Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Nir Asa
11
Suka
11,392
Dibaca

"Bang, aku berangkat dulu ya. Jangan lupa matiin kompor." Tangan Sarah menggamit tangan suaminya. Kedua anaknya sudah terlebih dahulu menghambur menuju mobil dimana sepupunya menunggu.

Di depan pagar, suara klakson mobil berbunyi dua kali. Budi, adik iparnya, yang sudah siap dengan bagasi penuh tas.

"Hati-hati di jalan. Nanti kalau urusan selesai Abang nyusul," jawab Aris pelan, memaksakan segaris senyum yang terasa kaku di wajahnya yang kuyu. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa urusan yang dimaksud olehnya adalah ketiadaan urusan.

Anak-anaknya bersorak, berebut masuk ke mobil paman mereka, tidak menyadari mendung yang menggelayut di mata ayahnya.

Sat mobil itu menjauh, hening langsung menyergap. Tak ada celoteh anak-anaknya. Tak ada sapaan istrinya.

Cahaya remang ruang tamu menyeret pikirannya menerawang.

Lima tahun ia tertahan oleh tembok tak kasatmata bernama pandemi. Covid-19 bukan hanya mengunci pintu-pintu perbatasan, tapi juga meruntuhkan bisnis bengkel kecil yang ia rintis dengan darah dan air mata di perantauan. Tabungannya ludes untuk membayar sewa ruko yang sepi, lalu untuk biaya sekolah anak-anak, dan puncaknya untuk menyambung hidup saat ia menjadi pengangguran yang terlunta-lunta. Setiap kali ia ingin pulang, rasa malu dan dompet yang kosong menahannya. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak layak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sebagai seorang pecundang.

Aris bersandar pada dinding di sebelah pintu, membiarkan punggungnya merosot hingga ia terduduk di lantai yang dingin. Harapan "fajar yang baru" yang ia bayangkan sebelumnya hanyalah ilusi. Kenyataannya, ia menjalani kehidupan dengan sisa-sisa harga diri yang hancur.

Malam semakin larut, pikirannya semakin jauh menerawang. Bau kayu bakar dari dapur ibunya kembali menyengat indra penciumannya. Aroma itu, aroma yang sama saat ia masih berusia tujuh tahun dan menunggu ayahnya pulang, tiba-tiba terasa seperti sembilu yang menyayat dada.

Tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun di perantauan runtuh seketika.

Aris mulai terisak. Awalnya hanya getaran halus di bahunya, namun bayangan-bayangan masa kecil yang membahagiakan mulai berputar seperti film tua di kepalanya. Saat ia berlari di pematang sawah tanpa alas kaki bersama kawan-kawannya, saat ia tertidur di pangkuan neneknya sambil didongengkan tentang kancil, dan saat dunia terasa begitu aman karena ia belum tahu betapa kejamnya hidup.

"Ibuuu..." bisiknya parau.

Suaranya pecah. Isak tangis yang tertahan selama lima tahun itu meledak. Aris menangis sesenggukan, sebuah tangisan yang bukan lagi milik seorang pria dewasa, melainkan tangisan bocah kecil yang ketakutan karena kehilangan arah. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya berguncang-guncang, dan dadanya terasa sesak.

Ia merindukan masa-masa itu. Masa di mana masalah terbesarnya hanyalah layangan yang putus atau PR matematika yang sulit. Bukan hutang, bukan kegagalan usaha, dan bukan rasa hampa yang membunuh perlahan.

Ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lutut. Air matanya menderas, membasahi kain celananya yang sudah kusam. Aris merasa benar-benar hancur. Nostalgia itu, yang seharusnya menjadi obat, justru menjadi pengingat betapa jauh ia telah jatuh dari kebahagiaan yang pernah ia miliki.

Asanya mulai hilang. Ia tidak melihat jalan keluar. Ia hanya ingin tetap di dalam lamunannya, dalam mimpi di tidurnya yang indah, yang tidak perlu lagi memikirkan hari esok.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Tanpamu Duniaku Abu-Abu
winda aprillia
Flash
Nir Asa
awod
Novel
Sekukuh Karang Seluas Samudera
Redy Kuswanto
Novel
Cinta Dalam Mimpi
decellyne beatricia
Novel
Pejuang Konten
Marlina Lin
Novel
Sang Multitalenta : Tahun Pertama
M. Ferdiansyah
Novel
ADENA
Canza Kirana Salsabila
Novel
Bronze
Ini aku, bukan dia
Kartika kurniati
Novel
Bronze
Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)
Indra Afriza Arsad
Skrip Film
DIANA SANG BIDUAN
M Fadly Hasibuan
Skrip Film
Endless
Sanhyua
Flash
MATI
Mar Kumbang
Cerpen
Bronze
Pria di ujung Senja
Moycha Zia
Novel
Happy
Raden Maesaroh
Novel
Rumah Kedua Sari
Muhammad Sapril
Rekomendasi
Flash
Nir Asa
awod
Novel
Juned dan Mitha
awod
Cerpen
Kupu-Kupu Dalam Gua
awod
Novel
Love Story of El Panthera
awod
Cerpen
Menenun Iblis
awod
Flash
Hihang Howeng
awod
Cerpen
Kematian Kuda Sang Panglima
awod
Cerpen
Modifikasi Takdir
awod
Cerpen
Dialog Mimpi Handaka
awod
Flash
Fearless
awod
Flash
Aku Tidak Berniat Kembali ke Masa Lalu
awod
Cerpen
Penyerap Trauma
awod
Cerpen
Emo Roastery
awod
Cerpen
Interval Zone
awod
Flash
RINDU
awod