Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
AI, saya tunggu di kantin ya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.
Usai membaca pesan singkat yang Riski kirimkan, aku langsung bergegas menyeret langkahku menuju kantin yang masih ramai meskipun jam kantor telah usai. Pandanganku mengedar sejenak sebelum akhirnya kutemukan tempat duduk laki-laki itu di bagian tengah.
“Assalamu'alaikum,” sapaku begitu tiba di sana. Riski dan Hari—teman satu divisi yang menemaninya—segera berdiri dan menjura sambil menjawab salamku.
“Duduk, Ai.” Riski mempersilakan.
Aku mengangguk, lekas mengambil tempat di hadapan kedua pria itu. “Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku to the point dan kulihat wajah Riski langsung murung. Kontan saja hal itu mengundang tanya di benakku. Ada apa?
Laki-laki bernama lengkap Riski Alatas itu berdeham pelan sebelum bergumam, “Saya minta maaf, Ra.”
Eh? Minta maaf? Untuk apa? Selintas aku melayangkan tatapan penuh tanya kepada Hari, tetapi laki-laki itu langsung memalingkan muka ke samping. Ya Allah, ada apa ini? Perasaanku mulai tidak enak.
Setelah berdiam diri cukup lama, aku memberanikan diri bertanya, “Minta maaf untuk apa?”
“Saya sudah melakukan istikharah dan meminta petunjuk kepada Allah. Mungkin apa yang akan saya katakan ini akan membuatmu kecewa.” Riski berhenti untuk menarik napas. “Proses ta'aruf yang sedang kita jalani saat ini ... maaf harus saya akhiri sekarang.”
Kepalanya tertunduk usai mengatakan itu. Sementara aku terdiam meresapi kata-katanya. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepada laki-laki yang beberapa waktu lalu itu mengirimkan proposal ta’aruf kepadaku. Tetapi sampai sepuluh detik berlalu mulutku masih terkunci rapat.
“Maaf, Aira. Saya punya alasan kenapa saya ingin mengakhiri ta'aruf ini. Tapi saya tidak bisa mengatakannya kepadamu.” Suara Riski terdengar kecewa. “Saya harap kamu—”
“Aku ngerti,” potongku pelan. Lalu sambil menguatkan hati, aku menambahkan, “Aku ngerti maksud kamu.”
Ada kilasan kaget di kedua matanya. Begitu pula dengan Hari yang sejak tadi ikut mendengarkan. Mungkin mereka pikir aku akan berang dan membalikkan meja ini dengan satu karena tidak terima dengan keputusan sepihak itu. Ugh, aku tidak segarang itu, tahu!
“Kamu gak apa-apa, Ra?” tanya Riski skeptis. Sepasang matanya menatap serba salah.
Aku mengangguk. “Aku percaya petunjuk dari Allah adalah yang terbaik.”
Riski mendesah keras sambil mengusap belakang kepalanya beberapa kali. Dan sikapnya itu membuatku bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Apa sekarang dia menyesal? Sementara itu kulihat Hari sudah memutar badannya memunggungi kami.
“Aira Syifa.” Riski memanggil nama lengkapku dengan suara yang begitu lembut. Membuat hatiku turut menghangat. “Jika memang kita berjodoh, di belahan bumi mana pun kamu berada, aku yakin Allah akan mempertemukan kita pada satu titik yang sama.”
Aku tertegun mendengarnya. Kalimat itu sanggup menambah kehangatan dalam dadaku. Mengingatkanku pada kisah Adam dan Hawa yang Allah pertemukan kembali setelah Dia pisahkan ratusan tahun lamanya. Akankah aku dan Riski memiliki akhir yang sama seperti mereka? Wallahu’alam, kuserahkan semua itu kepada dia Sang Maha Cinta.
“Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan?” tanyaku lama kemudian. Aku tidak boleh berlama-lama mengobrol karena tidak ditemani mahram. Takut terjadi fitnah.
Riski menggeleng. “Itu saja,” jawabnya.
Aku mengangguk. “Kalau gitu aku duluan, ya. Mungkin Ayah udah jemput.” Aku bangkit berdiri sambil menyampirkan tali tas di bahu kiri.
“Hati-hati, Ra,” gumam Riski sambil memaksakan senyum tidak enak hati. “Dan tolong sampaikan permintaan maafku pada orang tuamu.”
Aku mengangguk. “Pasti akan kusampaikan,” sahutku lalu lekas berpamitan.
Dalam perjalanan aku menarik napas dalam-dalam hingga memenuhi rongga dadaku dan mengembuskannya dengan pelan. Tidak apa-apa rupanya. Tadinya kupikir aku akan terluka saat Riski mengakhiri proses ta'aruf ini. Kupikir hatiku akan tersayat dan berdarah-darah. Tapi nyatanya tidak. Aku baik-baik saja. Aku tidak terluka apa lagi sampai berdarah. Justru sebaliknya, perasaanku amat lega. Seolah beban yang kutanggung baru saja menguap tak tersisa.