Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bukan rahasia lagi kalau kursi legislatif itu harganya selangit. Dari ratusan juta sampai miliaran rupiah ludes cuma buat pasang baliho dan spanduk atau bagi-bagi sembako yang ada ‘amplop’nya.
Makanya, kalau ada caleg yang gagal, psikiater langsung panen pasien. Rumah Sakit Jiwa mendadak punya daftar tunggu yang lebih panjang dari antrean BLT.
Namun, di tengah kepungan para "Sultan" politik yang uangnya tak berseri, muncul sosok Sahroni. Caleg DPRD dari Partai Kerukunan Bangsa (PKB) ini nekat maju dengan modal yang minim, atau istilahnya: Modal Dengkul.
Siang itu, matahari di Jakarta Utara lagi 'judes-judes'nya. Sahroni sedang melakukan personal branding di dapilnya, Kampung Rawa Bebek. Sebuah wilayah yang kalau hujan sedikit beceknya minta ampun, dan kalau panas debunya bisa bikin orang mendadak religius karena saking seringnya mengucap istighfar.
Bersama tim pemenangannya yang cuma terdiri dari tiga orang pemuda lokal bertampang cekak alias pas-pasan, dia berusaha menyadarkan warga.
“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu! Kalau kita pilih pemimpin cuma karna amplopnya, itu namanya kita lagi milih susah buat lima tahun ke depan!” seru Sahroni lantang, di aula kantor RW yang plafonnya sudah melandai seperti mau jebol.
Dia tidak membagikan uang. Sebagai ganti, timnya membagikan serbet dapur. Katanya, itu simbol bersih-bersih dari korupsi.
Warga menerima serbet itu dengan wajah datar. Ada yang langsung dipakai buat mengelap ingus anaknya, ada yang gunakan untuk mengelap keringat, bahkan ada yang sudah merencanakan mau dipakai untuk menyumpal mulut tetangganya yang nyinyir dan senang ghibah.
“Duit serangan fajar itu manis di mulut tapi bikin sakit perut pas nanti sudah jadi! Saya nggak mau banyak janji. Kalau terlalu obral janji, bisa gawat!” ungkap si caleg.
Meski pakai mic, suara Sahroni bersaing ketat dengan promosi ikonik tukang tahu bulat yang lagi lewat.
“Tahu bulat… digoreng dadakan… lima ratusan… gurih-gurih nyoiii!
“Gawat gimana, Bang Roni?!” tanya seorang pria yang duduk di barisan depan. Wajahnya sangar, tapi suaranya kecil melengking (kayak suara curut dikagetin).
Pria itu memakai celana panjang berwarna merah muda, dipadukan kemeja motif bunga mawar. Gaya busananya terasa kontras dengan aura wajahnya yang mencekam, bak malam Jum'at Kliwon.
Tapi, karena penampilan dan suara yang tidak sinkron dengan wajahnya itulah, si pria jadi punya banyak fans, terutama ibu-ibu dan anak-anak.
“Bisa gagu. Bisu. Itu pernah terjadi sama caleg dari partai lain. Waktu dia kampanye, tiba-tiba suaranya nggak keluar! Pas dibawa ke dokter THT, ternyata tenggorokannya tersumbat janji kampanye 5 tahun lalu.”
“Bisa aje, Bang Roni!” celetuk warga lainnya, ngakak.
“Saya nyaleg dengan modal dengkul bapak-bapak, ibu-ibu! Tapi dengkul Saya ini nggak kopong." lanjut Sahroni sambil mengetuk-ngetuk lututnya.
"Maksudnya, modal saya cuma semangat dan ide-ide hasil pemikiran matang, untuk membantu mengatasi persoalan dan masalah warga disini dengan niat tulus, ikhlasl!” tandas Sahroni, lantang.
Tiba-tiba, seorang perempuan muda berdiri. Wajahnya terlihat resah, tangannya meremas serbet pembagian dari Sahroni sampai kucel, seakan pasrah jadi pelampiasan emosi.
“Bang Roni…! Katanya tadi mau urusin masalah warga?” suaranya bergetar.
