Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Budak korporat
3
Suka
19
Dibaca

Budi masih berkutat dengan komputernya jam delapan lewat empat puluh lima menit, bangku disisi kiri dan kanan nampak kosong, semua orang sudah pulang hanya dia yang berada di kantor dan harus menyelesaikan laporan tutup buku.

Ia berjalan menuju ke dapur, dan menyeduh kopi, ia harusnya sudah pulang bercengkrama dengan milo — kucingnya— dan menikmati sekotak pizza hangat bersama Americano dengan tambahan susu.

"Sial, aku cukup lelah...." Ia kembali mejanya, baginya yang membujang dan tidak memiliki siapa pun yang menunggunya di rumah adalah anugerah sekaligus petaka, ia selalu dikatai bujang lapuk.

Budi menyesap kopi perlahan hingga separuh, "Aku mengantuk, mungkin sudah waktunya aku balik pulang." Matanya masih terpaku pada layar yang menyala.

Pak Jaka menyuruhnya untuk pulang telat dikarenakan ada meeting dengan kilen dan mengharuskan ia membuat laporan tapi sayangnya, laporan itu sebagian harus ia ubah nominalnya, dari pembelian minyak pertamax Subsidi dengan harga tiga belas ribu rupiah menjadi enam belas ribu rupiah dalam jumlah ton. Ia sudah terbiasa memainkan angka seperti ini.

Toh, uangnya lari ke kantongnya juga sebagian, Budi mematikan komputernya dan berjalan mengambil tas ransel yang ada di dalam loker dan segera mengunci pintu ruangan, ia melihat seorang satpam yang berjaga di depan pintu luar.

"Lembur lagi pak budiawan?" Sahut laki-laki yang mengenakan pentungan di samping kirinya dan berjalan membuka pintu pagar.

"Iya nih ud, biasa permintaan pak Jaka...."

Pak Jaka adalah bos yang mengelola keuangan. "Begitulah, jadi budak korporat yah pak Bud...." Sambungnya suud sembari mengambil cerutunya.

"Iya ud, wajar kita harus serahkan sama gusti Allah aja Ud kalau soak rejeki Allah yang ngatur." Ujar pak Budi, di lisannya tapi ia berdusta baru saja ia memalsukan angka besar.

Suara notifikasi rekening masuk dari kantung celana Budi, ini pasti dari pak Jaka, ia baru saja nenerima hasil laporan palsu yang ia buat.

Budi berjalan pelan, ia menatap langit, gaji yang masuk kali ini lebih besar nominalnya separuhnya ia kirimkan ke ibu dan separuhnya lagi ia kirimkan ke Adiknya yang berkuliah, tidak apalah kadang bisa makan sekotak pizza atau makan mie tujuh hari berturut-turut.

Ibunya memiliki cicilan tanah di kampung mau tidak mau dirinya lah yang membayar, sembari terus berjalan Budi menikmati angin malam, haruskah ia lanjutkan pekerjaan bangsat ini.

Menipu invesyor demi laba perusahaan, ia sendiri bahkan gemetaran karena memalsukan angka-angka itu suoaya investor senang, padahal kejadian di lapangan tidak serupa.

Perut pak Budi keroncongan, ia harus memakan sesuatu sebelum pulang, ia tahu ia akan tetap selamanya tinggal di pekerjaan ini dan ditindas terus seakan ia satwa langka bahkan ia lupa kalau dirinya manusia.

Jika gajian tiba kepalanya berdenyut nyeri harus membagi kesana kemari, pak Budi sampai dirumah dengan menahan rasa kantuk dan dingin.

Sebuah notifikasi chat masuk di ponsel pak Budi membuat ia terkejut bukan kepalang, investor banyak mengundurkan diri dari perusahaan dan perusahaan terancam bangkrut. Ia harap-harap namanya tidak ada di list pengurangan pekerja paksa itu, terlambat namanya ada.

Ia segera menelpon pak Jak tak perduli ini sudah larut malam, "Malam pak Jaka, saya ingin bertanya pak kenapa nama saya ada di pemberhentian massal, sedangkan bapak menjamin saya untuk terus bekerja."

Di balik sana terdengar suara gaduh musik beradu dan suara tawa perempuan nakal, "Kamu tidak tahu untung, itu pantas untukmu. Saya tidak memerlukanmu." Teriak pak Jaka Naik pitam, belum sempat budi membalas, telpon dimatikan.

"Sialan!"

"Sialan!"

"Sialan, Jaka brengsek...."

Kemana kali ini Budi akan menyerahkan kehidupannya sementara ia dan adiknya perlu cara untuk hidup, ia mungkin bisa membeli motor dan menjadi gojek untuk menyambung hidup atau ia tetap bekerja di perusahaan yang bisa saja bermain kotor.

Pagi telah tiba mata Budu sulit terpejam, ia segera menyalakan televisi dan melihat nama perusahaan dan Jaka wirasusanto di tangkap akibat pengelapan uang.

Budi yang antek-anteknya bisa apa, Pak Jaka mengatakan ia memalsukan dokumennya sendiri tanpa campur tangan siapa pun.

Telpon dari ibu berdering, dengan baju semalam Budi mengangkatnya, "Nak pulang.... Ibu merindukanmu nak, sudah lima tahun kamu bekerja di kota tidak menjenguk ibu."

Dengan satu tarikan napas Budi mengiyakan, Roda selalu berputar kadang diatas, kadang dibawah mungkin bisa dibilang ini apes dan beruntungnya dirinya yang tidak terciduk polisi.

"Budi bakalan pulang bu."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Nama Pena
Sitha Trivina
Novel
Ini Sepi Terus Ada, dan Menanti
Achmad Muchtar
Flash
Budak korporat
Reveniella
Cerpen
Bronze
Yamyam, Robot Ayam Masa Depan
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
I'm a Writter, Not an Actress
meoteaas
Novel
Justin si pemalu
Adhemahesa
Novel
The Only Woman
Tjong Mi Mi
Novel
Bronze
Please, PROTECT ME!
Charansa
Novel
Republik Bandit
Arie Raditya Pradipta
Novel
Bronze
Exchange !!!
Rio Parikesit
Novel
Gold
KKPK Lets Sing with me
Mizan Publishing
Novel
Tren Nikah
Putri Anggraeni
Novel
Bronze
From script to screen
Ais Ahya Nahira
Skrip Film
Nada Citaku
Hesti Yuliantika
Skrip Film
Hello, Hello Again
Joshua Vincentius
Rekomendasi
Flash
Budak korporat
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella