Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
1
Suka
3,167
Dibaca

Nak,

ayah tahu kamu membaca ini sendirian.

Di kamar sempit yang kau sebut “tempat tinggal”, bukan rumah.

Di kota yang lampunya terang, tapi hatimu sering gelap.

Kamu berangkat dari kampung dengan dada membusung.

Katamu: “Aku bisa.”

Katamu: “Aku kuat.”

Katamu: “Aku nggak mau hidup biasa-biasa.”

Ayah mengangguk.

Tapi setelah kamu pergi, ayah duduk lama di teras.

Dan ayah tahu, satu hal tertinggal:

kamu lupa membawa Allah di awal langkahmu.

Nak…

QS. Al-Fatihah ayat 1 bukan pembuka yang manis.

Ia peringatan keras:

Hidup ini harus dimulai dengan Bismillah, atau ia akan menghabisimu perlahan.

Di kota itu, kamu belajar pura-pura.

Pura-pura kuat.

Pura-pura bahagia.

Pura-pura tidak takut gagal.

Padahal tiap malam kamu menatap langit-langit sambil bertanya:

“Salahku di mana?”

Kamu sibuk mengejar target.

Sibuk membuktikan diri.

Sibuk mengejar pengakuan orang-orang yang bahkan tak peduli kamu pulang atau hancur.

Tapi kamu lupa satu hal sederhana:

kamu memulai semuanya tanpa menyebut nama Allah.

Nak…

hidup yang dimulai tanpa Bismillah itu seperti lari tanpa arah.

Kamu capek.

Kamu berdarah.

Tapi kamu tidak tahu ke mana harus berhenti.

Ayah tahu rasanya jadi anak rantau.

Makan seadanya.

Tidur dengan pikiran berat.

Menelan gengsi demi bertahan.

Dan di titik terendah itu, seharusnya kamu berbisik pelan:

“Bismillahirrahmanirrahim.”

Bukan untuk dilihat orang.

Bukan untuk gaya.

Tapi untuk menyelamatkan dirimu sendiri.

Nak,

Bismillah bukan kata religius.

Ia adalah keputusan.

Keputusan untuk tidak melawan hidup sendirian.

Keputusan untuk mengakui: “Aku lemah tanpa Allah.”

Kamu boleh merantau sejauh apa pun.

Kamu boleh jatuh berkali-kali.

Tapi jangan pernah sombong sampai mengira Allah hanya milik kampung halaman.

Allah juga ada di kota yang kejam itu.

Di kegagalanmu.

Di tangismu yang kamu sembunyikan.

Di doa-doa yang hampir kamu tinggalkan.

Ayah tidak menuntut kamu sukses cepat.

Ayah hanya takut kamu selamat secara dunia, tapi hancur secara jiwa.

Takut kamu pulang membawa uang, tapi kehilangan iman.

Nak…

kalau besok kamu bangun lagi dengan dada sesak,

kalau hidup masih terasa berat,

jangan mulai hari dengan keluh kesah.

Mulailah dengan satu kalimat yang bisa mengubah arah hidupmu:

Bismillahirrahmanirrahim.

Karena hidup yang diawali dengan nama Allah

mungkin tetap keras,

tapi tidak akan kosong.

Dan ayah lebih rela kamu lambat,

asal kamu pulang dalam keadaan selamat—

bukan hanya tubuhmu,

tapi juga hatimu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Skrip Film
Menikung Sepertiga Malam
Reyhan Arrasuli
Novel
Satu Hati Dua Cinta
Yovinus
Cerpen
Bronze
Doa di sebuah Kampus
Lora Arkansas
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Ngaku Gaul Kok Galau
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Tabiat tentang Keturunan
rohmat yazid nashiruddin
Flash
Bronze
Safari Enam Rakaat
syafetri syam
Novel
Bronze
Lyra's Love Journey
Mikyala
Novel
Gold
Takdir Allah Tak Pernah Salah
Mizan Publishing
Novel
Gold
Ketika Nonmuslim Membaca Al-Quran
Bentang Pustaka
Novel
Sayang lahir batin
fauzi Ardiansyah
Novel
صحف
roma dhon
Flash
Bronze
Jembatan Terakhir
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Bismillah yang Kamu Lupakan di Kota Orang
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Bisikan dari Langit yang Tak Pernah Pergi
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Tujuan Hidup Muslim (KSP Pekan ke lima 2026)
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tetap Lurus di Negeri Yang Belok
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Ampunan Sering Datang Sebelum Kita Merasa Pantas
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Hitung Untung Sampai Desimal, Hitung Nyawa Sampai Lupa
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Tiga tangan di balik setir
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Memulai Hidup Dengan Nama Allah
Ahmad Wahyudi
Novel
Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Berjuang Tidak Tersesat Sampai Selamat
Ahmad Wahyudi
Novel
Bronze
Terakhir Kali Kita Tidak Jadi Asing
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Satu Satunya Sandaran
Ahmad Wahyudi
Novel
Di Balik Merah Putih
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Bronze
Kami Yang di Setir
Ahmad Wahyudi
Flash
Bronze
Persentase yang Tertinggal
Ahmad Wahyudi