Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
2
Suka
1,038
Dibaca

Aku duduk sendiri di ruang tengah dengan televisi menyala tanpa benar-benar kutonton. Layar bergerak, suara berseliweran, tapi dadaku justru dipenuhi sesuatu yang tak bernama—rasa sesak yang datang tanpa permisi, seperti gelombang sunyi yang menghantam dari dalam. Napasku memendek. Pikiranku bising oleh hal-hal yang tak mampu kujelaskan, bahkan pada diriku sendiri.

Aku bangkit. Ada satu tempat yang sejak dua tahun lalu selalu menjadi pelarian paling setia—bukan karena ia istimewa, melainkan karena di sanalah aku belajar menenangkan diri tanpa harus bertanya terlalu banyak.

Kafe itu lengang. Tak ada pengunjung. Hanya dua barista dengan wajah yang sudah kuhafal seperti doa yang diulang-ulang. Salah satu dari mereka tersenyum.

“Tumben datang sore, Kak. Biasanya malam.”

Aku membalas dengan senyum tipis.

“Iya, di rumah bosan,” kataku singkat, seolah satu kata itu cukup untuk merangkum seluruh isi kepalaku yang berantakan.

Aku memesan green tea latte, pesanan yang tak pernah berubah.

“Less sugar seperti biasa?” tanyanya.

Aku mengangguk, tersenyum kecil, membiarkan kebiasaan menjelaskan diriku lebih baik daripada kata-kata.

Minumanku datang ketika aku masih terhubung dengan sahabatku lewat telepon. Aku bercerita tentang hariku, tentang lelah yang tak tahu harus dititipkan ke siapa, tentang pertanyaan sederhana yang selalu menggantung di ujung lidah: aku baik-baik saja, atau hanya pandai berpura-pura? Waktu berjalan seperti air yang tak terasa mengikis batu. Tiga puluh menit berlalu, dan suaranya di ujung sana masih setia menemaniku. Ia tahu betul betapa sepinya aku—betapa aku hanya ingin ditemani, meski sebatas oleh suara.

Dari dalam kafe, lagu Driver’s License milik Olivia Rodrigo mengalun lirih. Aku memilih duduk di luar, seperti biasa—membiarkan suara kendaraan yang berlalu-lalang memecah keheningan, menutupi sunyi yang sebenarnya bersarang di kepalaku.

Entah mengapa, hingga detik ini aku masih belum baik-baik saja. Segalanya terasa terlalu berat jika harus kupikul sendiri, seakan hari-hari tak lagi berjalan, melainkan menyeretku perlahan—menuju entah, tanpa pernah bertanya apakah aku masih sanggup melangkah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Majestic Journey
Novel
Bronze
Benang Merah
leshdewika
Novel
Bronze
Tak Sambat
Nuel Lubis
Flash
Di Ambang Pintu
Dinda Kusuma Ati
Novel
Dering Ponsel Ibu
Puspa Seruni
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Novel
Patriot Muda
Riska Gustania
Flash
Luka Lama Seribu Harinya
winda aprillia
Novel
Karena X
Selvi Diana Paramitha
Novel
Aksara Samudera
yhantlies92
Novel
Bronze
Romantic Love Story #2
Imajinasiku
Novel
Peti Uang
Art Fadilah
Novel
Bronze
Menjelajah Luka
Lada Ungu
Skrip Film
ADIK YANG NIKAH, AKU YANG GUNDAH
zae_suk
Rekomendasi
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Majestic Journey
Flash
Terjebak Hujan
Majestic Journey
Flash
Sampai Mati Aku Akan Merindukannya
Majestic Journey
Flash
Percakapan Terakhir
Majestic Journey
Cerpen
Delapan Lewat Sepuluh
Majestic Journey