Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Alya berjalan keluar dari gerbang sekolah, seperti biasa ia yang selama menjalani pendidikan di SMA di daerah Jakarta Barat tersebut berjalan sendiri tanpa siapapun. Ia sudah terbiasa menyendiri, pun di rumah sang ibu sama sekali tidak memperhatikan.
Tapi kesendirian itu kini sedikit menepi, sudah tiga minggu ini ia berkomunikasi dengan seorang kenalan, lawan jenis bernama Agung, yang bagi Alya menggambarkan keagungan sifat dan sikapnya karena sudi berteman dengan dirinya yang bagi Alya sendiri pun memang pantas tak memiliki teman.
Malam itu dengan dandanan terbaiknya Alya jalan jalan keliling kota diantar pujaannya tersebut. Sepanjang jalan ia memeluk erat punggung Agung, menyandarkan kepalanya ke punggungnya, dan mengobrol soal asmara serta rencana masa depan.
Agung memang nampak kikuk, itu sangat jelas terlihat oleh Alya, tapi Alya tak ambil pusing, apalagi suasana puncak bukit yang hanya diterangi warung remang-remang makin membuat suasana romantis. Alya hanya mengangguk saat Agung menceritakan semua tentang dirinya, sesekali ia tertawa kecil supaya Agung tak saat hati ketika remaja tampan tersebut mencoba melucu.
Malam itu begitu indah, sudah hampir jam 12 malam, mereka masih jalan berdua, hingga akhirnya Alya terbenam kantuk dan terlelap dalam boncengan, kesadaran Alya yang masih tersisa berubah menjadi ketenangan luar biasa, ketika Agung dengan sebelah tangannya menggenggam pelukan Alya supaya Alya tidak jatuh, pun Agung memelankan laju kendaraannya setelah sebelumnya ia memacu kendaraannya dengan kecepatan standar.
***
Alya terbangun dengan rasa bahagia, ia sempat bermimpi diselimuti dan mendengar suara ibunya menyambut Agung, meski tak akrab dengan sang ibu yang sering keluar negeri, keakraban Agung dengan ibunya membuat tenang, seolah restu antara gadis yatim tersebut dan Agung sudah inkrah, karena ia sadar Agung adalah seseorang yang membuat sang ibu untuk pertama kalinya memperhatikan sebab selama ini ibunya nampak cuek.
Alya makin bahagia ketika tadi ia samar samar mendengar keduanya memanggil namanya dengan imbuhan "sayang" di belakangnya, sesuatu yang tak pernah ia dapat sebelumnya.
Dan saat membuka mata ia terkejut, Alya tak berada di kamarnya, tetapi kamar di sebuah rumah tua, dan saat itulah terdengar suara beberapa orang di luar termasuk Agung dan sang ibu. Mereka membicarakan transaksi ginjal yang sukses, terdengar pula pria bersuara berat yang memuji Agung dan Lina, ibu Alya atas keberhasilan mereka membawa mangsa.
Alya ingin menjerit tapi tidak bisa, kekecewaannya sudah melampaui rasa takut pergi dari dunia yang biasanya hampir terjadi pada korban penjualan ginjal, ia kecewa, Agung, remaja seumuran dirinya yang dianggapnya pemutus rantai kesepian justru memanfaatkan dirinya, pun ia kecewa dengan sang ibu, pikiran sesaatnya tadi tentang akhirnya akrab kembali dengan sang ibu apalagi pria yang ia cintai adalah penyebabnya yang membuat dirinya mengawang tinggi kini justru secara psikologis berbalik menjadi serangan mental yang seolah menjatuhkannya dari tebing curam.
Alya hanya bisa sesenggukan, dan menunggu nasibnya yang ia percaya akan seperti apa.