memandang bunga-bunga yang ditemuinya. Ia dengan sengaja sering berhenti, merunduk untuk mencium aroma bunga mawar, mengagumi kupu-kupu yang hinggap di atas bunga melati, atau mengamati kerlip embun di daun-daun kecil. Aku mengikuti dengan tenang, menikmati setiap detik yang kami lalui dalam keheningan yang nyaman.

“Aku ingin suatu hari nanti punya kebun kayak gini di rumah,” katanya tiba-tiba, dengan suara lirih penuh harap.

Aku menoleh padanya, dan dalam senyum itu aku melihat gambaran mimpi—mimpi yang seolah-olah baru mulai ingin ia renungkan.

“Kebun yang diisi oleh semua bunga yang kamu suka, di mana kita bisa duduk bersama dan membaca buku, sambil minum teh hangat,” lanjutnya.

Aku mengangguk, membayangkan bersama Evi di taman itu, dikala mentari bersinar hangat dan angin sepoi berhembus dagku—momen sederhana tapi sempurna.

Beberapa minggu kemudian, aku mulai mengumpulkan bibit bunga dan peralatan taman kecil. Aku tak memberitahunya sampai semuanya siap. Aku tahu ini akan menjadi hadiah sederhana yang membuat hatinya hangat.

Hari Sabtu pagi, aku membawa Evi ke halaman belakang rumah yang memang cukup luas. Aku sudah menyiapkan kebun mini, yang diisi oleh bunga-bunga yang ia suka: mawar merah menggoda, lavender ungu yang harum, dan bunga matahari cerah yang seperti mentari selalu tersenyum.

“Evi, aku tahu kamu suka bunga dan kebun. Jadi aku buatkan ini untukmu,” ujarku sambil tersenyum.

Matanya membelalak, kemudian berkilauan penuh haru. “Ini luar biasa,” katanya pelan. Ia meraih tanganku, dan aku tahu saat itu dunia seakan seperti milik kami berdua.

Hari-hari berikutnya, kami bersama-sama menanam, menyiram, dan mengurus kebun kecil itu. Bagi Evi, merawat kebun bukan hanya soal bunga, tapi juga soal cinta dan perhatian yang tumbuh seiring waktu. Aku belajar banyak darinya, tentang bagaimana kesabaran dan ketekunan bisa membuat sesuatu yang kecil menjadi luar biasa indah.

Suatu senja, kami duduk di bangku kayu kecil di tengah kebun. Sinar matahari mulai merunduk rendah, dan warna jingga keemasan memeluk langit. Kami berbicara tentang segala hal—tentang mimpi, rencana, masa depan yang ingin kami bangun bersama.

“Aku ingin kita bisa terus seperti ini,” kata Evi dengan mata bersinar. “Membangun sesuatu dari yang sederhana, tapi dengan cinta yang besar.”

Aku menggenggam tangannya erat. “Aku setuju. Karena cinta kita, Evi, adalah pelangi di langit hatiku—selalu hadir setelah hujan, memberi harapan, dan keindahan yang tak tergantikan.”

Hari-hari berlalu, dan kebun kecil itu tumbuh subur, seperti cinta kami yang terus berkembang. Terkadang, saat aku melihat Evi tengah sibuk mengurus bunga dengan senyum tulus, aku merasa takjub karena bisa berada di samping wanita yang mengajarkanku arti cinta dan hidup yang sesungguhnya.

Kebun itu menjadi tempat kami berlindung dari dunia luar yang terkadang riuh. Tempat kami mendengar suara alam, berbagi impian, dan menyusun masa depan. Setiap bunga adalah kisah kecil kami, dan setiap helai daun adalah doa yang kami panjatkan agar cinta kami abadi.

Suatu hari, aku menyiapkan kejutan kecil. Aku membuat sebuah kotak kecil berisi surat-surat kecil yang aku tulis untuk Evi. Surat itu berisi kenangan indah, janji setia, dan harapan untuk masa depan.

Aku memberikannya di tengah kebun, di bawah pohon tua tempat kami biasa duduk.

Dengan mata berkaca-kaca, Evi membaca surat itu satu per satu. Ia tersenyum, tertawa, dan menangis bersamaku. Aku tahu, cinta ini bukan hanya kata-kata di surat, tapi hidup yang kami jalani bersama.

Di bawah langit sore yang tenang, dengan aroma bunga yang menyelimuti, kami bertekad untuk terus merawat kebun ini dan cinta kami, agar selalu mekar dan harum sepanjang hayat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Skrip Film
CINTA PUTIH TRUFFLE
Renata yohana nurak
Flash
Jejak Pelangi di Langit Hati
Lukitokarya
Novel
Bronze
Maple Note
Hildan Fadhilla
Novel
Bronze
Yang Kepergiannya Seolah Demi Kebaikan
Nu
Cerpen
Bronze
Percakapan Tanpa Suara
MAY RINA DWI ASTUTIK
Flash
Bronze
Menunggumu Hingga Aku Jemu
Aspasya
Novel
Gold
Bride Wannabe
Bentang Pustaka
Skrip Film
Living Inside A Cloud
Arini Putri
Novel
Gold
Just a Friend to You
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Kenangan Hujan
Falcon Publishing
Novel
Bronze
Jika Aku Di Pelukmu
Miss Anonimity
Flash
Seharusnya, selesai.
Lisnawati
Novel
The Special Nurse
Putri Rezeki
Flash
RED #2
Kaylasyifa Azzahrie
Novel
Kala Kata Menjadi Teman
Apolllo
Rekomendasi
Flash
Jejak Pelangi di Langit Hati
Lukitokarya
Flash
November dan sebuah kotak musik tua
Lukitokarya
Flash
Kisah di Balik Kedai Kopi Usang
Lukitokarya
Cerpen
JALAN PANJANG UNTUK KEBAIKAN
Lukitokarya
Cerpen
Payung Usang dan Tawa di Hujan
Lukitokarya
Cerpen
KEMARIN KITA BERJANJI
Lukitokarya
Cerpen
BENANG MERAH DI BALIK PAGAR
Lukitokarya
Flash
Tentang kita
Lukitokarya
Cerpen
KACA BOLONG DI ATAS MEJA
Lukitokarya
Cerpen
Pengorbanan Janda
Lukitokarya
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Flash
Senandung Kerinduan di Balik Jendela November
Lukitokarya
Flash
Peta Usang dan Harta Karun di Pulau Terlupakan
Lukitokarya
Flash
bisikan hati di balik topeng
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya