Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan turun seperti keputusan yang tak pernah dibicarakan—tiba-tiba, deras, dan membuat kota kehilangan arah. Tami berdiri di balik kaca kafe, memandangi jalanan yang memantul lampu-lampu malam. Di kursi sebelahnya, terlipat rapi mantel hujan berwarna hijau. Warnanya masih sama seperti terakhir kali dipinjamkan padanya: hijau yang terlalu cerah untuk kenangan yang redup.
“Masih nunggu hujan reda?” tanya barista sambil menyodorkan secangkir kopi pesanannya.
Tami mengangguk. Ia bisa saja pulang sekarang. Mantel itu ada. Rumahnya tak terlalu jauh. Tapi ia tahu, begitu kain hijau itu menyentuh bahunya, ingatan akan ikut menempel—tentang seseorang yang pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, seperti hujan yang tak meminta izin pada langit.
Di luar, payung-payung bertabrakan. Motor melintas dengan dengung tergesa. Di dalam, waktu terasa lebih sopan. Tami mengaduk kopinya, mendengarkan lagu yang mengalun perlahan menutup suara hujan yang begitu deras, mencoba meyakinkan dirinya bahwa menunggu adalah bentuk keberanian lain: berani tidak mengenakan sesuatu yang menyakitkan, meski itu berarti pulang lebih lambat.
Ia menatap mantel itu lagi. Kancingnya masih lengkap. Tak ada yang berubah dari mantel itu. Anehnya, yang paling ia benci bukan hujannya, melainkan betapa sebuah benda bisa mengingatkan pada seseorang yang memilih menghilang daripada tinggal dan bicara.
Hujan mereda menjadi gerimis. Orang-orang mulai bangkit, membayar, lalu pergi. Tami tetap duduk. Ia ingin memastikan langit benar-benar selesai dengan dirinya sebelum ia berdamai dengan masa lalu yang belum sempat pamit.
Ketika akhirnya hujan berhenti, ia berdiri, meraih tas—mengambil mantel hijau itu namun tidak memakainya. Di pintu, ia berhenti sebentar, tersenyum kecil pada pantulan dirinya di kaca.
Kadang pulang bukan soal jarak, pikirnya. Tapi tentang apa yang kita pilih untuk tidak kenakan.