Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Bang, aku berangkat dulu ya. Jangan lupa matiin kompor." Tangan Sarah menggamit tangan suaminya. Kedua anaknya sudah terlebih dahulu menghambur menuju mobil dimana sepupunya menunggu.
Di depan pagar, suara klakson mobil berbunyi dua kali. Budi, adik iparnya, yang sudah siap dengan bagasi penuh tas.
"Hati-hati di jalan. Nanti kalau urusan selesai Abang nyusul," jawab Aris pelan, memaksakan segaris senyum yang terasa kaku di wajahnya yang kuyu. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa urusan yang dimaksud olehnya adalah ketiadaan urusan.
Anak-anaknya bersorak, berebut masuk ke mobil paman mereka, tidak menyadari mendung yang menggelayut di mata ayahnya.
Sat mobil itu menjauh, hening langsung menyergap. Tak ada celoteh anak-anaknya. Tak ada sapaan istrinya.
Cahaya remang ruang tamu menyeret pikirannya menerawang.
Lima tahun ia tertahan oleh tembok tak kasatmata bernama pandemi. Covid-19 bukan hanya mengunci pintu-pintu perbatasan, tapi juga meruntuhkan bisnis bengkel kecil yang ia rintis dengan darah dan air mata di perantauan. Tabungannya ludes untuk membayar sewa ruko yang sepi, lalu untuk biaya sekolah anak-anak, dan puncaknya untuk menyambung hidup saat ia menjadi pengangguran yang terlunta-lunta. Setiap kali ia ingin pulang, rasa malu dan dompet yang kosong menahannya. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak layak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sebagai seorang pecundang.
Aris bersandar pada dinding di sebelah pintu, membiarkan punggungnya merosot hingga ia terduduk di lantai yang dingin. Harapan "fajar yang baru" yang ia bayangkan sebelumnya hanyalah ilusi. Kenyataannya, ia menjalani kehidupan dengan sisa-sisa harga diri yang hancur.
Malam semakin larut, pikirannya semakin jauh menerawang. Bau kayu bakar dari dapur ibunya kembali menyengat indra penciumannya. Aroma itu, aroma yang sama saat ia masih berusia tujuh tahun dan menunggu ayahnya pulang, tiba-tiba terasa seperti sembilu yang menyayat dada.
Tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun di perantauan runtuh seketika.
Aris mulai terisak. Awalnya hanya getaran halus di bahunya, namun bayangan-bayangan masa kecil yang membahagiakan mulai berputar seperti film tua di kepalanya. Saat ia berlari di pematang sawah tanpa alas kaki bersama kawan-kawannya, saat ia tertidur di pangkuan neneknya sambil didongengkan tentang kancil, dan saat dunia terasa begitu aman karena ia belum tahu betapa kejamnya hidup.
"Ibuuu..." bisiknya parau.
Suaranya pecah. Isak tangis yang tertahan selama lima tahun itu meledak. Aris menangis sesenggukan, sebuah tangisan yang bukan lagi milik seorang pria dewasa, melainkan tangisan bocah kecil yang ketakutan karena kehilangan arah. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya berguncang-guncang, dan dadanya terasa sesak.
Ia merindukan masa-masa itu. Masa di mana masalah terbesarnya hanyalah layangan yang putus atau PR matematika yang sulit. Bukan hutang, bukan kegagalan usaha, dan bukan rasa hampa yang membunuh perlahan.
Ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lutut. Air matanya menderas, membasahi kain celananya yang sudah kusam. Aris merasa benar-benar hancur. Nostalgia itu, yang seharusnya menjadi obat, justru menjadi pengingat betapa jauh ia telah jatuh dari kebahagiaan yang pernah ia miliki.
Asanya mulai hilang. Ia tidak melihat jalan keluar. Ia hanya ingin tetap di dalam lamunannya, dalam mimpi di tidurnya yang indah, yang tidak perlu lagi memikirkan hari esok.