Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Satu Garis
1
Suka
940
Dibaca

Pekik tangis pertama yang membelah sunyi ruang operasi adalah bukti lahirnya sebuah kehidupan. Bayi laki-laki itu seolah menyapa dunia dengan kegelisahan, seakan gentar menghadapi garis takdir begitu napas pertamanya terhirup.

Seorang perawat dengan cekatan membaringkan tubuh mungil seberat tiga koma dua kilogram itu ke dalam inkubator. Detik berikutnya, sang bayi dilarikan menuju ruang NICU. Sunyi kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mengancam.

Di atas meja operasi, nyawa sang ibu tengah bergelut di ambang kegelapan. Keringat dingin membanjiri dahi, dan kulit yang semula merona memucat pasi akibat perdarahan hebat yang terus merembes dari rahimnya.

"Tekanan darah anjlok ke tujuh puluh per empat puluh!" seru seorang perawat pada monitor yang berkedip panik.

Di bawah sorot lampu yang menyilaukan, jemari Dr. Arini bergerak cepat, berusaha menjepit pembuluh darah yang bocor. Ia mengerahkan segala ketenangannya, meski maskernya mulai basah oleh napas yang memburu.

"Denyut jantung lima puluh delapan, saturasi delapan puluh lima persen, Dok!"

"Oksigen sepuluh liter! Cepat!" instruksi Arini. Suaranya stabil, namun matanya tak lepas dari wajah pucat di depannya.

Tiba-tiba, grafik di layar melandai. Garis naik-turun yang membuat ruangan semakin tegang.

"Pasien tidak sadar, Dok. Nadi tidak teraba."

Pertahanan Arini runtuh. Klem bedah di tangannya bergetar hebat. Ia tidak lagi melihat seorang pasien. Arini melihat masa kecil mereka, rahasia-rahasia yang mereka bagi, dan janji untuk menjaga satu sama lain.

"MAIRA!" jeritnya histeris, merobek etika profesionalitas yang selama ini ia agungkan.

Layar monitor mengeluarkan satu nada panjang yang datar—sebuah garis lurus yang dingin. Arini terdiam, tangannya yang bersimbah darah masih menggenggam klem bedah di atas perut adiknya yang tak lagi bergerak.

Di luar ruangan, tangis bayi laki-laki itu kembali terdengar samar dari kejauhan. Sebuah kehidupan baru saja ditukar dengan sebuah kepergian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Satu Garis
Noveria
Cerpen
Bronze
Odyssey: Melintasi Dimensi Waktu
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Bronze
Rumah Ternyaman
Afri Meldam
Flash
Betapa Dekatnya Sang Cahaya
Intan Rahmadani
Novel
Bronze
BACK TO 18 AGAIN
Safinatun naja
Flash
Bronze
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Flash
Dewasa, dari mulut ke mulut
Rizky aditya
Cerpen
Bronze
Tentang Kawanku Bob Si Anak Pasar
Habel Rajavani
Novel
DUA SISI
semburat lintang
Cerpen
Bronze
Perwakilan Rakyat? No! Majelis Binatang? Yes!
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Tanpa Kantor, Tanpa Takut
Muhammad Ari Pratomo
Flash
Bronze
Desa Naga Api
Silvarani
Flash
PILIHAN!
Vica Lietha
Cerpen
Delta
Penulis N
Flash
Bronze
Desa Naga Air
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Satu Garis
Noveria
Flash
Bronze
Satu-satunya Teman
Noveria
Flash
Cinta antara Air dan Api
Noveria
Flash
Bronze
Sudut Pandang
Noveria
Novel
Bronze
Rumah Tanpa Suara
Noveria
Cerpen
Bronze
Masakan Ibu
Noveria
Cerpen
Bronze
Cermin Yang Terluka
Noveria
Flash
Bronze
Monoton
Noveria