Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Roberto memandang ke arah pertandingan, sudah sekitar 8 pekan ia tidak bermain, hanya masuk dalam skuad dan menyaksikan kawan-kawan se tim nya bertanding tanpa pernah dimainkan. Keputusannya memilih tim sebesar Real Madrid yang meskipun sejak musim sebelumnya sedang bermasalah dan dalam masa transisi setelah ditinggalkan oleh salah satu penyerang terbesar mereka, Markus yang pindah ke klub rival, Barcelona, yang dianggap sebagai pengkhianatan terbesar klub, serta gelandang pengatur tempo mereka Sebastian yang memilih pensiun, ia pikir tidak salah, namun namanya juga jiwa mudanya masih menggebu apalagi masih berusia 16 tahun, amarah tentu saja ada, karena di usia segitu rasa ingin membuktikan diri begitu besar, apalagi setelah notifikasi handphonenya bergetar, skor antara Barcelona dan Malaga berubah dimana kakaknya Alvarez baru saja mencetak gol bagi Malaga ke gawang Barca.
Ada rasa sesal mengapa ia tidak memilih tim papan tengah dulu agar dirinya mendapat waktu bermain lalu berkembang, dan betul saja Barca lawan Malaga selesai, satu-satunya gol dari Alvarez menjadi penentu pertandingan, "Seandainya aku bermain untuk Levante atau Celta Vigo" Pikir Roberto.
Pertandingan selesai, Madrid menang 3-0 dan tentu saja Roberto seperti biasa sama sekali tidak dimainkan, tiba-tiba saat hendak pulang dan menuju mobilnya yang diparkir seseorang mendekatinya, Markus, mulanya Roberto mengira karena keduanya sama sama warga Brazil keturunan Portugal, tapi tak disangka Markus mengajak Roberto untuk berkhianat, "Jaminan tempat bermain" Begitulah kira kira inti dari pembicaraan pemain yang sedang cedera sehingga tidak ikut serta ketika tim bermain melawan Malaga tersebut. Karena rasa hormat pada Markus meski seniornya itu dianggap pengkhianat Roberto pun menjawab pikir pikir dulu.
Di rumah Roberto memikirkan itu bahkan hampir tidak bisa rileks, untung saja ia memiliki beberapa terapis dan seorang psikolog pribadi di kediamannya yang mewah, yang ia tinggali bersama Alvarez, Alvarez pun turut mendengarkan curhat adiknya tersebut, ia tahu saudara nya tersebut sedang stress karena tak kunjung dimainkan, saat itu Roberto belum pada tahap menceritakan bahwa ia ditemui Markus, dan saat Roberto cerita, baik Alvarez, psikolog, dan para terapis terkejut, secara serempak mereka bertanya apa jawaban dari Roberto, yang ia jawab ia masih pikir pikir dulu.
Berita ajakan dari Markus akhirnya sampai ke internal klub, salah satu terapis Roberto membocorkannya karena tak ingin masa depan aset Los Blancos lepas begitu saja, apalagi ke klub rival setelah drama kepindahan Markus musim sebelumnya, semua internal klub membicarakannya, bahkan presiden klub Antonio Ferrera, tapi keputusan tetap ada di tangan pelatih, dan di pekan ke 9 la liga Madrid yang menang besar 8-0 tetap sama sekali tidak memainkan Roberto, pun pekan ke 9, 10, 11, 12, 13 hingga ke 14, sudah sekitar 7 minggu sejak berita tersebut santer, media pun berspekulasi, apalagi ibu Roberto dan Alvarez sempat tertangkap mata kamera bertemu dengan president klub Barca, Joan Iglesias, yang meski orang luar katalan tapi dianggap sukses membangkitkan klub katalan tersebut secara ekonomi dan membebaskan klub tersebut dari hutang.
Hingga akhirnya pekan ke 3 liga champions melawan Fiorentina yang saat itu menjadi penguasa Serie A, salah satu penyerang, Andrea Lukatoni cedera karena mendapat sapuan horor dari bek Fiorentina, saat itu Madrid sedang tertinggal 1-0 dan sudah memasuki menit ke 63, Roberto cuek, toh masih ada Diego yang posisinya sama dengan dirinya yang juga sama sama duduk di bangku cadangan serta lebih senior, tiba tiba justru Roberto yang dipanggil, ia baru tahu Diego tiba tiba mengalami nyeri di perut setelah sampai di Bernabue sebelum pertandingan dimulai.
Roberto pun tak ingin meyia-nyiakan kesempatan, tarian sambanya menjelma di lapangan, ia sering berlari melalui dua sampai tiga bek lawan, dan puncaknya ada saat ia memberikan assit tanpa melihat yang membuat Madrid berbalik unggul 2-1 ketika menit sudah memasuki masa injuri time, semua Madridista dan Ninas bersorak, mereka meneriakkan nama Roberto dan menyanyikan lagu puja puji untuknya, Roberto memang bermain untuk klub terbesar, Real Madrid, tapi ia tak pernah menyangka begitu besarnya perbedaan ketika berada di lapangan daripada ketika berada di bangku cadangan, perbedaannya layaknya seperti merasakan salju langsung ketimbang hanya mendengar dari orang lain.
Sejak itu, pekan pekan selanjutnya baik di la liga maupun liga champions ataupun copa del rey dan kompetisi lainnya Roberto selalu dimainkan, dan di akhir penghujung tahun berikutnya dirinya berada di peringkat ke 9 Ballon D'or, sebuah prestasi yang tidak ada apa-apanya ketimbang pemain bintang besar namun bagi pemain muda yang baru bangkit apalagi setelah melewati pekan pekan tanpa dimainkan, adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Roberto pun berjanji akan bermain lebih baik lagi dan makin memaksimalkan dirinya di musim baru yang baru berjalan tiga bulan serta tentu musim-musim berikutnya.