Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lantunan lagu ulang tahun itu diakhiri dengan tiupan lilin kecil di atas kue. Asap tipis mengepul, membawa aroma vanilla yang tercampur dengan sesuatu yang pahit—mungkin hanya di kepala Rara.
"Selamat ulang tahun, Rara."
Rara terdiam. Suara itu terdengar jelas—hangat, persis seperti yang ia ingat—tapi hanya gaungnya yang tersisa di ruang kosong ini. Ia menatap lilin yang baru padam, lalu memaksakan senyum pada dirinya sendiri di cermin kecil di sudut ruangan. Ruangan yang sama sekali tidak merespons.
Tangannya gemetar saat menutup kotak kue. Pita hitam yang melingkar di atasnya terasa seperti ejekan.
Selamat Ulang Tahun, tulisan itu berbisik. Tapi untuk siapa? Untuk gadis berusia 21 tahun yang seharusnya merayakan kedewasaan, atau untuk anak perempuan yang masih terjebak dalam bayang-bayang kehilangan?
Jari-jarinya menyentuh buku harian di meja. Sampulnya sudah lusuh, dipenuhi noda tinta dan air mata yang mengering. Ia membukanya pada halaman terakhir yang ia tulis dua tahun lalu, tepat sebelum dunianya runtuh.
"Kak Rama bilang tahun depan dia akan belikan aku kue yang lebih besar. Dengan coklat favoritku di atasnya."
Rara menutup buku itu perlahan, seolah gerakan cepat akan menghancurkannya atau menghancurkan dirinya.
***
Ingatan itu datang seperti gelombang yang tidak bisa ia bendung.
Malam itu, enam tahun lalu. Bunyi piring pecah. Teriakan ayah yang memenuhi seluruh rumah. Rara yang bersembunyi di balik pintu kamarnya, menggigit bibir agar tidak menangis keras. Lalu langkah kaki Rama yang mendekat, suara kakaknya yang berbisik, "Rara, kita harus pergi. Sekarang."
Mereka berlari. Rama menggendong ibu yang sudah setengah sadar, darah mengalir dari pelipis. Rara mengikuti dari belakang, kakinya terasa berat, nafasnya tersengal. Cahaya lampu jalan yang kuning pucat membuat semuanya terlihat seperti mimpi buruk yang tak berujung.
Di rumah sakit, Rama duduk di samping Rara di bangku plastik yang dingin. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat. "Ibu akan baik-baik saja," katanya. "Kita akan baik-baik saja."
Tapi Rama tidak pernah mengatakan bahwa: dia akan baik-baik saja.
***
Rara mengerjapkan mata, kembali ke kue dengan pita hitam di depannya. Dua tahun. Sudah dua tahun sejak Rama pergi, meninggalkan lubang yang tidak bisa ia isi dengan apapun.
Ia membayangkan Rama yang datang dengan sebungkus coklat sederhana yang selalu ia beli dari toko kelontong dekat rumah mereka. Bukan coklat mahal, tapi cukup untuk membuat hari Rara terasa istimewa.
"Tahun ini," bisiknya pada kekosongan, "aku harus membeli kue sendiri."
Dadanya sesak. Tangannya meremas ujung bajunya, mencoba menahan sesuatu yang sudah lama ingin meledak. Air mata tidak lagi keluar—sudah kering sejak bulan-bulan pertama—tapi rasa sakitnya masih sama tajamnya.
Ia menancapkan lilin kecil lagi, menyalakannya dengan tangan yang gemetar. Api kecil itu menari-nari di kegelapan, satu-satunya cahaya di ruangan yang terasa terlalu besar untuk satu orang.
Rara memejamkan mata.
"Aku ingin bertemu Kak Rama," bisiknya pada semesta yang mungkin mendengar, mungkin tidak. "Entah di dalam mimpi atau di suatu tempat setelah kematian."
Ia meniup lilin. Asap mengepul lagi, kali ini membawa permohonan yang sudah ia ucapkan ratusan kali.
Kemudian, kegelapan menelannya.
