Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di kasur tipis depan TV yang sedang menampilkan acara kuis keluarga, Pak Ruso tampak merebahkan tubuhnya yang masih beraroma matahari dan laut. Matanya memandang TV, namun pikirannya melihat bambu-bambu di tengah laut.
"Ini siapa yang bikin pagar di tengah laut?" Gumam Pak Ruso dalam hatinya.
Dalam pikirannya, tampak empat orang memakai caping yang tekun menancapkan bambu-bambu hingga hanya ujung-ujungnya yang tampak dipermukaan laut.
Sedang Pak Ruso resah dengan pikirannya.
Di sebuah coffee shop di kawasan elit, Javier sedang meeting dengan Dani.
"Bagaimana progres lahan laut?" Tanya Javier kepada Dani.
"Semua aman, logistik sudah saya berikan kepada Kepala Distrik dan saya pastikan sudah di distribusi ke orang-orangnya. Sekarang sedang proses pembangunan pagar laut," jawab Dani.
"Pagar laut? Gila! Siapa yang menyuruhmu?" Jawab Javier dengan nada sedikit kaget.
"Tidak ada yang menyuruh Pak, hanya saja kontraktor wahana ingin segera bisa memastikan batas-batas wilayah untuk bisa segera digambar, dilakukan pengukuran, lantas pembangunan," jawab Dani dengan sedikit gugup.
Javier bergeming, di dalam hatinya, "Kacau, ini akan jadi masalah besar untuk Marino."
"Dani, ini terlalu beresiko, dan sebaiknya kau tau konsekuensinya. Mulai sekarang saya tidak ada hubungan lagi dengan semua ini. Paham?!" Jelas Javier kepada Dani.
Dani tampak kebingungan, namun ia tak tahu harus menjawab apa selain, "Paham Pak." Dani menyandarkan badannya ke kursi.
Javier sekarang melihat ponselnya. Ia menghubungi Marino.
"Halo Marino," buka Javier.
"Halo Javier, bagaimana soal wahana di pantai suma?" Tanya Marino
"Situasinya akan sulit. Sebaiknya, kita lihat dulu perkembangannya 6 bulan kedepan. Sementara itu, kita perlu memastikan tidak ada keterlibatan dalam agenda ini," jelas Javier dengan datar.
"Ada apa sebenarnya?" Marino bertanya dengan penasaran.
"Ada Pagar Laut!" Jawab Javier singkat.
Sedang Javier bicara dengan Marino di telfon. Dani tampak gugup, keringat dingin bercucuran di keningnya.
"Baik, Terima Kasih Marino," pungkas Javier menutup telponnya.
Javier tampak berdiri, dan berkata, "Dan, kamu urus ini sendiri, aku akan jamin keluargamu. Namun ingat, jangan ada nama lain atau nasib keluargamu akan lebih buruk dari nasibmu." Javier pergi meninggalkan Dani.
Di sore yang sedikit mendung, kini Pak Ruso sudah berada di laut, menuju tempat para pekerja yang memasang pagar laut. Ia bergegas, sendiri, memacu perahu kecilnya.
Kini Pak Ruso sudah di depan empat pekerja itu. "Hei, kalian siapa?" Teriak Pak Ruso.
Empat pekerja bergeming.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Teriak Pak Ruso lagi lebih keras.
Empat pekerja sambil saling melirik, tetap bergeming sambil terus mengikat bambu dengan kuat.
"Selain gila, ternyata kalian bisu!" Pak Ruso kini bertambah marah. Sedangkan, para empat pekerja telah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dan kini mereka berkemas untuk kembali ke daratan, tetap bergeming tak dipedulikannya Pak Ruso.
Langit semakin gelap, matahari sudah meninggalkan langit. Pak Ruso sudah lebih dulu sampai pesisir. Ia kini bergegas ke rumah Pimpinan Kelompok Nelayan Pantai Suma.
"Hugo! Apa kamu sudah tahu tentang pagar laut?" Pak Ruso sedikit berteriak di depan rumah Pak Hugo.
Pak Hugo tampak muncul dari dalam rumah.
"Ya, bagaimana Ruso? Mengapa kamu tampak begitu marah? Ada apa?" Tanya Pak Hugo dengan tenang.
