Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Hihang Howeng
3
Suka
829
Dibaca

Seorang kakek tunawisma dengan pakaian compang-camping dan tongkat kayu melangkah pelan, sesekali ia duduk di bangku taman dekat alun-alun, seperti mengamati sesuatu.

Angin sepoi-sepoi sore itu cukup menyejukkan hingga membuat orang-orang datang untuk sekedar nongkrong di taman. Fokus kakek itu buyar saat aroma surgawi tercium dari sampingnya. Dua anak kecil sedang duduk santai sambil membuka bungkusan kertas minyak yang masih mengepulkan asap.

Keduanya terlihat sedang meniup gorengan di masing-masing tangannya. Kakek itu mendekat perlahan menghampiri kedua bocah itu. Pandangannya terpaku pada gorengan itu.

Karena merasa diperhatikan begitu rupa, salah satu anak menawarkan kepada kakek itu. "Kakek, mau?" tawarnya ramah, menyodorkan sebuah gorengan yang bentuknya lonjong keemasan.

Kakek pengemis itu menerima pemberian itu. "Terima kasih, manusia... eh maksudku terima kasih, Nak."

Begitu kulit jarinya menyentuh benda itu, Kakek itu sedikit tersentak. Sensor panas di balik kulit buatannya berteriak, "WARNING! SUHU EKSTREM DETECTED!". Kakek itu nyaris melemparkan gorengan itu, tapi ia menahannya. Wajahnya tampak sedikit memerah menahan sakit. Tapi ia melihat dua bocah itu dengan santainya menggigit benda lonjong berminyak itu hingga berbunyi 'KRIUKK'.

"Apa... apa namanya ini, Nak?" tanya Kakek itu gemetar, menahan panas yang menjalar ke ujung sarafnya.

Bocah yang mulutnya sedang penuh dengan pisang goreng yang masih mengeluarkan uap panas, mencoba menjawab. Lidahnya menari-nari menghindari panas di dalam mulutnya.

"Hah?! Ini Hihang Howeng..." jawabnya dengan artikulasi yang hancur karena kepanasan, serta mata melotot.

Kakek itu ikut-ikutan melotot. "Hihang Howeng?"

"Iya... Hah... Hanasss!" imbuh bocah itu sambil menelan potongan besar itu tanpa ekspresi kesakitan yang berarti.

Kakek itu segera bangkit dari bangku taman. Ia tidak kuat lagi menahan panas di tangannya dan bergegas ke arah semak-semak. Di semak-semak yang rimbun itu, sosok kakek berubah menjadi sosok alien. Dan dalam sekejapan mata di semak-semak itu, meski agak redup, melesat satu cahaya hijau keemasan menuju langit.

Sementara kedua bocah itu merasa aneh menyaksikan kakek yang lari terbirit-birit. "Aneh. Masa gak tahu ini Pisang Goreng."

"Lapor, Komando Pusat! Invasi harus dibatalkan!" teriak alien hijau itu.

Di Pesawat Induk, Panglima Besar terkejut. "Apa alasannya, Knull?" Apa maksudmu? Cepat kembali ke markas." Ternyata alien hijau itu bernama Knull.

"Lebih buruk dari itu, Panglima!" Ucap Knull saat baru tiba di hadapan Panglima. "Manusia Bumi memiliki sumber energi padat bernama 'Hihang Howeng'. Benda ini memiliki suhu yang mampu melelehkan tubuh kita, tapi yang mengerikan adalah manusia menelan benda panas itu!"

Panglima Besar segera menyuruh bawahannya untuk mengetik di superkomputer. "Cari HIHANG HOWENG."

Layar besar menunjukkan teks merah menyala. [DATA TIDAK DITEMUKAN - UNSUR TIDAK DIKENAL].

"Panglima," lanjut Knull dengan suara bergetar, "Saya melihatnya memasukkan 'Hihang Howeng' yang panas ke mulutnya dan matanya bahkan melotot seolah akan menembakkan laser. Jika manusia kecil saja memiliki daya tahan terhadap panas setinggi itu, bayangkan bagaimana pasukan perang mereka!"

Panglima Besar memandang layar yang kosong. Rasa takut mulai menjalar. "Database kita gagal. Teknologi kita tidak bisa mendeteksi Hihang Howeng. Dan jika mereka adalah bangsa yang mampu mengonsumsi panas ekstrem, kita tidak punya peluang. Bisa-bisa kita meleleh."

Sore itu juga, ribuan pesawat alien melesat meninggalkan orbit Bumi menuju kegelapan ruang angkasa sedalam-dalamnya. Mereka memutuskan untuk mencari planet lain.

Panglima Besar memerintahkan pilot agar mengunci koordinat planet tujuan. "Kita akan menuju Planet Seblak." Tegasnya sambil sedikit meleletkan lidah.

Sontak saja mata semua anak buah Panglima itu berbinar, dan air liur para alien itu memenuhi mulut mereka. Sambil tersenyum para alien itu menelan ludah. "Yes. Level 8."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Hihang Howeng
awod
Komik
KAOS HITAM
moris avisena
Flash
Bronze
Sang Penulis
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Si Gembul Sahabatku
Pena Sastra
Komik
KISAH THORURA
Voni lilia
Komik
Bronze
She's Not My Girlfriend?
Verda Ravan Varnesa
Flash
Bronze
Penjual Cat Silver Manusia Silver
Silvarani
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Mampir ke New York
Darryllah Itoe
Komik
Bronze
Petualangan Athan dan Detektif Mammo
Andy widiatma
Flash
HP AYPON DI ANTRIAN BANSOS
Heru Sandy
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Dravoryans: Kota Goblin, Monumen Es, dan Ranjau yang Dilupakan
Darian Reve
Cerpen
Bronze
Kandang Tikus
ALDEVOUT
Cerpen
Renang Yang Tidak Menyenangkan
cahyo laras
Rekomendasi
Flash
Hihang Howeng
awod
Flash
Nir Asa
awod
Cerpen
Dialog Mimpi Handaka
awod
Cerpen
Emo Roastery
awod
Flash
Aku Tidak Berniat Kembali ke Masa Lalu
awod
Novel
Love Story of El Panthera
awod
Cerpen
Cinta Sisyphus
awod
Cerpen
Pussy dan Fuso
awod
Cerpen
Kematian Kuda Sang Panglima
awod
Cerpen
Interval Zone
awod
Cerpen
Praecognitif Somnium
awod
Cerpen
KM 108
awod
Cerpen
D I D
awod
Cerpen
Kupu-Kupu Dalam Gua
awod
Cerpen
Serigala yang Terpisah dari Kawanan
awod