Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
The Chinatown's Crew
1
Suka
773
Dibaca

Mereka berkumpul di sebuah ruangan yang tidak besar, dindingnya polos, meja penuh kertas, catatan, dan cangkir kopi yang dingin belum sempat diminum. Tidak ada kamera, tidak ada set, hanya orang-orang yang sedang mencoba memutuskan apa yang pantas disebut film.

Remake Chinatown bukan keputusan ringan, mereka tahu itu. Terlalu banyak film hari ini lahir hanya untuk mengejar untung, dan mereka tidak ingin menjadi bagian dari barisan itu. Tapi menghidupkan kembali sesuatu yang sudah dianggap abadi juga seperti menggali tanah yang tak seharusnya dibuka. Mereka sadar, melampaui Chinatown hampir mustahil. Yang mereka harapkan hanya satu yaitu tidak mengecewakan.

Tim, Jimmy, dan Austin duduk berhadapan dengan naskah yang belum ditulis sama sekali. Mereka menonton ulang Chinatown bukan untuk meniru, tapi untuk memahami, ritme dialognya, napas kalimatnya, bagaimana kota dan sejarahnya membentuk bahasa. Mereka memperdebatkan aksen, memilih kata yang tidak terdengar modern tapi juga tidak terasa kaku.

Di sisi lain, Andrea Conelly berbicara tentang musik. Crescendo atau dibiarkan senyap, nada yang emosional atau justru minimalis. Baginya, skor bukan pengiring, tapi keputusan moral.

Hall Albert menonton ulang film itu berkali-kali, ia mencatat sudut kamera, gerak cahaya, dan ruang-ruang yang belum pernah dieksplor, ia mencari celah kecil untuk mendapat nuansa baru, agar film ini tidak sekadar tiruan.

‎Robert, sang sutradara, lebih banyak diam, ia mendengar, mencatat, lalu menghilang selama beberapa jam. Ia tahu, terlalu banyak saran bisa berubah menjadi pembenaran ego. Saat kembali, ia berkata pelan"film ini tidak akan lahir dari satu kepala, tapi dari musyawarah.

Paruh pertama berakhir tanpa keputusan mutlak, hanya keyakinan bahwa proses harus dinikmati bersama.

‎Paruh kedua berjalan berbeda, ide-ide mulai hidup. Ketika penulis membicarakan akhir cerita, adegannya muncul lewat dialog bersama. Ketika kru mendiskusikan sebuah adegan, mereka saling menunjukkan gagasan justru dari sudut pandang musyawarah mereka. Film tidak berjalan di luar kendali, tapi di dalam pemikiran musyawarah.

Di akhir, mereka berhenti, tak ada tepuk tangan, hanya doa singkat, sesuai keyakinan masing-masing. Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan kecil yang telah diubah menjadi bioskop mini.

Lampu padam, Chinatown original versi tahun 1974 diputar, film pun mulai diputar, tidak ada yang bicara, mereka menonton, bukan sebagai penantang versi orinya, tetapi sebagai orang-orang yang paham betapa beratnya mewujudkan kembali film legendaris.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
The Chinatown's Crew
Rere Valencia
Flash
Kota Sunyi Di Malam Hari
Hans Wysiwyg
Novel
Politician Influencer
Silvarani
Novel
GALLENTERA
Adella Kusuma
Cerpen
Cawan Ajaib
zain zuha
Novel
Bronze
LEGION : KNIGHT 347-1
Delta
Flash
Dewi The Super Woman Part. 2
Bramanditya
Skrip Film
LEGION : CHAPTER ONE
Delta
Flash
Bronze
LEGION
Delta
Flash
Balada Sedih
Rere Valencia
Flash
Bronze
SALAH PAHAM
sisibulan
Cerpen
Bronze
Hari Sabtu Ceria
Mochammad Ikhsan Maulana
Flash
Bronze
Regulator Gas Elpiji
Ron Nee Soo
Flash
Pertunjukan Malam
Lebah Bergantung
Flash
Bronze
Jatuh
Y. N. Wiranda
Rekomendasi
Flash
The Chinatown's Crew
Rere Valencia
Flash
Harus Tidur
Rere Valencia
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tak Bisa Memilih
Rere Valencia
Flash
Tergantung Sang Perancang Semesta
Rere Valencia
Flash
Loden Pajamas
Rere Valencia
Flash
Balada Sedih
Rere Valencia
Flash
Hikayatnya Hikayat
Rere Valencia
Flash
Putri Kami
Rere Valencia
Novel
Berharga
Rere Valencia
Flash
Werewolf: Adegan ke 2
Rere Valencia
Flash
Nakal
Rere Valencia
Flash
Aku Paranoid
Rere Valencia
Flash
Menit-Menit Genting
Rere Valencia
Novel
Destiny
Rere Valencia