Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Anak itu seperti kertas mereka meniru apa yang orang tua mereka lakukan." Ujar Nenek tua dengan rambut sudah memutih semua kala itu.
ia menarik seulas garis tipis pada wajah yang habis dihajar oleh neneknya sendiri, darmi namanya.
"Anak laki-laki itu, bebas kemana aja, kamu perempuan bisa bikin malu!"Teriaknya lantang.
Padahal Ia hanya ingin berkerja kelompok dengan temannya, bahkan mas raden; kakak tertuanya bebas trek-trekan sambil membawa miras.
Perempuan pada dasarnya selalu saja terikat dengan norma sosial yang begitu ketat, hingga terkadang ia sangat sulit untuk mengeskspresikan dirinya.
Justifikasi terhadap perempuan dari desanya yang wajib di ikuti seluruh wanita disana adalah, mereka adalah aib jika tidak suci dan tugas wanita hanya kasur, sumur dan dapur, menurutnya itu sangat merendahkan wanita, ia belajar itu supaya tidak terulang kembali kejadian yang sama seperti kerjadian saat ia belum lahir, ibunya adalah seorang wanita malam dari kota dan menikah dengan sang Ayah, namun, telah meninggal.
Kala itu, ia berjalan menelusuri desa untuk mencari keong di sawah agar bisa di masak dengan tumis kangkung dengan cabe yang banyak pasti rasanya sangat sedap.
Ia terkejut bukan kepalang, menemukan bahwa Nirma sahabatnya tengah asik bercumbu rayu di pematang sawah dengan mas Raden, kakaknya.
Ia tertegun sesaat tanpa ia sadari, ia segera berlari memukuli mas Raden hingga dan melepas pagutan mereka berdua, —Nirma nampak pucat, ini bukan kemauan, ini paksaan— sungguh bejat perilaku itu ia ingin merenggut kesucian gadis belia yang termakan cinta sesaat
"Awas kau adukan sama nenek akan aku bunuh kau, Laksmi." Ancam Mas Raden menarik rambutku.
Dengan tangan gemetar Laksmi meninju rahang Mas Raden dan segera berlari ingin mengadukan kepada Darmi, sang nenek, tentang kelakuan bejat kakaknya.
Laksmi berlari dari pematang sawah menuju rumahnya yang berjarak satu setengah kilo meter dari dan sampai sekitar dua puluh menit, namun terlambat, Raden ada di depan rumah dan berbicara dengan nada serius kepada neneknya yang buta huruf itu dengan tangan kasar yang penuh kapal, wanita itu menamparku.
Sial, ini hari terburukku.
"Laksmi, siapa yang mengajarimu berperilaku bejat seperti ini, Apa yang dikatakan Raden pasti benar kamu tengah bercumbu dengan temanmu di sawah." Hardiknya, bagai disambar petir Laksmi tertegun, ia tidak melakukanya.
Sial, ini hari terberengsek dalam hidupnya. Laksmi mengelak segera mengelak terlambat, pria yang bahkan tidak ia kenal datang dengan wajah babak belur habis dihajar mas Raden. Ia memukuli tanpa ampun bak binatang, Laksmi tertegun untuk beberapa saat.
"Untuk menutupi kelakuan busukmu, kamu sampai melakukan ini mas...." Teriak Laksmi tak percaya, bersama
Sialan, perempuan dianggap apa oleh desa ini! Aku benar-benar murka.
"Pantas saja, di dalam darahmu kan terlahir darah lacur yang menyerahkan rahimnya untuk anakku" Teriak Nenek tua yang bahkan tidak ingin lagi sebut namanya.
Laksmi segera mengemasi barang-barangku dan dengan langkah seribu tanpa mau menoleh ke belakang lagi, jarak dari rumahnya jalan poros utama desa hanya empat puluh menit, kakinya lecet akibat berlari di pematang sawah, dengan berbekal uang saku yang ia tabung, ia menyewa becak hingga ke pertigaan dan menaiki bajai dan pergi meninggalkan Desa itu
Tangis Laksmi tak kunjung mereda, Ibunya direndahkan oleh wanita yang ia selama ini ia sebut sebagai Nenek. Sungguh sangat memalukan, ia tiba di persimpangan bus dan duduk didalamnya, ia sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi.
Kemana nasibkan membawanya pergi?
Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar wanita tidak lagi disepelekan. Laksmi menatap brosur yang terpampang di dinding, ia tidur di pelataran kios lama dan menatap brosur itu cukup lama.
Laksmi mulai, berpikir uang cadangan yang selalu aku bawa hanya tersisa seratus lima puluh tiga ribu rupiah dan ia membeli baju seadanya dan mengikuti penerimaan model, dengan setengah tenaga Laksmi mencoba mengikutinya dengan nermodalkan baju lamanya dan ia diterima dan resmi menjadi salah satu finalis dan berhasil menang menjadi model papan atas.
Laksmi selalu menjadi pusat perhatian dan berhasil mengubah stigma bahwa wanita mampu berdaya saing tinggi, saat karirnya yang terhitung masih sebiji jagung itu. Laksmi mendapatkan kabar Mas Raden meninggal akibat penyakit gornea, dan Darmi sang Nenek dibawa ke rumahnya yang ada di menteng untuk tinggal bersamanya.
"Kau tidak akan bisa terlalu sukses, karena wanita itu memang harus berbakti" kata Klana, membuat Laksmi geram.
"Waktunya kau cari tulang punggung."Pinta Darmi
"Waktunya kau melayani pria mu." Pinta Darmi membuat Laksmi mengerutu.
"Waktunya—" omongan sang nenek di sela oleh Laksmi dengan geram ia tertawa kecil.
"Waktunya kau menikmati kekayaan dari cucumu ini. Hidup dimetropolitan tidak mudah aku berjuang sendiri dan kau hanya mencaci dan menuduhku yang tidak ku lakukan." Ujarnya pada Darmi, yang tengah duduk di Soffa sembari minum teh, nenek itu tersedak dan menteralkan air mukanya
"Ketahuilah Nek, wanita itu bisa berdiri diatas kakinya sendiri dan satu lagi kepemilikan atas rahim wanita adalah miliknya sendiri jangan salahkan itu." Ujarku sembari menyesap tehku perlahan.
"Ia bisa memilih menjadi Ibu atau menjadi wanita karir melejit yang jelas, tubuh dan dirinya adalah miliknya." Lanjut Laksmi kembali
Darmi terdiam, dan ia membisu. Pikiran, yang kolot itu telah berubah sedikit demi sedikit, akhirnya Klana, sang nenek tidak lagi berbicara yang buruk dan memaksa Aku untuk menikah.