Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Mereka berkumpul di sebuah ruangan yang tidak besar, dindingnya polos, meja penuh kertas, catatan, dan cangkir kopi yang dingin belum sempat diminum. Tidak ada kamera, tidak ada set, hanya orang-orang yang sedang mencoba memutuskan apa yang pantas disebut film.
Remake Chinatown bukan keputusan ringan, mereka tahu itu. Terlalu banyak film hari ini lahir hanya untuk mengejar untung, dan mereka tidak ingin menjadi bagian dari barisan itu. Tapi menghidupkan kembali sesuatu yang sudah dianggap abadi juga seperti menggali tanah yang tak seharusnya dibuka. Mereka sadar, melampaui Chinatown hampir mustahil. Yang mereka harapkan hanya satu yaitu tidak mengecewakan.
Tim, Jimmy, dan Austin duduk berhadapan dengan naskah yang belum ditulis sama sekali. Mereka menonton ulang Chinatown bukan untuk meniru, tapi untuk memahami, ritme dialognya, napas kalimatnya, bagaimana kota dan sejarahnya membentuk bahasa. Mereka memperdebatkan aksen, memilih kata yang tidak terdengar modern tapi juga tidak terasa kaku.
Di sisi lain, Andrea Conelly berbicara tentang musik. Crescendo atau dibiarkan senyap, nada yang emosional atau justru minimalis. Baginya, skor bukan pengiring, tapi keputusan moral.
Hall Albert menonton ulang film itu berkali-kali, ia mencatat sudut kamera, gerak cahaya, dan ruang-ruang yang belum pernah dieksplor, ia mencari celah kecil untuk mendapat nuansa baru, agar film ini tidak sekadar tiruan.
Robert, sang sutradara, lebih banyak diam, ia mendengar, mencatat, lalu menghilang selama beberapa jam. Ia tahu, terlalu banyak saran bisa berubah menjadi pembenaran ego. Saat kembali, ia berkata pelan"film ini tidak akan lahir dari satu kepala, tapi dari musyawarah.
Paruh pertama berakhir tanpa keputusan mutlak, hanya keyakinan bahwa proses harus dinikmati bersama.
Paruh kedua berjalan berbeda, ide-ide mulai hidup. Ketika penulis membicarakan akhir cerita, adegannya muncul lewat dialog bersama. Ketika kru mendiskusikan sebuah adegan, mereka saling menunjukkan gagasan justru dari sudut pandang musyawarah mereka. Film tidak berjalan di luar kendali, tapi di dalam pemikiran musyawarah.
Di akhir, mereka berhenti, tak ada tepuk tangan, hanya doa singkat, sesuai keyakinan masing-masing. Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan kecil yang telah diubah menjadi bioskop mini.
Lampu padam, Chinatown original versi tahun 1974 diputar, film pun mulai diputar, tidak ada yang bicara, mereka menonton, bukan sebagai penantang versi orinya, tetapi sebagai orang-orang yang paham betapa beratnya mewujudkan kembali film legendaris.