Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tidak semua cinta lahir dari ketulusan. Sebagian lahir dari ketakutan kehilangan kesempatan merasakannya.
Setelah kehilangan seluruh hartanya akibat sebuah taruhan konyol, Matteo meninggalkan dunia komedi yang dulu membesarkan namanya. Ia menua dalam sunyi, kesehatannya terus menurun, dan hidupnya bergantung pada perawatan yang tak murah.
Putra sulungnya, Aruleo, bekerja keras untuk menopang keluarga. Ia menjadi kuli angkut, memikul beban orang lain setiap hari demi satu tujuan, memastikan ayahnya tetap bertahan. Namun nasib seolah tak pernah memberi jeda. Aruleo mulai merasakan hal yang sama dalam tubuhnya, kelelahan yang tak wajar, gemetar yang semakin sering.
Saat ada pemeriksaan kesehatan gratis di desa mereka, kenyataan pahit terungkap. Kondisi Matteo sudah sangat lemah. Namun Aruleo berada dalam keadaan yang jauh lebih genting. Para petugas medis memperingatkan bahwa jika ia tidak mendapat perawatan rutin, kematiannya tak akan lama.
Aruleo memilih diam. Ia menyingkirkan dirinya sendiri dari daftar prioritas. Baginya, ayahnya lebih penting. Seluruh rumah bekerja lebih keras, ibu tiri, adik-adiknya, semua mengorbankan tenaga demi satu orang.
Keluarga itu hidup dalam kekurangan. Semua aset Matteo telah hilang, Aruleo hanya sempat mencicipi kemewahan singkat di masa kecil, itu pun kini terasa samar. Setiap hari ia mengumpulkan sedikit demi sedikit, dua puluh peso, empat puluh peso, recehan yang dihitung dengan hati-hati.
Hingga suatu hari, Aruleo bertemu Gracia.
Tatapan pertama itu membuat dunia terasa berhenti. Untuk pertama kalinya, beban di dadanya terasa ringan. Bersama Gracia, Aruleo merasa hidup, walau ia sadar kematiannya sudah dekat.
Sejak hari itu, arah hidupnya berubah. Uang yang sebelumnya ia kumpulkan untuk perawatan ayahnya, kini ia alihkan pada satu mimpi sederhana, sebuah cincin. Bukan untuk masa depan yang panjang, tapi untuk beberapa momen bersama orang yang ia cintai, sebelum mati.
Aruleo sadar waktunya singkat. Ia meminta jam kerja tambahan. Ia membantu tetangga menjual pakaian bekas, dibayar murah, demi setiap keping uang. Tubuhnya makin melemah, tangannya sering gemetar, hal yang sama terjadi pada Matteo.
Tragedi lain menyusul, adik tirinya melakukan perampokan, dan peristiwa ia tewas dihajar massa meski masih bocah. Tak lama setelahnya, kondisi Matteo memburuk dan ia menghembuskan napas terakhirnya.
Sebelum pergi, Matteo meninggalkan pesan dan tabungan kecil yang selama ini ia sembunyikan. Ia menitipkannya pada istrinya, untuk suatu hari diberikan kepada Aruleo.
Tiga hari sebelum waktu Aruleo habis, ia pulang dengan senyum kecil. Ia menghitung uangnya, masih kurang. Ibu tirinya lalu menyerahkan pesan dan simpanan Matteo. Aruleo menangis, ia sadar, ayahnya mencintainya sepenuh hati.
Ibunya berkata, itu pesan terakhir Matteo, jangan berhenti di tengah jalan. Adik tiri bungsunya memecahkan celengan di depan Aruleo, menyerahkan semua tabungannya, hanya koin, tapi penuh ketulusan. Sang ibu pun memberikan seluruh hasil jerih payahnya, meski tahu mereka akan kekurangan untuk waktu yang lama.
Akhirnya, uang itu cukup. Cukup untuk sebuah cincin paling sederhana. Aruleo memeluk keluarganya, lalu bergegas ke toko perhiasan, ia memilih cincin termurah, membayarnya dengan koin demi koin, penjual pun memahami.
Malam itu, pukul sebelas malam, Aruleo mendatangi tempat Gracia biasa pulang kerja. Dari kejauhan, ia melihat Gracia tampak anggun. Ia mendekat, berbincang ringan, lalu mengajak berjalan bersama.
Tiba-tiba, sebuah suara pria memanggil nama Gracia, seorang lelaki datang dan berdiri di sisinya, mereka nampaknya telah lama bermesra bersama, ia suami Gracia.
Aruleo terpaku, dunia runtuh dalam satu tarikan napas.
Dengan sisa kekuatan, ia tersenyum. Ia membiarkan mereka berjalan di depan. Ia memilih berada di belakang, menjaga jarak yang sopan, ia terisak dan mencoba agar isaknya tak mengeluarkan suara.
Di tengah langkahnya, Aruleo membuka telapak tangan, cincin yang baru dibelinya ia buang ke selokan, jatuh perlahan ke saluran air di tepi jalan, bayangan Matteo seolah melintas di atasnya, pengingat penyesalan Matteo karena lebih memilih cinta ketimbang hidup sang ayah dan dirinya.
Aruleo terus berjalan, tertinggal di belakang orang yang ia cintai, membawa tubuh yang melemah dan kematian yang pasti tiba esok, dan Aruleo pun tak pernah sempat menyatakan cinta pada Gracia, karena wanita yang berjalan di depannya telah bersuami.