Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Anak itu seperti kertas. Mereka meniru apa yang orang tua mereka lakukan," ujar seorang perempuan tua dengan rambut yang telah memutih seluruhnya. Ucapan itu terngiang di kepala Laksmi saat menyentuh luka di pipinya yang masih terasa perih—bekas tamparan Darmi, neneknya sendiri.
Dadanya makin sesak, karena kata-kata itu lebih menyakitkan dari sembilu. "Lain kalau anak laki-laki, mereka bisa bebas ke mana saja. Tapi kau perempuan, bisa bikin malu!" teriak neneknya itu lantang. Padahal Laksmi hanya ingin pergi kerja kelompok.
Sementara Raden, kakak tertuanya, bebas trek-trekan sambil membawa miras tanpa pernah dipersoalkan.
Sejak kecil Laksmi sadar, perempuan di desanya terus hidup terkurung norma. Perempuan harus suci.
Perempuan tak boleh melawan. Perempuan hanya mengurus kasur, sumur, dan dapur, tidak lebih. Siapa pun yang keluar dari garis itu dianggap aib.
Ia membenci pemikiran itu, menurutnya itu sangat merendahkan wanita. Memang ibunya dulu perempuan kota.
Orang-orang menyebutnya wanita malam sebelum akhirnya menikah dengan ayah. Kini ibunya telah tiada, tapi hinaan tentang darah kotor masih diwariskan kepadanya. Selalu menjadi alasan menekannya. Dan ini membuat Laksmi selama ini tak berdaya melawannya.
***
Siang itu Laksmi berjalan menyusuri pematang sawah mencari keong untuk masak tumis campuran kangkung dan cabai.
Masakan sederhana kesukaannya yang selalu membuatnya riang, dan menjadi ingatan tentang ibunya. Langkahnya terhenti, ia terkejut bukan kepalang.
Di pematang yang tak jauh, ia melihat Nirma—sahabatnya—tengah dipaksa bercumbu oleh Raden. Wajah Nirma pucat. Itu bukan kemauan. Itu paksaan. Darah Laksmi mendidih.
Ia berlari, memukul, mendorong Raden hingga terlepas dari Nirma, sungguh bejat perilaku itu karena ingin merenggut kesucian gadis belia yang termakan cinta sesaat
"Awas kau adukan nenek, akan kubunuh kau!" ancam Raden sambil menjambak rambutnya.
Dengan tangan gemetar namun amarah membara, Laksmi meninju rahang kakaknya dan berlari cepat menuju rumah untuk melapor pada neneknya.
Jarak satu setengah kilometer terasa sangat jauh tak seperti biasanya. Pikirannya dipenuhi amarah, dan napasnya terengah saat sampai. Namun ia terlambat.
Raden sudah lebih dulu berdiri di depan rumah, tengah berbicara serius dengan neneknya. Ketika Laksmi mendekat, justru tamparan keras mendarat di pipinya.
"Laksmi! Siapa yang mengajarimu berperilaku bejat? Raden bilang kau bercumbu dengan laki-laki di sawah!" Bagai disambar petir, Laksmi terdiam. Ia bahkan tak diberi kesempatan membela diri.
Seorang lelaki asing dengan wajah babak belur—hasil pukulan Raden—tiba-tiba datang dan memakinya, seolah ia sumber aib. Membuat semuanya bertambah kacau menjadi kemelut.
"Kamu tega berbuat begini hanya untuk menutupi kelakuan busukmu,?" teriak Laksmi pada Raden, tak percaya dan benar-benar murka tak terbendung lagi.
"Pantas saja," hardik neneknya, "dalam darahmu mengalir darah lacur yang menyerahkan rahimnya untuk anakku!" Kalimat itu lebih menyakitkan dari tamparan mana pun.
Darah Laksmi mendidih, pikirannya kini tak lagi peduli apapun. Malam itu juga, Laksmi mengemasi barang-barangnya. Tanpa menoleh, tak lagi berpikir panjang, ia meninggalkan rumah.
Kakinya lecet karena berlari di pematang. Dengan tabungan seratus lima puluh tiga ribu rupiah, ia naik becak ke pertigaan, lalu naik bus menuju kota.
Tangisnya pecah di dalam bus, dan tak kunjung mereda, karena getir hatinya, Ibunya direndahkan oleh wanita yang ia selama ini ia sebut sebagai Nenek.
Sungguh sangat memalukan. Kini ia tak punya tempat tinggal. Tak punya siapa-siapa.
Ia hanya punya tekad, perempuan tidak selamanya bisa diinjak. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar wanita tidak lagi disepelekan. Di persimpangan terminal, ia duduk lama menatap sebuah brosur penerimaan model yang tertempel di dinding kios tua.
Ia tidur di kursi panjang di terminal malam itu, sambil memeluk tas kecilnya. Keesokan harinya, dengan pakaian seadanya, ia mendaftar. Ia diterima.
Dari langkah kecil itu, tak disangka hidupnya berubah. Laksmi pekerja keras yang tak pernah menyerah, jatuh bangun menghadapi kerasnya kota metropolitan. Seiring waktu namanya perlahan dikenal. Ia menjadi model papan atas.
Ia membuktikan perempuan bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Laksmi selalu menjadi pusat perhatian dan berhasil mengubah stigma bahwa wanita mampu berdaya saing tinggi.
Saat kariernya mulai menanjak, kabar datang, Raden meninggal karena penyakit gonore. Tak lama setelah itu, neneknya hidup sebatang kara.
Laksmi membawanya ke rumahnya di Menteng. Namun kebiasaan lama neneknya itu tak mudah hilang. "Kau tak akan bisa sukses.
Wanita harus berbakti," ujar neneknya ketus.
"Sekarang waktunya kau cari tulang punggung."
"Waktunya kau melayani suamimu."
"Waktunya—"
"Waktunya kau menikmati kekayaan dari cucumu ini, Nek," potong Laksmi dipenuhi kegeraman.
Dipaksanya tersenyum tipis namun tegas.
"Hidup di metropolitan tidak mudah. Aku berjuang sendiri. Dari dulu nenek hanya bisa mencaci dan menuduhku atas hal yang tak pernah kulakukan.
Neneknya terdiam. "Ketahui lah, Nek," lanjut Laksmi lebih tenang, "wanita bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Rahim adalah milik perempuan. Ia berhak memilih—menjadi ibu, menjadi wanita karier, atau keduanya. Tubuh dan hidupnya adalah miliknya." Keheningan memenuhi ruang tamu.
Untuk pertama kalinya, nenek tak berkutik, tak membantahnya.
Pikiran kolot itu tak runtuh seketika, tetapi mulai retak sedikit demi sedikit. Sejak hari itu, ia tak lagi memaksa Laksmi menikah. Membiarkannya dengan pilihannya sendiri.
Ia bisa merasakan kekuatan cucunya itu sekarang. Seorang wanita mandiri yang kuat. Dan di tengah gemerlap metropolitan, Laksmi akhirnya menemukan sesuatu yang dulu tak pernah ia miliki, kebebasan memilih hidupnya sendiri.