Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Titik Balik Rasa
0
Suka
100
Dibaca

“Eh, bengong.”

Sebuah tepukan yang kukenal mendarat di punggungku dari arah belakang. Aku menghembuskan napas panjang, sedikit kesal karena lamunanku buyar, lalu menoleh. Mataku langsung menatap tajam ke arah Daniel.

“Ih, Bang Daniel,” protesku.

Daniel menarik bibirnya, menyunggingkan senyum lebar yang selalu bisa meredam kekesalanku, memperlihatkan deretan giginya yang putih. “Maaf,” katanya lembut, lalu menjatuhkan diri di bangku kayu di sebelahku.

Aku kembali menatap lurus ke depan. Di sana, di tengah lapangan rumput panti asuhan, ada Bang Ganendra. Dia sedang bermain bola dengan beberapa anak kecil. Suara tawa riangnya terdengar jelas. Gerakannya lincah, penuh kehangatan, sesekali membungkuk untuk menyamakan tinggi dengan anak-anak itu.

Daniel menatapku dengan sorot mata teduh, lalu mengikuti pandanganku. Wajahnya seketika berubah. Tatapannya menjadi tajam, namun kosong, seolah hatinya ikut merasakan campuran kekaguman yang selama ini kusimpan.

“Kenapa enggak bilang aja ke Ganendra kalau kamu suka sama dia?” tanya Daniel, suaranya pelan dan dalam.

Ganendra, yang baru saja mencetak gol kecil, melambaikan tangan ke arah kami. Daniel membalas lambaian itu dengan senyum tipis.

Tawa kecil, yang terdengar getir, lolos dari bibirku. “Kalaupun aku bilang sama Bang Ganendra, apa hubungan ini akan berubah? Enggak, kan?” Suara itu terdengar begitu pahit bahkan di telingaku.

Daniel memiringkan kepalanya, mendongak ke arah langit sore yang mulai memancarkan warna jingga. “Setidaknya sudah berusaha mengungkapkannya, Kiran,” jelasnya tanpa melirikku.

Aku terdiam. Perkataan Daniel menusuk. Selama lima tahun, dia tahu aku mengagumi Ganendra.

“Kalaupun aku mengatakannya, bukannya persahabatan ini malah meregang? Lagian, Bang Ganendra sudah punya tunangan, Bang. Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka atau membuat dia merasa canggung.” Suaraku tercekat, menahan air mata yang tiba-tiba mendesak.

Daniel hanya mengangguk, terdiam mendengarku.

“Cukuplah aku mengaguminya dari jauh tanpa harus mengubah status. Mengagumi sikapnya yang dermawan, cara berpikir yang kritis, dan gelak tawanya yang selalu ada. Bukankah tanpa memilikinya pun itu termasuk cinta?.” Aku tersenyum tipis, menoleh ke arah Daniel.

Daniel menatap bola mata hazel-ku. Mataku sudah berkaca-kaca, tapi aku menolak membiarkan air mata itu tumpah. Ia menghela napas. “Sadarkah kamu jika seseorang di sampingmu juga menyukaimu, Kiran?”

Tawa kecilku yang indah terdengar, sedikit basah oleh emosi. “Tentu saja aku tahu.”

“Lalu? Tidak bisakah aku menyusup dalam ruang dadamu, menggantikan tempat kekagumanmu itu?” tanyanya, suaranya kini terdengar seperti bisikan yang rapuh.

Aku memejamkan mata, membiarkan hembusan angin sejuk menerpa wajahku. “Kalian berdua sama-sama berharga untukku. Abang yang selalu aku kagumi, Bang Ganendra. Dan... Abang yang selalu ada ketika aku sedih dan senang, yang selalu menyenangkanku tanpa memikirkan dirinya sendiri... itu kamu, Bang Daniel.”

Aku menopang tangan di dagu, sengaja menatap lekat mata abu Daniel. Tatapan itu penuh ketulusan. “Bang Ganendra memang seseorang yang ideal; dermawan, bijaksana, lembu dan gigih. Dia adalah definisi pacar atau suami idaman. Siapa juga yang tidak mau?” Aku menarik napas, lalu melanjutkan, “Tapi, orang yang aku sayangi, orang yang berhasil membuatku nyaman hingga rasa itu menetap... justru yang sedang aku pandang saat ini.”

