Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
seorang pemuda duduk termenung pelataran masjid dengan bunga Bakung menghiasi pinggiran pot disetiap masjid yang ada. Esok namanya.
pemuda yang mengenakan baju lusuh dan sendal jepit yang alasnya nampak gundul dimakan waktu. Ia selalu menampakan senyum ceria setiap sehabis pulang dari berjualan risol, tidak ia hiraukan rasa lelah yang menyerang seluruh tubuhnya saat harus berjalan kaki menjajahkan makanan dengan harga sepuluh ribu rupiah/porsi.
Bagi Esok, tidak ada kata malu berjualan menjajahkan makanan ringan tersebut, untuk apa malu toh yang ia jual ini halal dan lebih penting mencari nafkah untuk mengisi perut dibandingkan ego semata, dua adiknya masih harus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya, asalkan ia bisa tamat SMA saja sudah cukup. Kedua adiknya lebih penting, bagi dirinya saat ini.
Dengan berbekalkan air satu liter dari botol bekas, ia menenteng bakul jualannya, berharap semoga hari ini laris manis.
"Risol mayo..." Teriaknya melawan kebisingan suara klakson yang bersahutan melawan kemacetan.
"Pak.. risol mayonya pak.."
Panas yang menyengat dari sang surya tak ayal semakin membakar kulit pemuda itu.
Sebuah mobil fortuner berwarna hitam menepi dipinggir seorang pemuda tampan berusia tujuh belas tahun, turun dari mobil tersebut.
"Esok?" Tanya pemuda itu, seragam yang diseterika dengan rapi, aroma parfum mahal menguar dari tubuhnya, aroma citrus khas lime dengan sedikit kayu manis memanjakan hidung esok.
"Oh, lail. Kamu apakabar lail?" Esok segera menjabat tangan lail dan lail tersenyum, "Esok kamu berjualan risol?" Tanya lail, ia melempar senyum kecil.
"Iya lail, kamu tidak terlambat sekolah?" Ujar Esok, lail hanya melempar senyum kecil. " Aman.. aku bantu kamu jualan yah Esok atah aku beli saja semuanya biar aku bagikan ke sekolah." Ujar Lail dengan penuh semangat dengan semangat mengebu Esok menganggguk.
"Maaf Esok, aku hanya bisa bantu segini..." Kata Lail memberikan beberapa lembar uanh merah lebih daripada cukup. "Makasih Lail."
Lail beranjak pergi meninggalkan Esok dengan mobil fortunernya, tanpa disadari dari kejauhan Esok melihat Risol buatannya dibuang begitu saja dalam bak sampah oleh Lail dengan airmata berlinang Esok pergi dari masjid tanpa sepatah kata pun.
Esok menduga, Lail pasti malu memiliki teman lusuh sepertinya.
Lima tahun telah berlalu Esok keterima kerja disebuah kedai makan yang ditekunin bersama adiknya hasil menabung dari berjualan risol selama bertahun-tahun.
"Lail.."teriak Esok saat melihat Lail mengais sampah dipinggir jalan.
"Esok, jangan lihat aku.. aku malu" Ujar Lail
Tidak ada seruan, hanya ada hening cukup panjang, "Demi Tuhan, berkat kau kami berjaya, mari mampir ke rumah ku."
"Kau tidak malu berteman denganku? Dengan tampangnya tak lagi sama seperti dulu bahkan mengais sampah demi anak istri, Lail habis tertipu ratusan juta oleh saat bermain koridor di Kalimantan. Uangnya dibawa lari dan sedang diusut saat ini.
"Maafkan aku Esok, Maafkan Aku.."
Esok, mengerti yang dimaksud Lail, "Aku memaafkan semua yang terjadi sama aku Lail, sedikit pun aku gaada dendam."
Lail kini sadar roda kehidupan bisa berputar begitu saja dengan cepatnya.