Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Terjebak Hujan
2
Suka
3,606
Dibaca

Hujan turun seperti keputusan yang tak pernah dibicarakan—tiba-tiba, deras, dan membuat kota kehilangan arah. Tami berdiri di balik kaca kafe, memandangi jalanan yang memantul lampu-lampu malam. Di kursi sebelahnya, terlipat rapi mantel hujan berwarna hijau. Warnanya masih sama seperti terakhir kali dipinjamkan padanya: hijau yang terlalu cerah untuk kenangan yang redup.

“Masih nunggu hujan reda?” tanya barista sambil menyodorkan secangkir kopi pesanannya.

Tami mengangguk. Ia bisa saja pulang sekarang. Mantel itu ada. Rumahnya tak terlalu jauh. Tapi ia tahu, begitu kain hijau itu menyentuh bahunya, ingatan akan ikut menempel—tentang seseorang yang pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, seperti hujan yang tak meminta izin pada langit.

Di luar, payung-payung bertabrakan. Motor melintas dengan dengung tergesa. Di dalam, waktu terasa lebih sopan. Tami mengaduk kopinya, mendengarkan lagu yang mengalun perlahan menutup suara hujan yang begitu deras, mencoba meyakinkan dirinya bahwa menunggu adalah bentuk keberanian lain: berani tidak mengenakan sesuatu yang menyakitkan, meski itu berarti pulang lebih lambat.

Ia menatap mantel itu lagi. Kancingnya masih lengkap. Tak ada yang berubah dari mantel itu. Anehnya, yang paling ia benci bukan hujannya, melainkan betapa sebuah benda bisa mengingatkan pada seseorang yang memilih menghilang daripada tinggal dan bicara.

Hujan mereda menjadi gerimis. Orang-orang mulai bangkit, membayar, lalu pergi. Tami tetap duduk. Ia ingin memastikan langit benar-benar selesai dengan dirinya sebelum ia berdamai dengan masa lalu yang belum sempat pamit.

Ketika akhirnya hujan berhenti, ia berdiri, meraih tas—mengambil mantel hijau itu namun tidak memakainya. Di pintu, ia berhenti sebentar, tersenyum kecil pada pantulan dirinya di kaca.

Kadang pulang bukan soal jarak, pikirnya. Tapi tentang apa yang kita pilih untuk tidak kenakan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Terjebak Hujan
Majestic Journey
Cerpen
Bronze
Aku dan Teman-teman dari Negara-negara yang Tak Tersentuh AI
Nuel Lubis
Novel
METAMORFOSIS (TAK) SEMPURNA
Nadhira Syakira Kilimanjaro Ali
Novel
Di Antara Kelahiran dan Kematianku, Ada Kamu sebagai Hidup
Rafael Yanuar
Komik
Out From The Dark
Joshua
Flash
KARTINEM
Embart nugroho
Flash
Tentang Anakku yang Mereka Bilang Tidak Bisa Sembuh
Ratifa Mazari
Cerpen
TANGAN-TANGAN KECIL
Rian Widagdo
Novel
si Tukang kayu & Tuan puteri
rubbi nurfathiyah arifin
Novel
A Really Awkword Love Story
ANNISA
Skrip Film
Lurah Duaratus juta
Rana Kurniawan
Flash
Mencari Musim Semi di Tumpukan Jerami
MAkbarD
Flash
Tanpa Restu
Reynha
Flash
Seperti Permen
Raden Maesaroh
Rekomendasi
Flash
Terjebak Hujan
Majestic Journey
Flash
Sampai Mati Aku Akan Merindukannya
Majestic Journey
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Majestic Journey
Flash
Percakapan Terakhir
Majestic Journey
Cerpen
Delapan Lewat Sepuluh
Majestic Journey