Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
1
Suka
2,111
Dibaca

Nak,

ayah tahu kamu membaca ini sendirian.

Di kamar sempit yang kau sebut “tempat tinggal”, bukan rumah.

Di kota yang lampunya terang, tapi hatimu sering gelap.

Kamu berangkat dari kampung dengan dada membusung.

Katamu: “Aku bisa.”

Katamu: “Aku kuat.”

Katamu: “Aku nggak mau hidup biasa-biasa.”

Ayah mengangguk.

Tapi setelah kamu pergi, ayah duduk lama di teras.

Dan ayah tahu, satu hal tertinggal:

kamu lupa membawa Allah di awal langkahmu.

Nak…

QS. Al-Fatihah ayat 1 bukan pembuka yang manis.

Ia peringatan keras:

Hidup ini harus dimulai dengan Bismillah, atau ia akan menghabisimu perlahan.

Di kota itu, kamu belajar pura-pura.

Pura-pura kuat.

Pura-pura bahagia.

Pura-pura tidak takut gagal.

Padahal tiap malam kamu menatap langit-langit sambil bertanya:

“Salahku di mana?”

Kamu sibuk mengejar target.

Sibuk membuktikan diri.

Sibuk mengejar pengakuan orang-orang yang bahkan tak peduli kamu pulang atau hancur.

Tapi kamu lupa satu hal sederhana:

kamu memulai semuanya tanpa menyebut nama Allah.

Nak…

hidup yang dimulai tanpa Bismillah itu seperti lari tanpa arah.

Kamu capek.

Kamu berdarah.

Tapi kamu tidak tahu ke mana harus berhenti.

Ayah tahu rasanya jadi anak rantau.

Makan seadanya.

Tidur dengan pikiran berat.

Menelan gengsi demi bertahan.

Dan di titik terendah itu, seharusnya kamu berbisik pelan:

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Bukan untuk dilihat orang.

Bukan untuk gaya.

Tapi untuk menyelamatkan dirimu sendiri.

Nak,

Bismillah bukan kata religius.

Ia adalah keputusan.

Keputusan untuk tidak melawan hidup sendirian.

Keputusan untuk mengakui: “Aku lemah tanpa Allah.”

Kamu boleh merantau sejauh apa pun.

Kamu boleh jatuh berkali-kali.

Tapi jangan pernah sombong sampai mengira Allah hanya milik kampung halaman.

Allah juga ada di kota yang kejam itu.

Di kegagalanmu.

Di tangismu yang kamu sembunyikan.

Di doa-doa yang hampir kamu tinggalkan.

Ayah tidak menuntut kamu sukses cepat.

Ayah hanya takut kamu selamat secara dunia, tapi hancur secara jiwa.

Takut kamu pulang membawa uang, tapi kehilangan iman.

Nak…

kalau besok kamu bangun lagi dengan dada sesak,

kalau hidup masih terasa berat,

jangan mulai hari dengan keluh kesah.

Mulailah dengan satu kalimat yang bisa mengubah arah hidupmu:

Bismillahirrahmanirrahim.

Karena hidup yang diawali dengan nama Allah

mungkin tetap keras,

tapi tidak akan kosong.

Dan ayah lebih rela kamu lambat,

asal kamu pulang dalam keadaan selamat—

bukan hanya tubuhmu,

tapi juga hatimu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Novel
Gold
100 Pesan Nabi untuk Wanita
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Kisah-Kisah Di Tanah Suci
Anjrah Lelono Broto
Novel
Gold
Pernikahan Impian
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Judi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Kekuatan Surat AL-IKHLAS
Rana Kurniawan
Novel
Aku dan Syawal
Siti Sarah Madani
Cerpen
Bronze
Bala Riba
Maldalias
Novel
Bronze
ISTIQOMAH
Nengshuwartii
Cerpen
Bronze
Ibu Polwan di Libur Natal Tahun Ini
Anjrah Lelono Broto
Novel
Gold
Kapal Nuh Abad 21
Bentang Pustaka
Novel
9
Syauqi Sumbawi
Novel
Bronze
Wellang
Hadis Mevlana
Novel
Bronze
Wanita Yang Dirindukan Surga
HANA PUSPARINI
Novel
Bronze
Seperti Fatimah
zee astri
Rekomendasi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tidak Ada Yang Bisa Di Tawar di Akhirat
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Mengenal Tuhan Yang Mengurus Hidupmu
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Satu Satunya Sandaran
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Tujuan Hidup Muslim (KSP Pekan ke lima 2026)
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Peganglah Tauhid, Jadilah Cahaya
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Tanda Kiamat Besar (Lanjutan)
Ahmad Wahyudi
Novel
KITAB YANG DI BACA, NEGERI YANG LUPA
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Bawah Cahaya Masjid
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Di Antara Jatuh, Doa, dan Nama Ayah
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Persentase yang Tertinggal
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Kami Yang di Setir
Ahmad Wahyudi