Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Satu Garis
1
Suka
1,281
Dibaca

Pekik tangis pertama yang membelah sunyi ruang operasi adalah bukti lahirnya sebuah kehidupan. Bayi laki-laki itu seolah menyapa dunia dengan kegelisahan, seakan gentar menghadapi garis takdir begitu napas pertamanya terhirup.

Seorang perawat dengan cekatan membaringkan tubuh mungil seberat tiga koma dua kilogram itu ke dalam inkubator. Detik berikutnya, sang bayi dilarikan menuju ruang NICU. Sunyi kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mengancam.

Di atas meja operasi, nyawa sang ibu tengah bergelut di ambang kegelapan. Keringat dingin membanjiri dahi, dan kulit yang semula merona memucat pasi akibat perdarahan hebat yang terus merembes dari rahimnya.

"Tekanan darah anjlok ke tujuh puluh per empat puluh!" seru seorang perawat pada monitor yang berkedip panik.

Di bawah sorot lampu yang menyilaukan, jemari Dr. Arini bergerak cepat, berusaha menjepit pembuluh darah yang bocor. Ia mengerahkan segala ketenangannya, meski maskernya mulai basah oleh napas yang memburu.

"Denyut jantung lima puluh delapan, saturasi delapan puluh lima persen, Dok!"

"Oksigen sepuluh liter! Cepat!" instruksi Arini. Suaranya stabil, namun matanya tak lepas dari wajah pucat di depannya.

Tiba-tiba, grafik di layar melandai. Garis naik-turun yang membuat ruangan semakin tegang.

"Pasien tidak sadar, Dok. Nadi tidak teraba."

Pertahanan Arini runtuh. Klem bedah di tangannya bergetar hebat. Ia tidak lagi melihat seorang pasien. Arini melihat masa kecil mereka, rahasia-rahasia yang mereka bagi, dan janji untuk menjaga satu sama lain.

"MAIRA!" jeritnya histeris, merobek etika profesionalitas yang selama ini ia agungkan.

Layar monitor mengeluarkan satu nada panjang yang datar—sebuah garis lurus yang dingin. Arini terdiam, tangannya yang bersimbah darah masih menggenggam klem bedah di atas perut adiknya yang tak lagi bergerak.

Di luar ruangan, tangis bayi laki-laki itu kembali terdengar samar dari kejauhan. Sebuah kehidupan baru saja ditukar dengan sebuah kepergian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Satu Garis
Noveria
Novel
Bronze
Sholat Yo
Hermawan
Flash
Mangue-ku Mangrove
Gita Oktavia
Cerpen
Bronze
Petarung
Maldalias
Flash
Bronze
SALAH PAHAM
sisibulan
Flash
Bronze
LEGION
Delta
Flash
Bronze
Mengantar Rana
Silvarani
Flash
Serdadu Bidadari
JWT Kingdom
Flash
Pemburu Zombie
M. Ferdiansyah
Flash
PULANG
Vica Lietha
Flash
Betapa Dekatnya Sang Cahaya
Intan Rahmadani
Cerpen
Hujan, persahabatan, dan petualangan yang tak terlupakan
panji wahyu hidayat
Flash
Ekspedisi Dendeng Paus
Desy Andriyani
Flash
Youth
Yaz
Flash
Monster1024
Art Fadilah
Rekomendasi
Flash
Satu Garis
Noveria
Flash
Bronze
Sudut Pandang
Noveria
Novel
Bronze
Rumah Tanpa Suara
Noveria
Flash
Bronze
Satu-satunya Teman
Noveria
Flash
Cinta antara Air dan Api
Noveria
Cerpen
Bronze
Masakan Ibu
Noveria
Flash
Bronze
Monoton
Noveria
Cerpen
Bronze
Cermin Yang Terluka
Noveria