Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Sedia Aku Sebelum Hujan
8
Suka
9,770
Dibaca

“Kenapa? Putus lagi?”

Gibran cuma mengangguk. Lesu. Seperti orang kehabisan tenaga.

Padahal kalau dihitung-hitung, ini pacarnya yang ke-enam belas. Tapi tetap saja, putus selalu menyisakan rasa perih.

“Playboy cap kelinci kok sedih!”

Gibran tak menanggapi. Ia hanya menatap Rain dengan mata jutek.

Mereka berdua memang aneh. Pacaran tidak, dekat iya, dibilang teman juga bukan.

Teman, katanya. Cinta, rasanya.

“Udah ah,” Rain menyenggol bahu Gibran. “Lupain si Mita. Cari yang lain. Masih ada Cici yang imut, Gloria yang kinyis-kinyis menggelora, atau yang putih seksi—meongnya tante kantin. Kayaknya masih sendiri, jomblo itu.”

“Memangnya aku kucing?”

“Lha terus kamu apa? Kelinci playboy?” Rain mendengus. “Baru diputusin enam belas kali udah nyerah.”

Gibran berhenti melangkah. Menatap Rain sungguh-sungguh.

“Aku pacaran sama kamu aja, Rain. Mau, ya?”

“Ogah!” Rain refleks. “Teman kok makan teman.”

“Makanya diganti statusnya,” Gibran nyengir tipis. “Jadi pacar.”

“Gib,” Rain melotot, “kamu manfaatin kejombloan buat ngerayu aku, ya? Pokoknya aku ogah! Kamu pikir aku cewek nggak laku? Sorry aja. Biar gini, yang mau banyak. Akunya aja yang males pacaran.”

“Please, Rain. Kamu kan baik.”

“Terus kalau baik bisa diobral?” Rain mendecak. “Udah ah. Mending kita makan, kamu traktir aku mie Gacoan level 50. Biar hati kamu melting kena sambel. Curhatan nggak gratis, woi!”

***

“Eh, Rain...”

“Hm?” Rain masih mengunyah sandwich favoritnya sambil berjalan sejajar menuju ruang kuliah.

“Kalau aku jadian sama Gloria yang glowing itu, gimana menurutmu?”

Rain menelan makanannya. “Gib, kamu mau dipasangin sama gorila atau Gloria, sah-sah aja. Yang penting awewe—alias cewek.”

“Ish! Masa ceweknya gorila.” Gibran nyengir. “Kamu marah ya? Cemburu ya?”

“Sama gorila iya,” jawab Rain santai, “tapi sama Gloria enggak level. Aku masih cantik sepersekian persen, beda tipis lah.”

Ia melirik Gibran. “Terserah elo. Kalau suka, kejar. Semangat!”

Rain kembali fokus ke sandwich-nya, seolah obrolan itu tak berarti apa-apa.

Gibran memang begitu. Putus, curhatnya ke Rain. PDKT, nanya saran ke Rain. Luka cinta? Rain juga yang mengobati.

Mereka sahabatan sejak kecil. Sudah tak terhitung berapa kali Rain jadi tempat pulang Gibran. Bahkan saat jomblonya mentok, Rain sempat dijadikan pacar cadangan.

Kapan pun Gibran terluka di medan perang cinta, Rain selalu siap sedia.

Entah sejak kapan, Rain tak lagi sekadar gadis imut di mata Gibran. Ia lebih mirip caregiver—tapi yang satu ini menjaga hati orang lain, sambil pelan-pelan mengabaikan hatinya sendiri.

Mana ada teman yang rela cuma jadi tempat curhat terus-terusan.?

Tapi karena terbiasa, bulir-bulir cinta itu tumbuh diam-diam.

Ditahan sakit. Diungkap takut perih.

Kalau ditolak?

Dukun pun rasanya tak layak diajak bertindak.

Itu sebulan lalu.

Dan siang ini, Rain kembali bertemu pasien caregiver-nya itu.

“Kenapa?” Rain menatapnya. “Putus lagi?”

Gibran mengangguk.

“Rain,” suaranya lirih, “emang masih ada cewek yang baik?”

“Ada,” jawab Rain cepat. “Nanti juga ketemu.”

“Kayak kamu?”

“Mungkin.”

"Atau memang kamu?"

"Masa bodo!."

"Awas jangan macam-macam minta jadian.!"

"Ngarep ya.?"

“Ah, sebel.” Rain berdiri. “Yuk makan aja. Curhatanmu bikin aku keki, jadi laper.”

“Hayuk. Cepet naik.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Gibran tersenyum di atas motornya.

“Dasar cowok bodoh,” gumam Rain di boncengan.

Dari kejauhan, terdengar lagu Idgitaf—Sedia Aku Sebelum Hujan. Seandainya kamu tahu, Gib, akulah payung yang akan selalu menjagamu hingga saat hujan itu nanti tiba.

Ibumu pernah bilang, "Temani Gibran ya Rain, sampai waktunya tiba. Kamu satu-satunya yang bisa membuatnya tetap bahagia." Aku yang bingung dan goyah saat itu hanya bisa menggangguk mengiyakan.

Itu yang membuatku tetap menjadi payung buatmu hingga sejauh ini Gib.

***

"Terima kasih ya Rain, untuk semua yang sudah kamu berikan untuk Gibran." Ibu memelukku lagi, sesaat sebelum kami meninggalkan pemakaman, setelah limfoma akhirnya merenggutnya. Dan payung itu kini aku simpan di kenanganku terdalam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
SENYUMAN TERAKHIR
Gunawan Ha
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Fabian
Nudia Fiddini H
Novel
Bronze
Hello, mr. Arthur
mayasyafii
Novel
Bronze
KASTURI DALAM SANGKAR
KUMARA
Cerpen
Arkan & Agatha (Love Story)
Nasyafaav
Novel
Bronze
MERENGKUH LANGIT
Lintang Kalani
Novel
The Secret of You
Aulia Manaf
Novel
REMEMBER
Rhy_ana
Novel
Bronze
Bening dan Banyu
@Fatamorgana16
Skrip Film
Kamu Orang Seperti Apa Ketika Jatuh Cinta?
IndaahNs
Novel
Bronze
Kisah Cinta Terunik Indonesia (KCTI)
Al Mueda Data
Novel
Bronze
NOSOCOME
Utep Sutiana
Cerpen
Bronze
Love or Ghosting
Tika Lestari
Cerpen
Karya Seni dengan Model Terindah
Ulat Bulu
Rekomendasi
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg
Novel
Stalker Misterius KOZMIC BLUES
Hans Wysiwyg
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Flash
Biar Tuhan Saja yang Menulis Ceritanya
Hans Wysiwyg
Flash
SUMMON LEVEN
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Selamanya
Hans Wysiwyg
Flash
Suatu Hari di Toko
Hans Wysiwyg
Flash
Rezeki Mandra Dipatok Saep
Hans Wysiwyg
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg