Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Semangkuk Burjo Sebelum Pulang
0
Suka
7
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Mang, burjo satu,” seru salah satu pembeli yang datang ke warungnya.

“Siap!” jawab Mang Imam mantap.

Dengan cekatan tangannya mengambil mangkuk di tumpukan mangkuk bersih sehabis dicuci dan sendok. Lalu dengan satu kumpulan gerakan yang indah, ia menciduk bubur kacang hijau yang ada di kuali. Uapnya membumbung tinggi ke langit-langit warung.

Bubur dituang ke mangkuk dan disajikan beserta ketan hitam dan siraman kuah santan yang gurih. Aroma pandan dari bubur kacang hijau, serta aroma santan bercampur aduk memasuki rongga hidung pembeli tersebut.

Begitu keseharian Mang Imam sebagai penjaga warung kopi di gang Lima. Dari jam dua siang sampai menjelang subuh. Setiap hari. Terjaga dan melayani pembeli yang datang ke warung kopinya. Ada mahasiswa yang mengerjakan tugasnya, pekerja yang bekerja sampingan dan menumpang wifinya, ada juga yang membawa teman-temannya untuk sekadar nongkrong.

Lalu ketika menjelang subuh, setelah semua pembeli pulang dan beberapa orang sudah berangkat ke masjid, Mang Imam membereskan warung dan menutup warungnya dengan papan kayu.

Selalu begitu.

Namun, malam ini bukan malam yang seperti biasa. Setelah menyapa pelanggan terakhir yang pulang, serta suara orang mengaji mulai melantun di pengeras suara masjid-masjid sekitar warkop, Mang Imam seperti biasa membereskan meja dan kursi, mencuci piring dan mangkuk juga gelas, serta menutup kuali.

“Bapak?”

Mang Imam menoleh ke arah masuk warung kopinya. Melihat ada anak perempuan, masih memakai baju sekolah putih abu dengan rok di bawah lutut dan kaus kaki putih menutupi betisnya. Serta sepatu hitam, dan tas pink.

Mang Imam masih terpaku. Lalu matanya berkaca-kaca. Dia lari ke depan dan meraih tubuh anak perempuan tersebut sambil memeluk dengan erat.

Namanya Tasya. Anak semata wayang Mang Imam beserta mantan istrinya. Tasya dibawa oleh mantan istrinya setelah mereka bercerai. Dan itu keputusan bersama, sebab Mang Imam hanya punya usaha warung kopi ini saja, dan dia merasa tidak bisa menafkahi anak dan istrinya.

“Tasya udah makan nak?” Tanya Mang Imam , tercekat, sambil menahan matanya yang masih berkaca-kaca.

Tasya menggeleng. Mang Imam kemudian mengajak masuk ke dalam warung kopi. Masih ada kursi dan meja di pojok warung yang belum ia bereskan. Tasya duduk di situ.

“Burjonya masih ada lumayan kok, Tasya mau nak? Bapak siapkan ya,” ujar Mang Imam semangat sambil menyiapkan sarapan atau (mungkin makan malam?) Tasya.

Lalu setelah bubur dihidang, Tasya menyuapkan bubur itu dengan hati-hati ke mulutnya. Mang Imam sambil mengelap meja saji memperhatikan anak semata wayangnya dengan senyum lebar. Kemudian dia menghampiri Tasya dan duduk di depannya.

“Gimana di sekolah nak? Terakhir yang Bapak tahu dari Ibu, Tasya udah punya pacar? Iya?”

Tasya terdiam menatap Bapaknya. Lama kelamaan matanya semakin berkaca-kaca, dan mengalir pelan air matanya di pipinya. Kemudian Tasya menangis.

Mang Imam panik, ia menarik kursinya untuk duduk di sebelah Tasya dan memeluk anak perempuannya.

“Tasya nggak mau ikut Ibu lagi!” Ujar Tasya di sela tangisnya

“Tasya mau ikut Bapak aja!” Tambahnya yang kemudian dilanjut tangisnya yang meraung-raung.

Mang Imam masih memeluk dan mengusap pundaknya. Napas Mang Imam juga berat, dadanya sesak karena anaknya juga sebetulnya memilihnya untuk hidup bersama. Tapi ia khawatir dengan masa depan anaknya. Ia lebih rela untuk anaknya mendapat pendidikan yang layak, mendapat asupan gizi yang baik serta lingkungan yang lebih baik meskipun harus jauh dari dirinya. Ia tak masalah harus sarapan burjo setiap hari demi bisa mengirim setengah dari pendapatan burjonya untuk bisa mengirim uang jajan kepada Tasya. Ia tak masalah harus bekerja dari siang sampai pagi lagi asalkan anaknya, anak semata wayangnya bisa mendapat yang lebih baik darinya.

“Tapi kan Tasya sekolahnya nanti gimana?”