Wajah Daniel benar-benar membeku. Bola matanya membesar, matanya mengedip-ngedip beberapa kali, seolah saraf di kepalanya terhenti. Dia terdiam, bibirnya sedikit terbuka, tidak mampu memproses pengakuan tak terduga itu.

Aku tidak tahan melihat reaksinya. Aku tertawa kecil, melompat dari bangku, dan segera berlari menjauh ke arah Ganendra.

“Bang Ganen, tolong aku!” teriakku, tawaku semakin nyaring. Aku melirik ke belakang dan melihat Daniel masih terpaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya dia tersadar.

Aku terus berlari, langkah kakiku ringan di atas rumput panti. Senyum lebar tak pernah lepas dari bibirku, rasanya lega dan nakal. Aku menoleh kembali ke belakang sekilas, melihat Daniel, yang kini tertawa lepas dan mengejarku dengan semangat baru. Tawa itu—tawa yang selalu kunantikan—kini ditujukan padaku, karena aku.

“Hei! Kiran!” Tawa Daniel pecah, lebih nyaring, dan riang dari biasanya. Dia melompat dari bangku, dan mulai mengejarku.

​Kami berlarian melintasi lapangan, berputar di antara gelak tawa nyaring anak-anak panti yang kini menjadi penonton kejar-kejaran kami yang mendadak. Ada perasaan ajaib yang menyelimuti: seperti sebuah adegan film yang baru dimulai.

​Semilir angin senja menerpa wajahku, terasa lembut seperti sentuhan, dingin karena sunset mulai turun, namun anehnya, juga terasa hangat di tengah riuhnya manusia yang menjadi saksi bisu momen perubahan hatiku. Aku tidak lagi peduli dengan kekaguman yang selama ini membelenggu. Yang kupedulikan hanyalah tawa Daniel yang mendekat, janji kehangatan yang tak lagi berjarak.

Hei, Daniel. Aku memang mengagumi Ganendra. Tapi yang aku cintai, adalah kamu. Sepertinya, aku sudah siap untuk menyusup ke ruang dadamu dan menetap disana.

​Kagum itu seperti melihat bintang: indah, jauh, dan tak bisa disentuh. Tapi cinta, adalah menemukan rumah di samping orang yang selalu ada, sedekat napas yang mengisi paru-paru, dan sedekat nadi yang berdenyut.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Titik Balik Rasa
Dear An
Novel
Gadis Pesantren
Fitria Sawardi
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Cerpen
Terapeutik
Saphire
Novel
Dian
Alfinda Walidah
Novel
Remedy
Rima Selvani
Novel
BRAD
KH_Marpa
Novel
Raindu
M. Yusuf Kamal
Novel
Saturn
fatiha azzahra
Novel
Penyu di Mandena
Laode Buzyali
Novel
Merindu Sewindu
Fitri Handayani Siregar
Novel
Bronze
After I(rana) met U(pravda)
Nsr.Andini
Novel
Bronze
Bening dan Banyu
@Fatamorgana16
Novel
Bronze
Forget Me Not
Muala
Novel
Married With My Bos
Warieh Dewii
Rekomendasi
Flash
Titik Balik Rasa
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Langit
Dear An
Cerpen
Untuk Hati Yang Mencari Arah
Dear An
Cerpen
Milikku Sejak Pandangan Pertama
Dear An
Cerpen
Sagara Elang: Milikku malam ini dan selamanya
Dear An
Cerpen
Game Pembuka Rahasia
Dear An
Cerpen
Sandiwara Reuni
Dear An
Cerpen
Keputusan Terindah
Dear An
Cerpen
Hanya Satu Hari
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Terakhir Amaryllis
Dear An
Cerpen
Bronze
Dua Hati Satu Janji
Dear An
Novel
Hidden Bliss
Dear An
Cerpen
Sosok Pengganti
Dear An