Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Satu Garis
2
Suka
1,714
Dibaca

Pekik tangis pertama yang membelah sunyi ruang operasi adalah bukti lahirnya sebuah kehidupan. Bayi laki-laki itu seolah menyapa dunia dengan kegelisahan, seakan gentar menghadapi garis takdir begitu napas pertamanya terhirup.

Seorang perawat dengan cekatan membaringkan tubuh mungil seberat tiga koma dua kilogram itu ke dalam inkubator. Detik berikutnya, sang bayi dilarikan menuju ruang NICU. Sunyi kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mengancam.

Di atas meja operasi, nyawa sang ibu tengah bergelut di ambang kegelapan. Keringat dingin membanjiri dahi, dan kulit yang semula merona memucat pasi akibat perdarahan hebat yang terus merembes dari rahimnya.

"Tekanan darah anjlok ke tujuh puluh per empat puluh!" seru seorang perawat pada monitor yang berkedip panik.

Di bawah sorot lampu yang menyilaukan, jemari Dr. Arini bergerak cepat, berusaha menjepit pembuluh darah yang bocor. Ia mengerahkan segala ketenangannya, meski maskernya mulai basah oleh napas yang memburu.

"Denyut jantung lima puluh delapan, saturasi delapan puluh lima persen, Dok!"

"Oksigen sepuluh liter! Cepat!" instruksi Arini. Suaranya stabil, namun matanya tak lepas dari wajah pucat di depannya.

Tiba-tiba, grafik di layar melandai. Garis naik-turun yang membuat ruangan semakin tegang.

"Pasien tidak sadar, Dok. Nadi tidak teraba."

Pertahanan Arini runtuh. Klem bedah di tangannya bergetar hebat. Ia tidak lagi melihat seorang pasien. Arini melihat masa kecil mereka, rahasia-rahasia yang mereka bagi, dan janji untuk menjaga satu sama lain.

"MAIRA!" jeritnya histeris, merobek etika profesionalitas yang selama ini ia agungkan.

Layar monitor mengeluarkan satu nada panjang yang datar—sebuah garis lurus yang dingin. Arini terdiam, tangannya yang bersimbah darah masih menggenggam klem bedah di atas perut adiknya yang tak lagi bergerak.

Di luar ruangan, tangis bayi laki-laki itu kembali terdengar samar dari kejauhan. Sebuah kehidupan baru saja ditukar dengan sebuah kepergian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Satu Garis
Noveria
Cerpen
NENEK MOYANGKU SEORANG PERAUT
Rian Widagdo
Flash
Setumpuk Kolang-Kaliang
Vynka Madani Siagian
Flash
Bronze
Rumah Berhantu karya Virginia Woolf. Penerjemah : ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Flash
Wisanggeni
Wirdatun Nafi'ah
Cerpen
Maling
Athoillah
Novel
KESEMPATAN KEDUA SEORANG OBITO
Safinatun naja
Novel
Bronze
Sholat Yo
Hermawan
Flash
Play Game
Fitri Handayani Siregar
Novel
GALLENTERA
Adella Kusuma
Flash
Adzan Maghrib
Mahmud
Novel
Tak Kunjung Penantian
muhamad Rifki
Flash
Bronze
SUPER MOON
Xielna
Flash
Ghostwing
Fajar R
Flash
Bronze
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Rekomendasi
Flash
Satu Garis
Noveria
Flash
Bronze
Monoton
Noveria
Cerpen
Bronze
Cermin Yang Terluka
Noveria
Flash
Bronze
Sudut Pandang
Noveria
Novel
Bronze
Rumah Tanpa Suara
Noveria
Flash
Bronze
Satu-satunya Teman
Noveria
Flash
Cinta antara Air dan Api
Noveria
Cerpen
Bronze
Masakan Ibu
Noveria