Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lift berhenti di lantai yang tidak ada di panel. Lampu meredup, hanya menampakkan bayangan tipis di sudut-sudut kabin.
Perempuan bergaun merah berdiri di sampingku. Gerak napasnya teratur, tetapi tubuhnya tidak mengikuti ritme tersebut.
“Aneh,” ucapnya. Suaranya bergema lirih. “Kenapa berhenti di sini? Ini lantai berapa?”
Aku melirik ke panel. Angka-angka terhapus, lingkaran cahayanya menghilang. Aku melambaikan tangan ke CCTV. Pantulan lampu kecil di lensanya tidak menyala.
“Coba tekan tombol darurat,” pintaku sambil tetap berusaha tenang.
Ia menyunggingkan bibir, tetapi bukan melambungkan senyum. “Sudah kutekan. Apakah mungkin ini lift yang salah?”
Pertanyannya membuat pikiranku bercabang. “Salah?”
“Kenapa kamu masuk lift ini?” tanyanya.
Aku makin bingung dengan pertanyaan yang ia ajukan. “Aku hanya mau turun.”
Ia mendekat, matanya menatap lurus. “Turun ke mana? Apa kamu tahu ini lantai berapa?”
Lampu berkedip, lalu mati. Gelap total.
Saat menyala kembali, aku tinggal seorang diri. Pintu terbuka di lantai tanpa nomor. Lorong memanjang dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
Langkah kaki mendekat. Ramai, disertai gelak tawa.
Perempuan bergaun merah itu melintas di depanku. Ia menoleh sepersekian detik. Namun, tak ada tanda bahwa kami pernah terjebak di lift yang macet beberapa menit yang lalu.
Aku diam terpaku. Derap selesai, sunyi kian menjalar.
Gelap menyergap mataku. Aku tersungkur ke lantai, dan tak ingat apa pun setelahnya.