Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Hihang Howeng
1
Suka
184
Dibaca

Seorang kakek tunawisma dengan pakaian compang-camping dan tongkat kayu melangkah pelan, sesekali ia duduk di bangku taman dekat alun-alun, seperti mengamati sesuatu.

Angin sepoi-sepoi sore itu cukup menyejukkan hingga membuat orang-orang datang untuk sekedar nongkrong di taman. Fokus kakek itu buyar saat aroma surgawi tercium dari sampingnya. Dua anak kecil sedang duduk santai sambil membuka bungkusan kertas minyak yang masih mengepulkan asap.

Keduanya terlihat sedang meniup gorengan di masing-masing tangannya. Kakek itu mendekat perlahan menghampiri kedua bocah itu. Pandangannya terpaku pada gorengan itu.

Karena merasa diperhatikan begitu rupa, salah satu anak menawarkan kepada kakek itu. "Kakek, mau?" tawarnya ramah, menyodorkan sebuah gorengan yang bentuknya lonjong keemasan.

Kakek pengemis itu menerima pemberian itu. "Terima kasih, manusia... eh maksudku terima kasih, Nak."

Begitu kulit jarinya menyentuh benda itu, Kakek itu sedikit tersentak. Sensor panas di balik kulit buatannya berteriak, "WARNING! SUHU EKSTREM DETECTED!". Kakek itu nyaris melemparkan gorengan itu, tapi ia menahannya. Wajahnya tampak sedikit memerah menahan sakit. Tapi ia melihat dua bocah itu dengan santainya menggigit benda lonjong berminyak itu hingga berbunyi 'KRIUKK'.

"Apa... apa namanya ini, Nak?" tanya Kakek itu gemetar, menahan panas yang menjalar ke ujung sarafnya.

Bocah yang mulutnya sedang penuh dengan pisang goreng yang masih mengeluarkan uap panas, mencoba menjawab. Lidahnya menari-nari menghindari panas di dalam mulutnya.

"Hah?! Ini Hihang Howeng..." jawabnya dengan artikulasi yang hancur karena kepanasan, serta mata melotot.

Kakek itu ikut-ikutan melotot. "Hihang Howeng?"

"Iya... Hah... Hanasss!" imbuh bocah itu sambil menelan potongan besar itu tanpa ekspresi kesakitan yang berarti.

Kakek itu segera bangkit dari bangku taman. Ia tidak kuat lagi menahan panas di tangannya dan bergegas ke arah semak-semak. Di semak-semak yang rimbun itu, sosok kakek berubah menjadi sosok alien. Dan dalam sekejapan mata di semak-semak itu, meski agak redup, melesat satu cahaya hijau keemasan menuju langit.

Sementara kedua bocah itu merasa aneh menyaksikan kakek yang lari terbirit-birit. "Aneh. Masa gak tahu ini Pisang Goreng."

"Lapor, Komando Pusat! Invasi harus dibatalkan!" teriak alien hijau itu.

Di Pesawat Induk, Panglima Besar terkejut. "Apa alasannya, Knull?" Apa maksudmu? Cepat kembali ke markas." Ternyata alien hijau itu bernama Knull.

"Lebih buruk dari itu, Panglima!" Ucap Knull saat baru tiba di hadapan Panglima. "Manusia Bumi memiliki sumber energi padat bernama 'Hihang Howeng'. Benda ini memiliki suhu yang mampu melelehkan tubuh kita, tapi yang mengerikan adalah manusia menelan benda panas itu!"

Panglima Besar segera menyuruh bawahannya untuk mengetik di superkomputer. "Cari HIHANG HOWENG."

Layar besar menunjukkan teks merah menyala. [DATA TIDAK DITEMUKAN - UNSUR TIDAK DIKENAL].

"Panglima," lanjut Knull dengan suara bergetar, "Saya melihatnya memasukkan 'Hihang Howeng' yang panas ke mulutnya dan matanya bahkan melotot seolah akan menembakkan laser. Jika manusia kecil saja memiliki daya tahan terhadap panas setinggi itu, bayangkan bagaimana pasukan perang mereka!"

Panglima Besar memandang layar yang kosong. Rasa takut mulai menjalar. "Database kita gagal. Teknologi kita tidak bisa mendeteksi Hihang Howeng. Dan jika mereka adalah bangsa yang mampu mengonsumsi panas ekstrem, kita tidak punya peluang. Bisa-bisa kita meleleh."

Sore itu juga, ribuan pesawat alien melesat meninggalkan orbit Bumi menuju kegelapan ruang angkasa sedalam-dalamnya. Mereka memutuskan untuk mencari planet lain.

Panglima Besar memerintahkan pilot agar mengunci koordinat planet tujuan. "Kita akan menuju Planet Seblak." Tegasnya sambil sedikit meleletkan lidah.

Sontak saja mata semua anak buah Panglima itu berbinar, dan air liur para alien itu memenuhi mulut mereka. Sambil tersenyum para alien itu menelan ludah. "Yes. Level 8."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Hihang Howeng
awod
Komik
Candra Tawa
Uniipia
Flash
DIPAKSA DEWASA
lany hardila
Cerpen
Dinul Making Love
Annisa Putry
Flash
NIKAH EKSPIRED DUA MINGGU
Heru Sandy
Flash
Gowes Takabur 01
Rains Peter Aro
Flash
Bronze
Kiri, Bang!
Reyan Bewinda
Flash
VIRAL! SEKOLAH TERAPKAN TIDUR SIANG BERBALUT KAIN KAFAN UNTUK SISWA. KEPALA SEKOLAH: SUDAH WAKTUNYA ANAK-ANAK MEMIKIRKAN MASA DEPAN.
Ade Anugrah
Cerpen
Menyelamatkan Gundam Dari Istri
cahyo laras
Cerpen
Bertahan Hidup Dengan Yang Termurah
cahyo laras
Flash
Abi Hoyong Magnum, Pak!
Atika Salsabila Zahra
Komik
TEKAD
Affandi Mudayana
Cerpen
Ada Cerita di Ruang BK
Apagistina
Flash
Bronze
Siap, Noted, Pak!
Reyan Bewinda
Cerpen
Cerita Sekolah Minggu bersama Yaya
E. N. Mahera
Rekomendasi
Flash
Hihang Howeng
awod
Flash
Aku Tidak Berniat Kembali ke Masa Lalu
awod
Cerpen
Praecognitif Somnium
awod
Cerpen
Emo Roastery
awod
Cerpen
Pussy dan Fuso
awod
Cerpen
Dialog Mimpi Handaka
awod
Novel
Love Story of El Panthera
awod
Cerpen
Alam Akan Menemukan Jalannya Untuk Menunjukkan Bahwa Kita Kecil
awod
Novel
Bronze
Aku Adalah Pusat Semesta
awod
Cerpen
Cinta Sisyphus
awod
Cerpen
Penyerap Trauma
awod
Cerpen
Kematian Kuda Sang Panglima
awod
Cerpen
Serigala yang Terpisah dari Kawanan
awod
Cerpen
Kopi Yang Tak Terseduh
awod
Cerpen
Kupu-Kupu Dalam Gua
awod