Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Siang itu, hari minggu tidaklah cerah tidak pula mendung, pun orang-orang. Hati mereka bercampur aduk setelah protes mereka pada yang berwajib terus diulur-ulur.
Mereka memprotes adanya perusahaan yang mencemari tempat tinggal mereka, yang berada di kaki gunung Slamet. Limbah dari kertas yang mengotori sungai membuat penyakit, bahkan kematian, kemarahan warga semakin memuncak ketika seorang bayi lahir dalam keadaan sudah kembali menghadap kuasa. Diketahui si ibu bayi saat kehamilannya sering mengeluhkan perut yang ngilu, orang tuanya yang tinggal di luar kota sudah memperingatkan supaya si ibu tidak mandi cuci kakus di sungai, tapi ibu tersebut tidak punya pilihan lain karena air keran keruh dan tidak ada sungai yang lebih dekat.
Ada lagi seorang lansia yang mengeluh karena cucu, anak, serta mertuanya pergi disebabkan kualitas sanitasi yang buruk dan mereka tak mau mengambil resiko menggunakan air pegunungan, si nenek sudah diajak tapi dia menolak dan yakin dia sudah punya imunitas karena anggapan salah sering mandi cuci kakus dengan air yang tak sehat, tapi meskipun merasa kesehatan dirinya baik-baik saja, ia tetap memprotes karena orang-orang yang ia cintai pergi.
Kepala desa pun berpidato di tengah-tengah masa yang sudah naik pitam, ia amat mendukung protes dari warganya, dan sesuai perjanjian ia pun menemui perwakilan perusahaan, di atas panggung ia menyatakan setiap per kepala keluarga diberi kompensasi 200 juta, dan semuanya semuanya setuju meskipun ada seorang pemuda yang memprotesnya, ia pikir uang tersebut memang besar, tapi itu bukanlah harga yang sepadan yang selama ini didapat warga desa. Ia pun kalau suara dan akhirnya mengalah. Tapi di kesempatan lain ia terus memprotes keputusan kepala desa dan pabrik kertas di beberapa kesempatan bahkan sampai dituduh memprovokasi warga sehingga terjadi keributan walau skalanya kecil.
***
Dua minggu kemudian ibu si pemuda, Setyorini, mendapat pesan WhatsApp, Doni, pemuda tersebut pamit mendadak karena mendapat panggilan kerja yang sudah lama ia dambakan, ia pun menyatakan bahwa ia memakai nomor baru karena pemuda tersebut percaya klenik dan yakin nomor lamanya membawa sial. Dalam pesan tersebut Doni pun meminta untuk tidak menghubunginya kecuali ia yang menghubungi, karena di tempat kerja baru hampir tidak ada waktu.
Tanpa kecurigaan atau memeriksakan nomor yang mengaku sebagai anaknya tersebut karena gagap teknologi, Setyorini pun membalas chat tersebut dan mendoakan keselamatan Doni, doanya cukup panjang, doa khas seorang ibu kepada anaknya.
Lima preman yang disewa perusahaan pun tertawa membaca doa tulus dari Setyorini, mereka kemudian melempar tubuh Doni dan berlalu pergi, hanya ada dua saksi, seorang petani dan putrinya yang sudah tutup mulut karena baru saja diberi cek masing-masing senilai delapan juta rupiah. Preman-preman tersebut pun berlari pergi, si petani dan putrinya tidak mempedulikan sama sekali, dimana dalam pikiran si petani sudah terbayang untuk membeli keperluan tani yang dibutuhkan demi bertahan hidup sehari-hari, pun putrinya yang sudah bulat untuk membayarkan berbagai biaya sekolah yang sudah lama menunggak.