Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Uang Berbicara
1
Suka
17
Dibaca

Siang itu, hari minggu tidaklah cerah tidak pula mendung, pun orang-orang. Hati mereka bercampur aduk setelah protes mereka pada yang berwajib terus diulur-ulur.

‎Mereka memprotes adanya perusahaan yang mencemari tempat tinggal mereka, yang berada di kaki gunung Slamet. Limbah dari kertas yang mengotori sungai membuat penyakit, bahkan kematian, kemarahan warga semakin memuncak ketika seorang bayi lahir dalam keadaan sudah kembali menghadap kuasa. Diketahui si ibu bayi saat kehamilannya sering mengeluhkan perut yang ngilu, orang tuanya yang tinggal di luar kota sudah memperingatkan supaya si ibu tidak mandi cuci kakus di sungai, tapi ibu tersebut tidak punya pilihan lain karena air keran keruh dan tidak ada sungai yang lebih dekat.

‎Ada lagi seorang lansia yang mengeluh karena cucu, anak, serta mertuanya pergi disebabkan kualitas sanitasi yang buruk dan mereka tak mau mengambil resiko menggunakan air pegunungan, si nenek sudah diajak tapi dia menolak dan yakin dia sudah punya imunitas karena anggapan salah sering mandi cuci kakus dengan air yang tak sehat, tapi meskipun merasa kesehatan dirinya baik-baik saja, ia tetap memprotes karena orang-orang yang ia cintai pergi.

‎Kepala desa pun berpidato di tengah-tengah masa yang sudah naik pitam, ia amat mendukung protes dari warganya, dan sesuai perjanjian ia pun menemui perwakilan perusahaan, di atas panggung ia menyatakan setiap per kepala keluarga diberi kompensasi 200 juta, dan semuanya semuanya setuju meskipun ada seorang pemuda yang memprotesnya, ia pikir uang tersebut memang besar, tapi itu bukanlah harga yang sepadan yang selama ini didapat warga desa. Ia pun kalau suara dan akhirnya mengalah. Tapi di kesempatan lain ia terus memprotes keputusan kepala desa dan pabrik kertas di beberapa kesempatan bahkan sampai dituduh memprovokasi warga sehingga terjadi keributan walau skalanya kecil.

‎***

‎Dua minggu kemudian ibu si pemuda, Setyorini, mendapat pesan WhatsApp, Doni, pemuda tersebut pamit mendadak karena mendapat panggilan kerja yang sudah lama ia dambakan, ia pun menyatakan bahwa ia memakai nomor baru karena pemuda tersebut percaya klenik dan yakin nomor lamanya membawa sial. Dalam pesan tersebut Doni pun meminta untuk tidak menghubunginya kecuali ia yang menghubungi, karena di tempat kerja baru hampir tidak ada waktu.

‎Tanpa kecurigaan atau memeriksakan nomor yang mengaku sebagai anaknya tersebut karena gagap teknologi, Setyorini pun membalas chat tersebut dan mendoakan keselamatan Doni, doanya cukup panjang, doa khas seorang ibu kepada anaknya.

‎Lima preman yang disewa perusahaan pun tertawa membaca doa tulus dari Setyorini, mereka kemudian melempar tubuh Doni dan berlalu pergi, hanya ada dua saksi, seorang petani dan putrinya yang sudah tutup mulut karena baru saja diberi cek masing-masing senilai delapan juta rupiah. Preman-preman tersebut pun berlari pergi, si petani dan putrinya tidak mempedulikan sama sekali, dimana dalam pikiran si petani sudah terbayang untuk membeli keperluan tani yang dibutuhkan demi bertahan hidup sehari-hari, pun putrinya yang sudah bulat untuk membayarkan berbagai biaya sekolah yang sudah lama menunggak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
16 Km
Risna Pramesti
Novel
Bronze
Rembulan di Celah Satu Jam
I am Queen"tii
Novel
Broken Heart
Nurlia Noviyensy
Flash
Titip Rindu untuk Eyang
JUST HANA
Flash
Bronze
BERBISIK UNTUK BERNAFAS
Yadani Febi
Flash
Uang Berbicara
Rere Valencia
Cerpen
Pohon Sejodoh
renny yulia
Novel
Andai
Iyut Raihana
Novel
Canvas Delia
Puspita Dewi
Novel
Bronze
RUMAH ANDINIE
YOHS SUWONDO
Novel
A Part Of Earth
iam_light.blue
Novel
Melody Perjuangan
Ineke Setiyaningsih
Novel
Memori Shania
Suci Adinata
Novel
Di Antara Kelahiran dan Kematianku, Ada Kamu sebagai Hidup
Rafael Yanuar
Novel
Akhir Perjuanganku
Momlulu
Rekomendasi
Flash
Uang Berbicara
Rere Valencia
Flash
Lebur
Rere Valencia
Flash
Demi Pohon Lemon
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Dinding
Rere Valencia
Flash
Balada Sedih
Rere Valencia
Flash
Kisah Setelah Revolusi Pertama Yang Gagal
Rere Valencia
Flash
Roberto
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Pandanglah Langit Di Atas Sana, Maru!
Rere Valencia
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Flash
Bronze
Judulnya Nanti, Ya!
Rere Valencia
Novel
Berharga
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Saksi Sekejap
Rere Valencia
Skrip Film
Remuk
Rere Valencia
Skrip Film
Buih Pikiran
Rere Valencia
Flash
Matahari
Rere Valencia