Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pekik tangis pertama yang membelah sunyi ruang operasi adalah bukti lahirnya sebuah kehidupan. Bayi laki-laki itu seolah menyapa dunia dengan kegelisahan, seakan gentar menghadapi garis takdir begitu napas pertamanya terhirup.
Seorang perawat dengan cekatan membaringkan tubuh mungil seberat tiga koma dua kilogram itu ke dalam inkubator. Detik berikutnya, sang bayi dilarikan menuju ruang NICU. Sunyi kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mengancam.
Di atas meja operasi, nyawa sang ibu tengah bergelut di ambang kegelapan. Keringat dingin membanjiri dahi, dan kulit yang semula merona memucat pasi akibat perdarahan hebat yang terus merembes dari rahimnya.
"Tekanan darah anjlok ke tujuh puluh per empat puluh!" seru seorang perawat pada monitor yang berkedip panik.
Di bawah sorot lampu yang menyilaukan, jemari Dr. Arini bergerak cepat, berusaha menjepit pembuluh darah yang bocor. Ia mengerahkan segala ketenangannya, meski maskernya mulai basah oleh napas yang memburu.
"Denyut jantung lima puluh delapan, saturasi delapan puluh lima persen, Dok!"
"Oksigen sepuluh liter! Cepat!" instruksi Arini. Suaranya stabil, namun matanya tak lepas dari wajah pucat di depannya.
Tiba-tiba, grafik di layar melandai. Garis naik-turun yang membuat ruangan semakin tegang.
"Pasien tidak sadar, Dok. Nadi tidak teraba."
Pertahanan Arini runtuh. Klem bedah di tangannya bergetar hebat. Ia tidak lagi melihat seorang pasien. Arini melihat masa kecil mereka, rahasia-rahasia yang mereka bagi, dan janji untuk menjaga satu sama lain.
"MAIRA!" jeritnya histeris, merobek etika profesionalitas yang selama ini ia agungkan.
Layar monitor mengeluarkan satu nada panjang yang datar—sebuah garis lurus yang dingin. Arini terdiam, tangannya yang bersimbah darah masih menggenggam klem bedah di atas perut adiknya yang tak lagi bergerak.
Di luar ruangan, tangis bayi laki-laki itu kembali terdengar samar dari kejauhan. Sebuah kehidupan baru saja ditukar dengan sebuah kepergian.