Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
0
Suka
3
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sore itu, aku duduk di ruang tengah dengan televisi menyala tanpa benar-benar kutonton. Layar bergerak, suara berseliweran, tapi dadaku justru dipenuhi sesuatu yang tak bernama—rasa sesak yang datang tanpa permisi, seperti gelombang sunyi yang menghantam dari dalam. Napasku memendek. Pikiranku bising oleh hal-hal yang tak mampu kujelaskan, bahkan pada diriku sendiri.

Aku pun bangkit. Ada satu tempat yang sejak dua tahun lalu selalu menjadi pelarian paling setia—bukan karena ia istimewa, melainkan karena di sanalah aku belajar menenangkan diri tanpa harus bertanya terlalu banyak.

Kafe itu lengang. Tak ada pengunjung. Hanya dua barista dengan wajah yang sudah kuhafal seperti doa yang diulang-ulang. Salah satu dari mereka tersenyum.

“Tumben datang sore, Kak. Biasanya malam.”

Aku membalas dengan senyum tipis.

“Iya, di rumah bosan,” kataku singkat, seolah satu kata itu cukup untuk merangkum seluruh isi kepalaku yang berantakan.

Aku memesan green tea latte, pesanan yang tak pernah berubah.

“Less sugar seperti biasa?” tanyanya.

Aku mengangguk. Kadang, kebiasaan lebih jujur daripada kata-kata.

Minumanku datang ketika aku masih terhubung dengan sahabatku lewat telepon. Aku bercerita tentang hariku, tentang lelah yang tak tahu harus dititipkan ke siapa, tentang pertanyaan sederhana yang selalu menggantung di ujung lidah: aku baik-baik saja, atau hanya pandai berpura-pura? Waktu berjalan seperti air yang tak terasa mengikis batu. Tiga puluh menit berlalu, dan suaranya di ujung sana masih setia menemaniku. Ia tahu betul betapa sepinya aku—betapa aku hanya ingin ditemani, meski sebatas oleh suara.

Dari dalam kafe, lagu Driver’s License mengalun lirih. Aku memilih duduk di luar, seperti biasa, membiarkan suara kendaraan memecah keheningan. Bukan untuk mengusir sunyi, melainkan untuk menutupi sunyi yang sebenarnya bersarang di kepalaku.

Entah mengapa, hingga detik ini aku masih belum baik-baik saja. Segalanya terasa terlalu berat jika harus kupikul sendiri, seakan hari-hari tak lagi berjalan, melainkan menyeretku perlahan—menuju entah, tanpa pernah bertanya apakah aku masih sanggup melangkah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Mahasiswa Pinggiran
choirin nofianti
Flash
Sampai Mati Aku Akan Merindukannya
Miracle in Jannah
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Miracle in Jannah
Cerpen
SOMETHING IN MANCHESTER
SIXTEARS
Novel
Bronze
Code Phoenix
Arslan Cealach
Novel
Dear Oma
Lyra
Flash
Double Chocolate Cake Girl
Irma Susanti Irsyadi
Cerpen
Cerita Si Bungsu
Al Balinda Ulin Dya
Novel
Dinding Temaram
Aksarabuntara
Komik
archipelaQode
Mr. Q
Flash
14 Februari Ketujuh
Salmah Nurhaliza
Flash
Si Penghibur Ulung
NO-NAME
Flash
Bronze
Potong Tangan
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
I Want to Rape Lady Gaga
Abdi Husairi Nasution
Flash
Secret Lover
Ika nurpitasari
Rekomendasi
Flash
Sampai Mati Aku Akan Merindukannya
Miracle in Jannah
Flash
Menyeret Hari-Hari Yang Sunyi
Miracle in Jannah