Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Di Puncak Bukit, Ada Rahasia
0
Suka
6,569
Dibaca

Mentari pagi menyapa Desa Sukamaju dengan kehangatan yang khas. Embun masih menempel di dedaunan, memberikan kesegaran yang memanjakan mata. Di tengah desa yang asri itu, berdiri seorang wanita bernama Kirana. Usianya 35 tahun, dengan rambut cokelat yang selalu diikat rapi dan mata yang berbinar penuh semangat. Ia adalah seorang konsultan pengembangan desa wisata yang ditugaskan untuk menggali potensi Desa Sukamaju.

Kirana baru beberapa minggu berada di desa itu, namun ia sudah merasa betah. Udara segar, pemandangan indah, dan keramahan penduduk desa membuatnya jatuh hati. Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran: sebuah bukit yang menjulang tinggi di ujung desa. Bukit itu tampak begitu misterius dan menyimpan banyak potensi yang belum tergarap.

Suatu pagi, Kirana memutuskan untuk mendaki bukit itu. Ia ingin melihat sendiri apa yang tersembunyi di puncaknya. Dengan semangat membara, ia mulai menapaki jalan setapak yang berkelok-kelok. Semakin tinggi ia mendaki, semakin indah pemandangan yang tersaji di hadapannya.

Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya Kirana tiba di puncak bukit. Ia terkejut melihat sebuah kebun yang luas dan terawat dengan baik. Di tengah kebun itu, seorang pemuda sedang sibuk menyiram tanaman. Pemuda itu memiliki rambut hitam legam, kulit sawo matang, dan senyum yang menawan.

"Selamat pagi," sapa Kirana. "Maaf mengganggu, tapi bolehkah saya tahu siapa Anda?"

Pemuda itu menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi juga. Saya Rangga, penjaga kebun ini. Anda siapa?"

"Saya Kirana, konsultan pengembangan desa wisata. Saya sedang mencari potensi desa ini, dan bukit ini sangat menarik perhatian saya," jawab Kirana.

"Oh, begitu. Kalau begitu, mari saya tunjukkan kebun ini," ajak Rangga.

Kirana mengikuti Rangga berkeliling kebun. Ia terpukau dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh subur di sana. Rangga menjelaskan dengan detail tentang setiap tanaman, mulai dari cara menanam hingga cara merawatnya. Kirana merasa seperti sedang berada di surga kecil.

"Kebun ini sangat indah. Anda sangat berbakat," puji Kirana.

"Terima kasih. Kebun ini adalah warisan dari kakek saya. Saya hanya berusaha menjaganya sebaik mungkin," jawab Rangga.

Kirana dan Rangga terus mengobrol hingga sore hari. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Kirana bercerita tentang pekerjaannya sebagai konsultan dan mimpinya untuk membantu desa-desa terpencil berkembang. Rangga bercerita tentang kecintaannya pada alam dan keinginannya untuk melestarikan kebun warisan kakeknya.

Semakin lama mereka mengobrol, semakin tumbuh perasaan tertarik di antara mereka. Kirana merasa nyaman dengan Rangga, meskipun usia mereka terpaut cukup jauh. Rangga merasa terpesona dengan Kirana, yang cerdas, cantik, dan bersemangat.

Sejak hari itu, Kirana dan Rangga sering bertemu di puncak bukit. Mereka bekerja sama mengembangkan potensi desa wisata. Kirana membantu Rangga mempromosikan kebunnya sebagai objek wisata, sementara Rangga membantu Kirana mencari ide-ide kreatif untuk mengembangkan desa.

Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus. Ada beberapa penduduk desa yang tidak setuju dengan kedekatan Kirana dan Rangga. Mereka menganggap Kirana hanya memanfaatkan Rangga untuk kepentingan pribadinya.

"Kamu harus hati-hati dengan wanita itu, Rangga. Dia hanya ingin memanfaatkan kamu dan kebun kamu," kata seorang tetangga.

Rangga merasa sedih mendengar perkataan tetangganya. Ia tahu bahwa ada perbedaan usia yang cukup jauh antara dirinya dan Kirana. Ia juga tahu bahwa pekerjaannya sebagai penjaga kebun tidak sebanding dengan pekerjaan Kirana sebagai konsultan. Namun, ia percaya bahwa Kirana adalah orang yang baik dan tulus.

"Saya percaya pada Kirana. Dia tidak seperti yang kalian pikirkan," jawab Rangga.

Kirana juga merasa sedih mendengar gosip tentang dirinya dan Rangga. Ia tahu bahwa banyak orang yang meragukan hubungannya dengan Rangga. Namun, ia tidak peduli. Ia tahu bahwa Rangga adalah orang yang spesial dan ia tidak ingin kehilangan Rangga.

"Saya tahu banyak orang yang meragukan hubungan kita. Tapi saya tidak peduli. Saya mencintai kamu, Rangga," kata Kirana.

Rangga terkejut mendengar perkataan Kirana. Ia tidak menyangka bahwa Kirana memiliki perasaan yang sama dengannya.

"Saya juga mencintai kamu, Kirana," jawab Rangga.

Kirana dan Rangga berpelukan di puncak bukit, di bawah langit yang cerah. Mereka berjanji untuk saling mencintai dan saling mendukung, meskipun banyak rintangan yang menghadang.

Dengan dukungan dari Kirana dan Rangga, Desa Sukamaju berhasil menjadi desa wisata yang sukses. Kebun Rangga menjadi daya tarik utama desa itu. Banyak wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan alam dan belajar tentang pertanian organik.

Kirana dan Rangga menikah dan hidup bahagia di Desa Sukamaju. Mereka berdua terus bekerja keras untuk mengembangkan desa wisata dan melestarikan lingkungan. Mereka membuktikan bahwa cinta tidak mengenal usia dan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di puncak bukit yang menyimpan rahasia.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Di Puncak Bukit, Ada Rahasia
Lukitokarya
Cerpen
Collapse
Rama Sudeta A
Novel
Bulan dan Langit
sabina
Novel
REMAINS UNSAID
Chibi Chan
Flash
Fantasy Cewek
Donquixote
Cerpen
Bronze
ISTIQLAL KATEDRAL
DW AMOUR
Cerpen
Bronze
Eye Lock
Nuel Lubis
Novel
CHOICE
Niar Puji Cayati
Novel
Bronze
ROMANSA LAGU
I Wayan Kertayasa
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya
Novel
PILIHAN
Caca
Novel
Gold
Her Beautiful Eyes
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Daily Sign-In System: Kehidupan Kampus Sang Miliarder Tersembunyi
Recyclebin_13
Novel
Utara ke Barat
Dina Oktaviani
Novel
SKINSHIP
Arisyifa Siregar
Rekomendasi
Flash
Di Puncak Bukit, Ada Rahasia
Lukitokarya
Flash
Melodi yang Hilang di Kota Tua
Lukitokarya
Flash
Bidadari Penjaga Hutan Terlarang
Lukitokarya
Flash
Cinta tak terduga
Lukitokarya
Flash
November di Kedai Usang
Lukitokarya
Flash
Secangkir coklat di musim dingin
Lukitokarya
Flash
Gema Piano di Rumah Tua
Lukitokarya
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya
Flash
Jejak Waktu di Balik Lensa
Lukitokarya
Cerpen
Aroma Kayu Manis di November Kelabu
Lukitokarya
Flash
Antara Tradisi dan Ambisi di Lembah Kabut
Lukitokarya
Flash
Cahaya memudar di lantai
Lukitokarya
Flash
Aroma pagi dan kopi
Lukitokarya