"Gila! Gara-gara pagar laut yang semakin hari semakin panjang itu, aku harus berputar jauh untuk bisa sampai ke tengah laut. Solar untuk satu minggu habis dalam dua hari." Jawab Pak Ruso dengan kesal.
"Iya, sudah banyak yang mengeluh sama sepertimu. Bagaimana kalau kita besok ke kantor distrik. Kita minta tanggung jawab kepala distrik." Pak Hugo mencoba memberikan solusi.
Pak Ruso yang masih kesal mencoba menenangkan diri. Kini Pak Ruso dan Pak Hugo sudah duduk di dalam ruang tamu merencanakan ke Kantor Distrik esok hari.
Di keesokan harinya, sudah berkumpul para nelayan dengan dipimpin Pak Hugo dan Pak Ruso disebelahnya.
Pak Kepala Distrik tampak keluar dari ruang kantornya menemui para nelayan yang berada di ruang pertemuan semi terbuka di depan kantor. Mereka kini berhadap-hadapan.
"Duduk dulu, duduk semua," ucap Pak Kepala Distrik mempersilahkan para nelayan duduk di kursi yang memang disediakan untuk pertemuan masyarakat.
Pak Hugo dan Pak Ruso mengambil kursi lalu duduk persis di depan Pak Kepala Distrik.
"Bagaimana Hugo? Ada apa kamu bawa semua warga nelayan ke sini?" Tanya Pak Kepala Distrik.
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu Pak. Kami ke sini tentu saja ingin menanyakan terkait laut yang dipagari itu," jawab Pak Hugo tegas.
Kini raut muka Pak Kepala Distrik berubah jadi masam, ketegangan mulai merasukinya. Ia masih mencerna dan mengatur jawaban yang belum sempat keluar dari mulutnya. Tiba-tiba Pak Ruso bicara sedikit teriak, "Dikira laut milik pribadi! Seenaknya aja dipagari! Itu kamu cabut atau kamu yang harus turun dari Kepala Distrik!"
Cepat-cepat Pak Kepala Distrik berkata, "Tenang, Tenang, Tenang!" Pak Kepala Distrik mencoba menenangkan orang-orang, padahal sebenarnya ia sedang menenangkan dirinya sendiri. "Semua bisa dibicarakan, dimusyawarahkan, aspirasi kalian semua akan saya terima," jawab Pak Kepala Distrik diplomatis.
Sementara amarah Pak Ruso dan warga nelayan lain tumpah di balai pertemuan dan tampak Pak Kepala Distrik yang kewalahan menjawab. Di ruang sosial media, ternyata ada salah satu yang live video. Boom! Penontonnya langsung melonjak drastis, banyak penonton videonya yang ikut marah dan heran bagaimana bisa laut dipagari? Kini, sambil berbisik-bisik beberapa orang juga mulai merekam dan juga live video, mereka merasa ini kesempatan untuk menaikan jumlah penonton akun mereka.
Dalam riuh realitas dan maya, kini pantai suma viral dan terkenal dengan kasus pagar laut.
Sementara itu, di ruangannya, Pak Javier tampak sedikit tersenyum. Ia sedang bicara dengan seseorang di telepon.
"Ide yang sangat bagus, kita bisa manfaatkan situasi ini untuk menghapus dan menghentikan kasus Rafael. Orang-orang akan lupa dan beralih pada pagar laut. Kau pastikan polisi, dan semua yang kemarin terlibat untuk tidak lagi mengusut kasus Rafael. Lakukan juga pendekatan persuasif ke keluarga Rafael." Pak Javier memberi instruksi dengan nada datar namun serius. Setelah beberapa saat, ia tutup telponnya.
Saat Pak Javier sedikit lega, di dalam sebuah mobil, tampak Dani termenung. Tidak lama, ada seseorang dengan jaket kulit mengetuk pintu mobilnya. Tok... Tok... Tok.. "Pak Dani, tolong buka," pinta orang di depan jendela.
"Yang aku khawatirkan kini terjadi," gumam Dani. Ia pasrah, kini ia digelandang ke mobil lain, sedang mobilnya dikemudikan teman dari orang yang berjaket kulit tadi.
6 bulan kemudian, setelah viral…
Pagar laut dibongkar, Kepala Distrik dan Dani jadi tersangka.
Tamat.