“Betul, Mpok. Apa masalahnya? Jalanan berlubang? Atau air PAM macet?” tanya Sahroni, yang sudah siap dengan jawaban teknis hasil googling semalam.
“Bukan, Bang. Saya ada masalah sama suami. Dia mau cerai gara-gara saya hobi belanja online dan Tiktok-an, padahal saya belanja buat kebutuhan rumah juga. Abang kan calon wakil rakyat, bisa nggak wakilin saya buat nasehatin suami saya?”
Terdengar suara riuh diantara warga. Tak sedikit yang menertawainya
“Bang Roni ini mau jadi wakil rakyat, Mpok! Bukan konselor perkawinan!” celetuk seorang wanita STW berbadan tambun, sambil menjulurkan lidahnya, meledek.
Si wanita tampak percaya diri dengan kemeja skinny warna maroon. Kancing bajunya seolah berjuang all out, demi melindungi bagian sensitifnya agar tidak menjadi konsumsi publik. Sekilas badannya mengingatkan kita pada buras—lontong khas Makassar.
“Aya-aya wae!” Seorang kakek tertawa geli sampai gusinya yang ompong kelihatan semua, lalu kembali asyik mengemut keripik singkong balado kegemarannya.
“Buset dah, ini kampanye caleg apa acara curhat bareng Mamah Dedeh, sih?!” tanya bapak-bapak yang baru bangun karena ketiduran di pojokan aula.
Sahroni terdiam. Menghela nafasnya beberapa kali. Sejujurnya dia lebih siap jika ditanya soal APBD atau infrastruktur jalan, daripada konflik rumah tangga.
“Ya... nanti kita coba ngobrol, Mpok. Kita mediasi... eh, maksudnya kita ajak ngopi suaminya,” jawab Sahroni pasrah.
Akhirnya acara kampanye selesai. Satu persatu warga meninggalkan aula RW. Sepertinya kampanye Sahroni sukses. Banyak warga yang antusias pada ide dan programnya.
Saat Sahroni dan timnya hendak meninggalkan aula, seorang perempuan lansia mendekatinya.
“Maap Bang Roni, bisa tolong benerin genteng bocor?! Soalnye di rumah kagak ade orang laki,” katanya, pelan.
Sahroni menelan ludah. Wajahnya yang sok berwibawa langsung anjlok 50 persen. Dia melirik tim suksesnya, tapi mereka mendadak pura-pura sibuk menghitung sisa serbet, padahal cuma tinggal tiga lembar.
Namun dengan sigap, Sahroni memasang senyum lebar demi warga di dapilnya. Dalam hatinya dia menjerit "ya ampuuun, kok ngatasin masalah sampe benerin genteng bocor…? biarin deh asal dapet satu suara valid!”
“Siap, Nek! Mana tangganya?” Sahroni mengangguk mantap, meski hatinya meringis.
Sepuluh menit kemudian, warga Rawa Bebek disuguhi pemandangan langka: Ada pria gagah tampan berkemeja rapi dengan pin partai, lagi nangkring di atap rumah, membetulkan genteng yang melorot.
Diantara kerumunan warga, muncul sosok pria berwajah sangar dengan suara curut nan kemayu itu. Sambil melihat Sahroni di atas, dengan cemas dia memperingatkan.
“Awas hati-hati, Bang Roni! Ngeri iih! Daripada jatoh dari genteng, mending jatoh ke pelukan saya, ahaaay!”
Pak RW yang melihat si caleg, cuma bisa geleng kepala sambil berkelakar.
“Caleg jaman now, multi talenta ya?! Bisa jadi konselor perkawinan, bisa jadi kuli juga!”
“Ini yang namanya totalitas, Pak!” teriak Sahroni dari atas, meski dengkulnya mulai gemetar hebat karena takut ketinggian.
Dari atas genteng, Sahroni menyeka keringatnya pakai serbet simbol korupsi tadi. Dia baru sadar, ternyata jadi CALEG MODAL DENGKUL itu berat dan beresiko.
***