***
Cahaya pertama yang ia lihat bukan dari lampu kamarnya. Ini cahaya yang lebih lembut, lebih hidup seperti pagi di bulan Mei yang belum terlalu panas.
Rara membuka mata. Di atas kepalanya adalah langit yang biru cerah tanpa awan. Di bawahnya adalah rumput yang begitu hijau sampai ia tidak yakin warna seperti ini pernah ada di dunia nyata.
Ia duduk perlahan. Tidak ada rasa berat di dadanya. Tidak ada sesak. Hanya... ringan.
"Kamu terlambat tiup lilinnya."
Jantung Rara berhenti sejenak. Ia menoleh.
Rama duduk di bawah pohon besar, membelakanginya. Bahunya yang familiar, rambut hitamnya yang sedikit ikal di ujung—semuanya sama seperti yang Rara ingat. Di tangannya, sebuah bungkusan kecil yang diputar-putar dengan jari.
Rama berdiri dan berbalik.
Wajahnya tidak ada lagi gurat kelelahan yang dulu selalu Rara lihat. Tidak ada bayangan ketakutan yang mereka berdua bagi saat menghadapi ayah. Hanya senyum. Senyum yang dulu membuat Rara merasa aman.
"Kak..." Suara Rara tercekat.
"Hei, Ra."
Rara berlari. Kakinya ringan, seolah bumi di bawahnya tidak memiliki gravitasi. Saat ia sampai di depan Rama, ia tidak menangis. Di tempat ini, air mata seolah tidak punya tempat.
"Selamat ulang tahun ke-21, Ra."
Rama menyerahkan bungkusan itu. Rara menerimanya dengan tangan gemetar. Coklat. Coklat yang sama dengan yang selalu Rama belikan—yang biasa, yang murah, tapi selalu terasa istimewa.
Kehangatan dari tangan Rama mengalir ke telapak tangannya. Nyata. Sangat nyata.
"Dunia terasa berat sejak Kakak pergi," ucap Rara pelan. "Aku harus jadi rumah untuk diriku sendiri, tapi rasanya fondasiku sering retak."
Rama mengusap kepala Rara—gerakan yang selalu ia lakukan sejak mereka kecil. "Retak itu tempat cahaya masuk, Ra. Kamu tidak sendiri. Bumi memang mendekap tubuhku, tapi jiwaku ada di setiap keberanian yang kamu punya untuk tetap hidup hari ini."
Mereka duduk bersama di bawah pohon itu. Rama bercerita tentang hal-hal kecil: kenangan masa kecil mereka, tentang bagaimana ia selalu mengkhawatirkan Rara yang terlalu keras pada dirinya sendiri.
Rara mendengarkan. Hanya mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia merasa utuh.
Tapi cahaya di sekeliling mereka mulai berubah. Putih keemasan, lembut tapi tegas.
"Aku harus kembali?" tanya Rara. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Kamu harus kembali," jawab Rama. Tegas, tapi tanpa kekejaman. "Jalani apa yang kamu suka, jadikan itu bahan bakar jiwamu. Prosesmu belum selesai, Ra. Dan saat kamu merasa lelah, ingatlah kalau aku selalu bangga melihatmu tumbuh."
Cahaya semakin terang.
"Kak Rama—"
"Aku selalu di sini, Ra. Selalu."
***
Rara mengerjapkan mata. Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden, mengenai wajahnya yang lembap bukan dari air mata, tapi dari keringat malam.
Di atas meja, kotak kue dengan pita hitam masih di sana. Lilin sudah padam sejak semalam.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Dadanya tidak sesak seperti biasa. Ia mengangkat tangan, merasakan detak jantungnya sendiri—stabil, tenang.
Rara bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Di luar, dunia mulai bangun. Burung-burung berkicau. Matahari naik perlahan di ufuk timur.
Ia tidak lagi iri pada bumi yang mendekap Rama.
Karena ia tahu, di setiap detak jantungnya, di setiap napas yang ia ambil untuk terus hidup, sebagian dari Rama akan selalu ada di sana.
Rumah tidak selalu harus berbentuk tempat.
Kadang, rumah adalah keberanian untuk tetap berdiri, meskipun fondasinya retak.