Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Ingat ya, jangan buka pintu sebelum Ayah Ibu pulang,” Ayah mengingatkan sambil memakai jaket parasutnya sebelum membelah kampung kami yang kebanyakan kebun kosong dan dipenuhi tanaman bambu untuk memenuhi undangan hajatan temannya bersama Ibu. Tinggal aku dan Kakak berdua di rumah. Kami fokus menonton kartun Sabtu sore di ruang tengah sambil duduk lesehan di lantai kayu rumah kami.
“Iya Yah,” jawab kami enggan dan malas-malasan. Waktu itu kami harus fokus menonton episode ini karena tidak ingin terlewat barang sedetik pun.
“Ingat! Jangan berantem! Ayah sama Ibu cuma pergi sebentar!” Ibu memperingatkan. Nadanya cukup serius. Dan cukup beralasan karena kami sering bertengkar bila ditinggal berdua. Apapun bisa kami perkarakan. Jadi peringatan dari Ibu memang cukup serius.
“Kakak! Adek!” Panggil Ayah.
“Iya Bu, iya Yah,” jawab kami lagi.
Akhirnya Ayah dan Ibu berangkat naik motor. Aku menatap kepergian mereka, lalu menyelot pintu dan memutar kuncinya. Lampu jalan aku nyalakan karena hari semakin sore dan orang-orang mulai jarang melintasi jalanan di depan rumah. Jendela aku tutup dan kututup juga gordennya, serta pintu belakang tidak lupa aku selot dan kunci juga. Iya, aku yang melakukannya. Sementara Kakak masih fokus menonton kartun.
“Kakak nonton terus! Gantian dong! Masa tiap hari aku terus yang kunci pintu!”
Kakakku tidak menggubris. Kemudian dia beranjak sementara aku rebahan di sofa hijau di ruang tengah, menghadap langsung ke televisi. Terdengar teriakan nyaring dari Kakak yang sedang berada di dapur.
“Adek! Piring kok dibiarkan kotor begini?! Cuci kenapa sih?!”
Sebagai balasan, aku diamkan keluhan dan omelan Kakakku. Tindakan yang berani karena dia berjalan menghentak-hentak lantai kayu menuju ruang tengah.
“Aku nggak mau cuciin piringmu! Kamu cuci sendiri sana!” Suruh Kakak. Yang tentu saja aku tolak, dan pertikaian kita dimulai. Suara Kakak yang marah-marah beradu suaraku yang juga tak kalah tinggi. Suara kami memenuhi ruangan tengah dan mengalahkan iqomat dari masjid terdekat. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu.
Tok-tok-tok.
Kami yang masih beradu pandang, saling mengadu tatapan amarah sejenak menatap pintu masuk.
“Siapa?” Tanya Kakak padaku. Seolah aku tahu siapa yang di balik pintu. Aku mengangkat bahu. Kemudian Kakak berjalan ke arah pintu dan bertanya, “Siapa ya?”
“Ini Pak RT, ada bapak di rumah?”
Kakak mau membukakan pintu, tapi langsung kucegah. Aku ingat pesan Ayah. Jangan buka pintu sebelum Ayah pulang.
“Terus gimana? Dibiarkan saja Pak RT di luar?”
Aku lalu mengambil telepon rumah. Pintu diketuk lagi. Tok-tok-tok.
“Permisi?” Tanya Pak RT.
“Ayah sedang keluar Pak RT,” jawab Kakak ragu sambil mengangkat bahu menatapku. Di telepon rumah yang kugenggam, kupencet nomor telepon rumah tempat Ayah hajatan. Kebetulan Ayah menempelkan nomornya di kulkas.
Panggilanku diangkat, terdengar suara Bapak-bapak, “Halo?”
“Halo? Bisa bicara dengan Pak Hilman?”
“Sebentar ya, Hilman! Anakmu ini, telepon.”
“Ya halo?” Jawab Ayah. Seketika aku agak lega.
“Ayah, ada Pak RT datang ke rumah.”
Ayah terdiam, lalu bilang, “Jangan dibuka, bilang Ayah sebentar lagi pulang.”
Jadi itulah yang kubilang pada Pak RT.
“Jam berapa ya pulangnya?” Tanya beliau dari balik pintu.
“Kurang tahu Pak RT, kata Ayah sih segera,” jawab Kakak bingung.
“Oh iya baik kalau begitu.”
Lalu tak ada suara lagi dari balik pintu. Aku dan Kakak bernapas lega. Kami lalu memastikan semua jendela dan pintu terkunci dan tertutup rapat. Lalu kami lanjut menonton di televisi. Tepat ketika iklan, suara ketukan terdengar lagi. Kakak dan aku saling bertatapan. Ketika aku mendekati pintu masuk, bukan, bukan dari sini suaranya. Kami saling pandang dengan perasaan takut. Ketukan pintu berasal dari pintu belakang.
Kami berjingkat-jingkat mendekati pintu belakang. Aku mengambil sapu dan menggenggam gagangnya sebagai senjata, sedangkan Kakak ikut berjingkat dan berlindung di balik badanku yang tentu saja lebih kecil darinya.
Setibanya kami di pintu belakang, aku bertanya dengan suara agak lantang, “Siapa?”
“Pak RT,” jawab suara itu.
“Kok tidak pakai pintu depan pak RT?” Tanyaku. Aku menyisakan ragu di dalam hati, siapa tahu itu memang benar pak RT. Meskipun agak janggal rasanya ada tamu luar yang mau masuk melalui pintu belakang rumah kami yang dekat kebun kosong. Biasanya orang-orang merasa lebih aman jika lewat pintu depan.
Lama kami tunggu, tidak terdengar suara lagi. Tiba-tiba, tek-tek-tek. Suara ketukan dari jendela. Kakak yang ketakutan menggenggam lengan bajuku erat sekali.
“Pergi!” Kuusir suara itu, “Kami tidak mengganggu, jangan ganggu kami!”
Suara itu akhirnya tidak terdengar lagi. Diganti dengan suara ketukan di pintu masuk. Aku mengacungkan gagang sapu ke arah pintu masuk. Kakak sibuk berlindung diri di balik badanku.
“Kakak? Adek?” Suara Ayah terdengar di balik pintu masuk. Aku dan Kakak yang saling berlinang air mata lari ke pintu masuk dan membukakan pintu sambil menangis. Ayah memeluk kami dan Ibu kelihatan heran.
“Kenapa menangis?”
Lalu mereka masuk, berganti baju sambil mendengarkan cerita kami.
“Sudah-sudah, kan Ayah sudah pulang. Yaudah sana, tidur. Sudah malam.”
Kami pun masuk ke kamar dan mematikan lampu. Terdengar suara Ayah dan Ibu yang masih berbincang di ruang tengah beserta lampu ruang tengah yang masih menyala. Sinarnya menyelinap dari celah bawah pintu kamar kami. Aku pun tertidur.
Aku terbangun tiba-tiba dan melihat jam dinding masih menunjukkan tengah malam. Lampu ruang tengah masih menyala. Aku keluar kamar, dan televisi juga masih menyala. Ayah dan Ibu sepertinya kembali tidur. Terdengar suara ketukan di pintu masuk, berkali-kali.
“Kakak? Adek? Tidur ya? Ini Ayah sama Ibu nak,”
Pintu kubuka. Kulihat Ayah dan Ibu yang masih mengenakan pakaian sehabis hajatan. Ini siapa? Yang kubuka pintu tadi siapa?
“Lho kenapa nak? Kok kamu pucat? Sakit?” Tanya Ibu khawatir sambil menempelkan tangan ke dahiku.
Pandanganku seketika gelap.