Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Siang begitu terik, Desa Cangkrik Kidul kala itu sunyi, ini adalah tahun 80an awal, dimana jalan-jalan masih begitu asri, apalagi pedesaan seperti Cangkrik Kidul yang berada di daerah Banyuwangi Tersebut, tempat yang pernah menjadi saksi kelam di masa lalu, akan berdirinya ideologi yang amat dibenci. Kresno menarik gerobaknya secara perlahan, ia amat lelah, gerobak itu terasa berat, ya berat, karena ada seseorang di dalamnya, bahkan sekarat.
Di dalam gerobak tersebut terdapat Saripin, seseorang yang dulu mengantar keluarga besar Kresno ke tempat yang lebih damai, dengan tangannya sendiri, di era pertengahan 60an, dimana pendukung kiri diburu dan dihabisi dimanapun tanpa terkecuali. Saripin yang sudah hampir sakaratul maut sejak tadi hanya terdengar suara nafasnya yang berat, tanpa rintihan, tanpa apapun, hanya suara dengkurannya, ciri-ciri seseorang yang hendak selesai.
Kresno terus menarik gerobak tersebut, orang-orang berlalu tanpa memperdulikan atau sekedar bertanya, tak ada satupun yang berniat membantu Kresno yang lelahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dalam pikiran Kresno terbayang pesan ayahnya, bahwa jika putranya hendak membalas dendam, atas apapun yang membuat Kresno merasa itu harus diselesaikan dengan penghabisan, maka Kresno wajib mengubur diri bersama seseorang yang membuat dendam tersebut bernyala.
Akhirnya Kresno sampai di tujuan, orang-orang desa masih mengenalnya, tetapi individualitas lebih besar ketimbang sapaan untuk sekedar menanyakan kabar. Saat menggali tanah untuk mengubur dirinya dan Saripin ia kembali teringat ucapan sang ayah, bahwa satu syarat agar ritual yang hendak dijalani Kresno tidak menimbulkan bala, maka lokasi untuk mengubur dirinya dan yang menimbulkan dendam haruslah tempat dimana dirinya tumbuh besar, tempat yang paling ia kenang dan membekas di ingatannya, tempat yang paling membuat ia bahagia dan bersedih, tempat yang bagi dirinya adalah segala-galanya, dimana tidak ada tempat lain sebaik tempat tersebut, tempat tersebut adalah halaman belakang rumah Kresno, dimana dulu ketika ia kecil ia mengalami berbagai macam hal disana.
Kresno pun menguburkan dirinya sendiri bersama Saripin, dengan sisa-sisa tenaganya karena dirinya sudah sesak oleh tanah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, ia terus berusaha mengubur dirinya dan Saripin, tangannya berusaha mengubur dan mengubur dari dalam, sampai langit memperlihatkan cakrawala yang luas, dimana orang-orang masih sibuk dengan urusan individualis masing-masing, petani membajak sawah, ibu-ibu mengobrol berkerumun, anak-anak kecil yang bermain, serta beberapa murid yang baru pulang sekolah.
Ya, hari itu Kresno menguburkan dendamnya bersama dirinya sendiri, tanpa ada satupun yang peduli.