Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dan alih-alih membalas kepergianmu dengan benci dan dendam—karena kau pergi menghilang begitu saja, tanpa penjelasan, tanpa kata perpisahan, seolah aku tak pantas menerima satu kalimat penutup—aku justru memilih diam yang panjang dan menelan kecewa.
Aku, memilih jalan yang lebih sunyi: menyebut namamu dalam doa-doa lirih yang kugumamkan di sela-sela malam, ketika dunia terlelap dan hanya Tuhan yang setia mendengar. Doa-doa yang barangkali tak pernah sampai ke telingamu, namun tetap kupanjatkan, sebab mencintaimu sampai detik ini menjadi cara paling jujur bagiku untuk mengenal ikhlas.
Aku masih meminta, dengan hati yang pelan-pelan belajar lapang, agar kebahagiaan memeluk hidupmu lebih lama daripada luka yang sempat singgah di antara kita—luka yang dulu terasa seperti rumah, kini hanya tinggal alamat yang tak lagi kutuju. Semoga tawa menemukanmu lebih dahulu sebelum duka, dan semoga hari-harimu dipenuhi hal-hal sederhana yang menenangkan: pagi yang hangat, senja yang teduh, serta malam yang pulang tanpa gelisah.
Aku memohon agar masa depanmu disinari jalan-jalan terang, agar langkahmu tak tersandung oleh masa lalu yang berat, dan tubuhmu senantiasa dijaga dalam kesehatan—sebab aku tahu seberapa sulit hidup yang kau jalani—kesepian yang kerap datang tanpa mengetuk, rasa sakit yang kau simpan rapi di balik senyum, serta air mata yang jatuh diam-diam di sudut malam, tanpa saksi, tanpa pelukan.
Aku tahu betapa sering dunia terasa terlalu bising saat hatimu justru ingin sunyi, betapa langkahmu kerap terasa berat meski kau memaksa diri untuk tetap tampak kuat. Karena itu, aku memilih tak menambah luka di hidupmu, tak menitipkan dendam di pundak yang sudah lelah. Aku hanya ingin kau sampai pada hari-hari yang lebih ringan, meski perjalanannya tak lagi bersamaku.
Semoga Tuhan menjauhkanmu dari segala hal buruk, menuntun kakimu pada arah yang lebih baik, meski arah itu tak lagi sejajar dengan langkahku, tak lagi menuju aku.
Semoga rahmat dan kasih sayang-Nya turun kepadamu tanpa jeda, menenangkan hatimu pada malam-malam yang dulu pernah kita lewati bersama, namun kini tak lagi memberiku ruang untuk meneduhkanmu.
Semoga engkau dibentuk menjadi lelaki yang kuat dan tangguh—bukan hanya dalam menghadapi dunia yang kerap ingkar janji, tetapi juga dalam menjaga hati, iman, dan segala hal rapuh yang kerap kita abaikan saat merasa baik-baik saja.
Dan sementara engkau melangkah ke masa depanmu, aku akan belajar merelakanmu perlahan—dengan tangan yang masih gemetar, namun hati yang terus berusaha lapang.
Bersama doa-doa yang kupanjatkan diam-diam, aku mengikhlaskan kepergianmu, sembari berharap: semoga suatu hari nanti, kebahagiaanmu tak lagi terasa seperti kehilangan bagiku, melainkan sebagai bukti bahwa pernah ada cinta yang tumbuh dengan cara paling dewasa—melepaskan.
Benar, aku mencintaimu—dengan cara yang tak lagi menuntut, tak lagi meminta pulang. Maka berbahagialah dalam kehidupan yang hanya sekali ini; di sudut bumi mana pun kakimu berpijak, semoga langkahmu selalu menemukan terang. Dari tempatku yang sunyi, tanganku tak henti terkatup, memohon dalam doa-doa panjang yang menyebut namamu sepenuh hati, agar segala takdir baik mendahuluimu, memeluk hidupmu lebih dulu sebelum lelah sempat singgah.