Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Percakapan Terakhir
0
Suka
32
Dibaca

Aku hidup seperti orang-orang pada umumnya. Bangun pagi, makan seadanya, menunaikan doa-doa pendek, lalu menyeruput minuman favoritku seperti kebiasan-kebiasanku sebelumnya. Tak ada yang benar-benar berubah, kataku pada diri sendiri—kecuali satu hal: sunyi kini tinggal lebih lama di ruang-ruang yang dulu kita isi bersama.

“Kamu tuh aneh,” katamu dulu sambil tertawa.

“Kenapa?”

“Minumannya nggak pernah ganti.”

Aku mengangkat bahu. “Kalau yang sudah cocok, kenapa harus diganti?” ujarku, lalu menyesapnya lagi—seperti meneguk kebiasaan, seperti mempertahankan yang tak ingin pergi.

Percakapan itu yang dulu kita miliki—masih kuharap diam-diam terjadi kembali hari ini.

Tak ada lagi panggilan tengah malam. Tak ada pesan singkat yang datang tanpa sebab, sekadar berkata, “ayo keluar jajan.” Kini hari-hariku berjalan tanpa suaramu, tanpa tawa yang biasa menyela lelah. Aku mencoba membiasakan diri dengan itu, meski kadang rindu datang seperti tamu tak diundang, duduk diam di sudut dada.

Beberapa kali aku mengirimmu berpuluh-puluh pesan panjang. Ruang obrolan itu sudah seperti tugas di Microsoft Word—semuanya rata kanan. Aku sama sekali tak merasa putus asa saat menulisnya; hanya berharap, barangkali, satu saja akan sampai ke hatimu.

“Aku cuma ingin kamu jawab,” kataku suatu malam pada layar ponsel yang dingin.

”Aku ada disini untuk kamu bukan hanya saat senang dan bahagia tapi untuk banyak hal yang terjadi dalam hidupmu entah itu sedih, susah, amarah, dan kecewa aku juga ingin merasakannya, aku mau jadi tempat kamu pulang meskipun kamu membawa begitu banyak beban dipunggung dan pikiranmu” begitu salah satu pesanku padanya

“Terserah mau marah atau diam, yang penting kamu ada.” Ucapku penuh harap sambil menatap layar ponsel yang berharap ada dering darimu.

Namun saat kubaca kembali, aku benar-benar tampak seperti seseorang yang sedang kehilangan arah, tampak seperti seseorang yang tersesat di antara perasaannya sendiri. Dan barangkali, hal paling menyebalkan dari mencintai seorang penulis adalah: pesanku berubah menjadi kutipan indah di Instagram atau Twitter—cantik dibaca, namun sunyi dari balasan.

“Aku minta maaf atas semua yang terjadi, kamu boleh pukul aku sepuasnya sampai amarah kamu mereda tapi kamu tolong mengerti aku ya, hidupku sedang kacau, rasanya tidak tega untuk memberimu beban ini dan menceritakan semuanya sekarang karena kamu juga sudah punya beban yang berat. Kamu tolong sabar ya”

Aku tersenyum getir, mataku sedikit sembab.

“Baiklah, aku akan mengerti tapi kamu juga tolong mengerti aku, aku hanya ingin diberi kabar dan jangan menghilang seperti sebelum-sebelumya.” 

Ucapanku kala itu barangkali terbaca sebagai keikhlasan yang dipaksakan di matanya, namun demi menjaga hubungan tetap utuh, aku memilih mengangguk dan mengiyakan segalanya.

Percakapan panjang terakhir ku dengannya terjadi tepat sebelum ia mengulang kesalahan yang sama, seolah maafnya tak pernah benar-benar ada.

Aku meyakinkan diriku, mungkin kamu jauh lebih bahagia sekarang. Hidupmu terasa lebih ringan tanpa aku. Tak ada suara cerewet yang menahanmu pulang cepat, tak ada alasan untuk menolak malam. Kau bisa tinggal sampai subuh, meneguk apa pun yang membakar tenggorokan, lalu melupakan namaku tanpa perlu merasa bersalah. Barangkali memang begitu seharusnya—kita saling melepaskan agar bisa bernapas lagi.

Kini aku mengerti, barangkali memang begitu caranya dua orang belajar merdeka: saling pergi dengan rapi, tanpa gaduh, tanpa saling menggenggam terlalu lama.

Aku sudah meminta maaf atas segala salahku. Atas cara mencinta yang lebih sering melukai daripada merawat. Atas kata-kata yang datang terlambat, atas diam yang seharusnya bicara. Diam-diam, aku berharap kau pun suatu hari menemuiku di tengah jalan, membawa maafmu sendiri, meski hanya agar kenangan kita tak terlalu berat kupanggul sendirian.

**

Sore ini aku duduk di kafe favoritku tempatmu yang sering kali menemaniku. Tempat yang masih menyimpan jejak tawa, cangkir-cangkir hangat, dan jeda-jeda panjang yang dulu terasa cukup hanya dengan saling menatap. Di pengeras suara, lagu Gracie Abrams—I Miss You, I’m Sorry—mengalun pelan, seperti sengaja mengorek luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Aku menatap jalanan, membayangkan kau datang mencariku seperti dulu saat tak kau temukan aku di rumah atau dimanapun. Tapi yang datang hanya ingatan—dan aku kembali belajar satu hal yang paling sulit: merindukan seseorang yang tak lagi mencarimu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Percakapan Terakhir
Majestic Journey
Novel
Reverse
Rebecca Jemima Pasaribu
Novel
Bronze
Rahasia Rasri
Ariyanto
Novel
Bronze
Never Ending Story
Karina saraswati
Skrip Film
Surat Cinta yang Terbaca
Imajinasiku
Skrip Film
Kondangan Yuk!
Herman Sim
Flash
Bronze
Haji tanpa Gelar
Sulistiyo Suparno
Flash
Pieces of Hearts B
Adinda Amalia
Novel
PROMISE
Dy Fransiska
Novel
Thirtieth Night
Ri(n)Jani
Novel
25
Papp Tedd
Flash
Dream
Keyda Sara R
Flash
Bronze
Potong Tangan
Sulistiyo Suparno
Novel
Janji yang Terpatahkan
A.Ariny Syahidah
Novel
With You, I'm OKay
Nadia Amalia
Rekomendasi
Flash
Percakapan Terakhir
Majestic Journey
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Majestic Journey
Flash
Sampai Mati Aku Akan Merindukannya
Majestic Journey