Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
0
Suka
1,130
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

anakku surat ini ku tulis 13 menit menjelang dhuhur

saat panas mulai naik, dan dadaku ikut bergejolak mengingat namamu.

Kamu jauh, Nak.

Jauh dari rumah.

Jauh dari suara ibu.

Dan entah kenapa… makin jauh dari rasa syukur.

Hari ini ayah ingin bicara tentang satu ayat yang sering kamu ucap tanpa benar-benar kamu rasakan:

“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ayat ini bukan kalimat manis, Nak.

Ini tamparan halus.

Ini pengingat keras bagi anak rantau yang hidupnya penuh tuntutan tapi miskin rasa terima kasih.

Di kota itu, kamu sibuk menghitung apa yang belum kamu punya.

Gaji yang terasa kecil.

Pekerjaan yang tak sesuai mimpi.

Kamar sempit yang jauh dari kata nyaman.

Lalu kamu bertanya dalam hati:

“Kenapa hidupku begini?”

Nak…

kamu lupa satu hal berbahaya:

kamu sibuk menuntut, tapi lupa memuji.

QS Al-Fatihah ayat 2 tidak bicara soal kaya atau miskin.

Ia bicara soal sikap hati.

Tentang apakah kamu masih sanggup berkata alhamdulillah

saat hidup tidak sesuai rencana.

Ayah tahu, kamu capek.

Capek berjuang sendirian.

Capek melihat orang lain lebih cepat berhasil.

Capek berpura-pura kuat di depan dunia.

Tapi dengar ini baik-baik, Nak:

hidup yang kehilangan syukur akan terasa busuk meski penuh pencapaian.

Kamu boleh lapar.

Kamu boleh gagal.

Kamu boleh jatuh.

Tapi saat kamu berhenti bersyukur,

di situlah hidup mulai menghancurkanmu dari dalam.

Ayah tidak heran kalau kamu marah pada keadaan.

Ayah hanya sedih kalau kamu mulai lupa bahwa Allah tetap Rabb-mu

meski hidupmu belum jadi apa-apa.

“Rabbil ‘alamin” artinya Allah bukan cuma Tuhan saat kamu sukses.

Dia Tuhan saat kamu gagal.

Saat kamu diremehkan.

Saat kamu pulang malam dengan kepala tertunduk.

Saat kamu menangis sendirian di kamar orang.

Nak…

bersyukur itu bukan berarti pasrah.

Bukan berarti menyerah.

Bersyukur itu mengakui bahwa Allah masih bekerja

meski kamu belum melihat hasilnya.

Di kota orang, kamu belajar kerasnya dunia.

Tapi jangan sampai kamu lupa memuji Tuhanmu.

Karena anak rantau yang kehilangan syukur

akan kehilangan kekuatan paling dasar untuk bertahan.

Ayah tidak butuh kamu selalu tersenyum.

Ayah hanya ingin kamu berhenti mengutuk hidupmu sendiri.

Berhenti berkata:

“Kenapa aku?”

dan mulai bertanya:

“Apa yang masih bisa aku syukuri hari ini?”

Nak,

hidupmu mungkin belum berhasil,

tapi napasmu masih berjalan.

Kakimu masih bisa melangkah.

Dan doa ayah masih mengejarmu dari jauh.

Itu sudah cukup untuk mengucap satu kalimat jujur:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Azan dhuhur hampir terdengar.

Dan ayah menutup surat ini dengan harap yang sama:

semoga kamu tidak hanya mengejar hidup yang besar,

tapi juga hati yang pandai bersyukur.

Karena anak rantau yang belajar memuji Allah

tidak akan pernah benar-benar kalah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Skrip Film
Embun di Atas Daun Maple - Skenario FILM
Hadis Mevlana
Flash
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Novel
Gold
Bisnis ala Nabi: Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis
Bentang Pustaka
Novel
Jejak Garuda Di Wageningen
Adam Nazar Yasin
Novel
Berpisah Atau Bersatu
Riyaa_2707
Flash
Bronze
CAHAYA & SHABIR
Xielna
Flash
Suratan Takdir
Devi Wulandari
Cerpen
Bronze
Stok Ekstrasabar
Ninik Sirtufi Rahayu
Flash
Bronze
Di Balik Tirai
Reda Rendha Deviasri
Flash
Bronze
Gigi-gigi yang Jatuh-jatuh karena Kata-kata
Jie Jian
Flash
Bronze
Iblis tak bisa menyesatkan, Nabi tak bisa memberi hidayah
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Kesucian yang Ternoda
maspupah Az-Zahra
Cerpen
Proposal Hati (Series 2)
Airun Atnis
Novel
Bronze
Senandung Bukit Cinta
Dudun Parwanto
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Syukur yang Tertinggal di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Mengenal Tuhan Yang Mengurus Hidupmu
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Balik Merah Putih
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Berjuang Tidak Tersesat Sampai Selamat
Ahmad Wahyudi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Belajar Berserah dalam Doa yang Menguatkan
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tidak Ada Yang Bisa Di Tawar di Akhirat
Ahmad Wahyudi
Novel
Di balik perjuangan menunggu
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tiga tangan di balik setir
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Di Antara Jatuh, Doa, dan Nama Ayah
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Jangan Tunda Taubat
Ahmad Wahyudi
Novel
KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA
Ahmad Wahyudi