Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Suara langkah kaki itu mengisi keheningan yang absolut. Sepatu bot kulit sang petugas beradu dengan lantai pualam hitam yang memantulkan rasi bintang yang belum lahir. Ia berjalan di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, menembus kabut tipis yang disebut sebagai "Sisa-sisa Waktu".
Ia berhenti di depan sebuah rak yang berlabel Eon ke-9, Galaksi Bimasakti.
Jemarinya yang panjang dan pucat menarik sebuah buku tipis bersampul kain kasar yang terasa hangat. Judulnya sederhana: Salma. Sebuah kisah tentang keberanian.
Seratus tujuh tahun yang lalu, petugas ini datang ke tempat ini. Sebuah dimensi di antara detak jantung semesta yang tidak pernah ia bayangkan ada. Sebuah tempat di mana entitas-entitas berkumpul untuk mengatur jalinan kehidupan. Dari sekian banyak ruangan. Ruang Penenun Takdir yang bising atau Aula Penghakiman yang kaku. Dia selalu memilih Ruang Arsiparis Semesta. Di sinilah kisah hidup berbentuk buku berjejer rapi, menunggu untuk dimengerti.
"Sudah tidak terhitung berapa banyak kisah yang kubaca," gumamnya pelan. Suaranya seperti gesekan kertas tua.
Ia membuka halaman tengah buku Salma. Seketika, ruangan itu dipenuhi aroma hujan di atas aspal panas dan samar-samar suara tawa di sebuah kedai yang ramai. Tinta emas di halaman itu mulai berpendar, menceritakan bab di mana sang tokoh berhenti menjadi "rumah" bagi orang lain dan mulai membangun dinding yang hangat untuk jiwanya sendiri.
"Ah," petugas itu tersenyum tipis. "Dia akhirnya mengerti bahwa manusia tidak pernah 'selesai'. Dia terus menulis meski raganya menua."
"Kau membaca lagi?" sebuah suara berat menggema dari balik rak. Itu adalah Pengawas Kebisingan, sosok yang memastikan tak ada jiwa yang terbangun dari tidurnya di dalam buku.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana cerita ini bertransisi," jawab sang petugas. "Lihatlah, Salma tidak mencari 'Penulis' untuk menyalahkan takdirnya. Dia justru mulai membaca hidupnya sendiri. Dia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk selamat dari cerita yang tragis adalah dengan menjadi pembaca yang bijak bagi luka-lukanya."
Petugas itu baru saja akan menutup buku itu ketika sudut matanya menangkap sesuatu yang kontras di rak bawah. Terselip sebuah buku dengan sampul perak yang terlalu bersih. Tanpa debu, tanpa bekas jemari. Judulnya: Anonim 0-X.
Ia berjongkok dan membukanya. Putih. Kosong.
"Bukan rusak," bisik sang Petugas, jemarinya rindu akan tekstur emosi yang biasanya ada pada kertas. "Ini adalah jiwa yang terlalu takut untuk merasa. Ia melewati seabad di dunia namun tidak pernah membiarkan penderitaan menyentuhnya, juga tidak membiarkan kebahagiaan menetap. Ia hidup sebagai penonton yang menjaga jarak dari hidupnya sendiri."
Pengawas Kebisingan mendekat, cahayanya yang redup menyinari halaman hampa itu. "Tanpa penderitaan, tidak ada tinta. Tanpa cinta, tidak ada warna. Sebuah buku tanpa tulisan adalah ruang kosong di perpustakaan semesta."
Petugas itu kembali menatap buku Salma yang kusam dan penuh goresan. Namun, buku itu seolah berdenyut hidup dengan segala kekacauan emosi di dalamnya. Salma berani menuliskan luka-lukanya.
Sang petugas mengembalikan kedua buku itu ke tempatnya masing-masing. Ia tahu, di gedung ini buku yang paling dihargai bukanlah yang paling rapi melainkan yang paling banyak memiliki bekas "pertempuran" dengan kehidupan.
"Jadi, jika hidup adalah cerita, siapa yang membacanya?" tanya Sang Pengawas saat petugas itu hendak melangkah pergi.
Petugas itu berhenti sejenak, menoleh ke arah barisan rak yang tak berujung. "Semesta. Semesta membaca dirinya sendiri melalui mata mereka yang berani merasakan. Dan setiap pembaca, pada akhirnya akan pulang untuk membaca bukunya sendiri."
Langkah kakinya kembali terdengar menjauh menuju keheningan meninggalkan miliaran cerita yang terus berdenyut di dalam gelap.