“Tasya mau bantu-bantu Bapak! Tasya kan udah gede Pak. Udah bisa mandiri. Di rumah Ibu, Tasya ngurus diri sendiri udah bisa Pak.,” ujar Tasya dengan suara tercekat karena tidak mau menangis lebih lama lagi.

Menyadari bahwa sifat keras kepalanya menurun ke anaknya, ia memutar otak untuk membujuknya. Ia senang anaknya ingin hidup bersamanya, tapi dia punya kehidupan di luar sana. Lebih baik dia di luar sana, mengejar mimpinya dan membangun keluarga yang baru daripada harus terjebak dengannya.

“Atau begini, Tasya bisa ke sini, mungkin sebulan sekali. Gimana? Kalau mau bantu Bapak, boleh. Yang penting jangan kabur begini. Kasihan Ibu dan Nenek, nanti mereka panik nyariin Tasya, ya?”

Tasya mengangguk.

“Oke, janji ya, Tasya jangan kabur lagi.”

Tasya mengangguk lagi.

Mang Imam kemudian memeluk anaknya. Lalu mengabarkan istrinya bahwa anak mereka ada di warkop.

“Tasya masih di sana kan?”

“Masih, tadi dia sarapan burjo.”

“Huft, oke, terima kasih Mas. Nanti aku ke sana.”

“Oke.”

Tak berapa lama, sebuah mobil mercy sedan datang dan membunyikan klakson. Mantan istrinya sudah datang. Mang Imam datang menghampiri jendela pengemudi.

“Tasya mana?” tanya mantan istrinya setelah menurunkan kaca untuk menatap mantan suaminya.

“Dia ada di dalam, sedang cuci muka.”

“Oh, oke-oke. Aku tunggu di sini aja kalau begitu.”

“Iya, oh ngomong-ngomong, tadi dia datang ke warkop sebetulnya cuma karena kangen aja, dan katanya mau bantu aku jualan.”

Mantan istrinya menunjukkan wajah cemas.

“Aku bilang daripada dia kabur begini, lebih baik dia datang sebulan sekali aja kalau mau bantu aku jualan,” tambah Mang Imam.

Wajah cemas tadi berubah sedikit lega.

“Mungkin nanti dia akan minta sendiri ke kamu.”

“Iya,” mantan istrinya tersenyum padanya, “terima kasih.”

Terlihat Tasya sudah berdiri di depan warkop. Mang Imam kemudian menghampirinya.

“Sudah lengkap semua?”

“Sudah,” jawab Tasya.

Ada momen kikuk di antara mereka. Kemudian Tasya memeluk Bapaknya. Mang Imam tertegun.

“Janji ya Pak aku boleh ke sini sebulan sekali?”

Mang Imam tersenyum, dan mengelus kepalanya yang dulu kecil, “Iya janji.”

Tasya kemudian tersenyum dan melambaikan tangan sembari berjalan menuju mobil. Mang Imam terus memperhatikan mobil berjalan sampai tidak kelihatan dari kejauhan.

Ketika warkopnya tersisa dirinya sendiri, dan beberapa orang mulai beraktivitas, ia kembali mengelap meja saji, dan membereskan kursi yang ia geser. Namun dia berhenti sejenak menatap mangkuk yang kosong dengan sisa bubur kacang hijau bekas anaknya.

Mang Imam duduk di kursi yang tadi diduduki anaknya. Dia menatap kosong lurus ke depan. Matanya menjadi berkaca-kaca.

Dalam keramaian orang beraktivitas pagi hari, Mang Imam menangis tanpa suara di pojok warkopnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Semangkuk Burjo Sebelum Pulang
Muhammad Zein Hanafi
Novel
Nakalnya Anak Muda
putra ramadhan
Novel
GENOSIDA
My Lady
Skrip Film
RUMMAH TANGGA
DI UJUNG PENA
Skrip Film
Untuk Abang
Muhammad Zein Hanafi
Flash
Binar
Seto Yuma
Flash
Bronze
What If (part 1)
Nita Roviana
Novel
Gold
Tujuh Puisi Cinta Sebelum Perpisahan
Mizan Publishing
Novel
Bronze
When You Believe
Mell Shaliha
Novel
I WILL BECOME THE KING'S FAVORITE MISTRESS
Wisteria
Novel
Lie
Siti Nurenny
Skrip Film
Surat Cinta yang Terbaca
Imajinasiku
Flash
MANUSIA DI NEGERI SEBERANG
M Fadly Hasibuan
Novel
Mysterious Girl
cia
Novel
CITY LIGHTS
Robin Wijaya
Rekomendasi
Flash
Semangkuk Burjo Sebelum Pulang
Muhammad Zein Hanafi
Flash
Jangan Buka Pintu Sebelum Ayah Pulang
Muhammad Zein Hanafi
Skrip Film
Untuk Abang
Muhammad Zein Hanafi
Skrip Film
SeLaras
Muhammad Zein Hanafi