Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ia dapat, dengan khidmat, menggumamkan lagu cinta dan rindu pada Yang Satu-satunya Menerangi Malam, Bulan. Di hening malam yang hanya ada beberapa kelelawar melintas langit atau suara jangkrik dan sorotan lampu kunang-kunang, Pungguk tua bermunajat. Ia berusaha sebaik mungkin, mendendangkan lagu dengan lirik yang sudah dipilah dan dipilih kata-katanya dengan seksama agar dapat mewakili perasaan cinta dan rindunya yang sunyi.
Sebetulnya banyak pungguk yang tidak seperti Pungguk tua, mereka tidak ingin berusaha menjadi sebuah perwujudan dari peribahasa yang pernah mereka dengar dari manusia: ‘Seperti Pungguk Merindukan Bulan’. Karena mereka terlalu sibuk dengan kebutuhan mendasar, seperti mencari kudapan malam: tikus-tikus hutan, kelinci, atau kodok di dekat danau. Mereka mencoba lebih realistis bahwa hidup mereka hanya sebentar, maka kegiatan mencari kudapan lebih penting dari pada sekadar ‘Merindukan Bulan’.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi Pungguk tua. Ia sibuk menasbihkan dirinya, berusaha mengakui bahwa ia bukan apa-apanya dibandingkan dengan Bulan. Saking taatnya merindukan Bulan, bisa saja, ada kemungkinan bahwa peribahasa tersebut berasal dari manusia yang memperhatikan ketaatannya.
Banyak pungguk-pungguk mencibir tindakannya. Terutama para pungguk muda yang meragukan Bulan untuk menjadi satu-satunya benda langit yang harus dirindukan dan digumamkan lagu cinta sepanjang malam. Pungguk-pungguk muda ini sering bertanya, “Ada jutaan bintang yang lebih terang dari Bulan. Ada juga jutaan satelit planet lain yang bisa memantulkan cahaya bintang, lebih terang dari Bulan. Mengapa harus Bulan yang satu-satunya kita rindukan?”
Kelompok pungguk yang lain juga berpendapat bahwa, mungkin saja, peribahasa tersebut hanyalah sebuah sintesa dari kebudayaan dan ritual ‘Merindukan Bulan’ yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Mungkin awalnya merupakan semacam perayaan yang makin lama, harus semakin sering diadakan di malam yang hening guna mengingat keindahan dan merupakan suatu bentuk kekaguman pada Bulan. Lalu, kelompok pungguk ini mulai mencari asal-usul Bulan dan asal muasal ritual ‘Merindukan Bulan’ di antara para pungguk tua.
Namun, bagi Pungguk tua kita, rindu dan cinta yang ia rasakan berbeda. Ia merasa bahwa apa yang ada di hatinya lebih memikat tapi tidak mengikat, lebih mendasar tapi tidak merumitkan, lebih indah dan menggugah tapi tidak meriah, dari pada apa yang mereka semua bilang. Pungguk tua mengakui kecerdasannya tidak dapat menjangkau paham-paham dan analisa seperti itu. Pungguk tua juga mengakui tidak mempunyai kemampuan mumpuni untuk dapat mengeluarkan pernyataan seperti itu tentang ‘Merindukan Bulan’. Tapi ia tidak setuju bila harus menjalani satu pilihan dalam ‘Merindukan Bulan’.
Pungguk tua selalu merasa heran pada setiap mata dan tengokan para pungguk lainnya yang mengikuti dirinya ketika hendak menggumamkan lagu cinta dan rindu pada Bulan dan bukannya mencari kudapan. Apa yang salah dari menggumamkan lagu cinta dan rindu pada Bulan? Apa yang aku langgar sebetulnya? Bahkan ia pernah menguping pembicaraan para pungguk muda, bahwa ia adalah pungguk tua yang kolot. Apa yang mereka maksud kolot? Tanya pungguk tua sembari menatap Bulan dengan khidmat. Mengapa aku disebut kolot hanya karena masih merindukan Bulan? Apa yang salah dengan melestarikan ritual ini? Mengapa para pungguk muda harus bersikap seperti itu? Aku tahu, mereka kritis. Tapi haruskah segala sesuatunya dikritisi? Haruskah mereka mengkritisi setiap ritual dan budaya zaman dahulu? Apa setiap ritual dan budaya yang diwariskan kepada mereka itu kolot semua? Apa yang salah dengan melestarikan sesuatu yang baik?
Cibiran para pungguk muda makin menyakitkan hati Pungguk tua. Ia merasa tak pernah merugikan seekor pungguk pun merasa kecewa dan sedih. Setiap hening malam, lagu cinta dan rindu yang ia gumamkan kadang terselip sedikit curahan hatinya. Ia masih berharap baik pula pada pungguk-pungguk muda yang mencibirnya agar menyadari kesalahan tingkah laku mereka. Namun cibiran makin pedas dan menyakitkan hati Pungguk tua. Di lain hari, malah mereka bukan hanya mencibir, tapi melarang Pungguk tua melakukan kebiasaannya dan menaruh kudapan di tempatnya bergumam mendendangkan lagu. Lagu cinta dan rindu yang tadinya hanya terselip penggalan curahan hati Pungguk tua, berubah menjadi lagu kesedihan dan kekecewaan yang Pungguk tua nyanyikan akhir-akhir ini. Dan di dalam lagunya yang terbaru, terselip harapannya yang sederhana dan sebetulnya menyakitkan: pergi sejauh mungkin dari hutan ini dan bersanding dengan Bulan.
Maka pada suatu malam, ketika para kelelawar melintas langit, jangkrik berbincang-bincang dan kunang-kunang melakukan tarian kawin, Pungguk tua kembali ke tempatnya berdendang. Menggumamkan lagu kesedihan dan kekecewaan yang terselip harapan sederhana nan menyakitkan: pergi sejauh mungkin dan bersanding dengan Bulan. Pada malam itu, ketika para pungguk lain asyik mencari kudapan karena dengan alasan lebih realistis, dan kelompok yang lain sibuk menelaah sejarah asal-usul mereka, juga para pungguk muda yang sibuk mencibir, Pungguk tua merasakan dirinya menjadi ringan. Ia merasa tubuhnya terangkat ke angkasa, melayang tanpa mengepak dan terbang jauh sampai menembus awan. Di sana, di atas awan, Pungguk tua mendengar suatu lagu yang merdu. Kali ini, lagu yang ia dengar berbeda, namun bagai menjawab lagunya yang biasa ia dendangkan. Di atas sana, ia dapat bertemu Bulan yang cantik.
Sementara itu, seorang Pemburu bersembunyi di balik semak dan menembak kepala Pungguk tua yang sedang khidmat. Sambil berjalan, Pemburu itu berpikir, hidangan apa yang ia akan buat? Pungguk goreng atau pungguk bakar?
Di atas sana, Bulan bersinar dengan indahnya.