Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
0
Suka
2
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

anakku surat ini ku tulis 13 menit menjelang dhuhur

saat panas mulai naik, dan dadaku ikut bergejolak mengingat namamu.

Kamu jauh, Nak.

Jauh dari rumah.

Jauh dari suara ibu.

Dan entah kenapa… makin jauh dari rasa syukur.

Hari ini ayah ingin bicara tentang satu ayat yang sering kamu ucap tanpa benar-benar kamu rasakan:

“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ayat ini bukan kalimat manis, Nak.

Ini tamparan halus.

Ini pengingat keras bagi anak rantau yang hidupnya penuh tuntutan tapi miskin rasa terima kasih.

Di kota itu, kamu sibuk menghitung apa yang belum kamu punya.

Gaji yang terasa kecil.

Pekerjaan yang tak sesuai mimpi.

Kamar sempit yang jauh dari kata nyaman.

Lalu kamu bertanya dalam hati:

“Kenapa hidupku begini?”

Nak…

kamu lupa satu hal berbahaya:

kamu sibuk menuntut, tapi lupa memuji.

QS Al-Fatihah ayat 2 tidak bicara soal kaya atau miskin.

Ia bicara soal sikap hati.

Tentang apakah kamu masih sanggup berkata alhamdulillah

saat hidup tidak sesuai rencana.

Ayah tahu, kamu capek.

Capek berjuang sendirian.

Capek melihat orang lain lebih cepat berhasil.

Capek berpura-pura kuat di depan dunia.

Tapi dengar ini baik-baik, Nak:

hidup yang kehilangan syukur akan terasa busuk meski penuh pencapaian.

Kamu boleh lapar.

Kamu boleh gagal.

Kamu boleh jatuh.

Tapi saat kamu berhenti bersyukur,

di situlah hidup mulai menghancurkanmu dari dalam.

Ayah tidak heran kalau kamu marah pada keadaan.

Ayah hanya sedih kalau kamu mulai lupa bahwa Allah tetap Rabb-mu

meski hidupmu belum jadi apa-apa.

“Rabbil ‘alamin” artinya Allah bukan cuma Tuhan saat kamu sukses.

Dia Tuhan saat kamu gagal.

Saat kamu diremehkan.

Saat kamu pulang malam dengan kepala tertunduk.

Saat kamu menangis sendirian di kamar orang.

Nak…

bersyukur itu bukan berarti pasrah.

Bukan berarti menyerah.

Bersyukur itu mengakui bahwa Allah masih bekerja

meski kamu belum melihat hasilnya.

Di kota orang, kamu belajar kerasnya dunia.

Tapi jangan sampai kamu lupa memuji Tuhanmu.

Karena anak rantau yang kehilangan syukur

akan kehilangan kekuatan paling dasar untuk bertahan.

Ayah tidak butuh kamu selalu tersenyum.

Ayah hanya ingin kamu berhenti mengutuk hidupmu sendiri.

Berhenti berkata:

“Kenapa aku?”

dan mulai bertanya:

“Apa yang masih bisa aku syukuri hari ini?”

Nak,

hidupmu mungkin belum berhasil,

tapi napasmu masih berjalan.

Kakimu masih bisa melangkah.

Dan doa ayah masih mengejarmu dari jauh.

Itu sudah cukup untuk mengucap satu kalimat jujur:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Azan dhuhur hampir terdengar.

Dan ayah menutup surat ini dengan harap yang sama:

semoga kamu tidak hanya mengejar hidup yang besar,

tapi juga hati yang pandai bersyukur.

Karena anak rantau yang belajar memuji Allah

tidak akan pernah benar-benar kalah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Sepersekian Tahun yang Lalu
Nisa Amalia
Novel
Bahasa Langit
Syafi'ul Mubarok
Flash
Bronze
Doa yang Menggugat
Bakasai
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Flash
Sita Permata Syurga
Rahmi Susan
Flash
Adi Parasakti
Vitri Dwi Mantik
Novel
Bronze
Pintu Tauhid
Imajinasiku
Cerpen
AKU PEMILIK HATIKU, DIRIKU DAN HIDUPKU
Iman Siputra
Novel
Two Different World
Zaafatm
Novel
Bronze
Kang Santri Love story
Safitri
Novel
Gold
100 Pesan Nabi untuk Wanita
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Ibu Merindukanmu
Daud Farma
Flash
Bronze
Sebentar Lagi Natal
Nuel Lubis
Rekomendasi
Flash
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Novel
Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Novel
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi