Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Sedia Aku Sebelum Hujan
8
Suka
6,405
Dibaca

“Kenapa? Putus lagi?”

Gibran cuma mengangguk. Lesu. Seperti orang kehabisan tenaga.

Padahal kalau dihitung-hitung, ini pacarnya yang ke-enam belas. Tapi tetap saja, putus selalu menyisakan rasa perih.

“Playboy cap kelinci kok sedih!”

Gibran tak menanggapi. Ia hanya menatap Rain dengan mata jutek.

Mereka berdua memang aneh. Pacaran tidak, dekat iya, dibilang teman juga bukan.

Teman, katanya. Cinta, rasanya.

“Udah ah,” Rain menyenggol bahu Gibran. “Lupain si Mita. Cari yang lain. Masih ada Cici yang imut, Gloria yang kinyis-kinyis menggelora, atau yang putih seksi—meongnya tante kantin. Kayaknya masih sendiri, jomblo itu.”

“Memangnya aku kucing?”

“Lha terus kamu apa? Kelinci playboy?” Rain mendengus. “Baru diputusin enam belas kali udah nyerah.”

Gibran berhenti melangkah. Menatap Rain sungguh-sungguh.

“Aku pacaran sama kamu aja, Rain. Mau, ya?”

“Ogah!” Rain refleks. “Teman kok makan teman.”

“Makanya diganti statusnya,” Gibran nyengir tipis. “Jadi pacar.”

“Gib,” Rain melotot, “kamu manfaatin kejombloan buat ngerayu aku, ya? Pokoknya aku ogah! Kamu pikir aku cewek nggak laku? Sorry aja. Biar gini, yang mau banyak. Akunya aja yang males pacaran.”

“Please, Rain. Kamu kan baik.”

“Terus kalau baik bisa diobral?” Rain mendecak. “Udah ah. Mending kita makan, kamu traktir aku mie Gacoan level 50. Biar hati kamu melting kena sambel. Curhatan nggak gratis, woi!”

***

“Eh, Rain...”

“Hm?” Rain masih mengunyah sandwich favoritnya sambil berjalan sejajar menuju ruang kuliah.

“Kalau aku jadian sama Gloria yang glowing itu, gimana menurutmu?”

Rain menelan makanannya. “Gib, kamu mau dipasangin sama gorila atau Gloria, sah-sah aja. Yang penting awewe—alias cewek.”

“Ish! Masa ceweknya gorila.” Gibran nyengir. “Kamu marah ya? Cemburu ya?”

“Sama gorila iya,” jawab Rain santai, “tapi sama Gloria enggak level. Aku masih cantik sepersekian persen, beda tipis lah.”

Ia melirik Gibran. “Terserah elo. Kalau suka, kejar. Semangat!”

Rain kembali fokus ke sandwich-nya, seolah obrolan itu tak berarti apa-apa.

Gibran memang begitu. Putus, curhatnya ke Rain. PDKT, nanya saran ke Rain. Luka cinta? Rain juga yang mengobati.

Mereka sahabatan sejak kecil. Sudah tak terhitung berapa kali Rain jadi tempat pulang Gibran. Bahkan saat jomblonya mentok, Rain sempat dijadikan pacar cadangan.

Kapan pun Gibran terluka di medan perang cinta, Rain selalu siap sedia.

Entah sejak kapan, Rain tak lagi sekadar gadis imut di mata Gibran. Ia lebih mirip caregiver—tapi yang satu ini menjaga hati orang lain, sambil pelan-pelan mengabaikan hatinya sendiri.

Mana ada teman yang rela cuma jadi tempat curhat terus-terusan.?

Tapi karena terbiasa, bulir-bulir cinta itu tumbuh diam-diam.

Ditahan sakit. Diungkap takut perih.

Kalau ditolak?

Dukun pun rasanya tak layak diajak bertindak.

Itu sebulan lalu.

Dan siang ini, Rain kembali bertemu pasien caregiver-nya itu.

“Kenapa?” Rain menatapnya. “Putus lagi?”

Gibran mengangguk.

“Rain,” suaranya lirih, “emang masih ada cewek yang baik?”

“Ada,” jawab Rain cepat. “Nanti juga ketemu.”

“Kayak kamu?”

“Mungkin.”

"Atau memang kamu?"

"Masa bodo!."

"Awas jangan macam-macam minta jadian.!"

"Ngarep ya.?"

“Ah, sebel.” Rain berdiri. “Yuk makan aja. Curhatanmu bikin aku keki, jadi laper.”

“Hayuk. Cepet naik.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Gibran tersenyum di atas motornya.

“Dasar cowok bodoh,” gumam Rain di boncengan.

Dari kejauhan, terdengar lagu Idgitaf—Sedia Aku Sebelum Hujan. Seandainya kamu tahu, Gib, akulah payung yang akan selalu menjagamu hingga saat hujan itu nanti tiba.

Ibumu pernah bilang, "Temani Gibran ya Rain, sampai waktunya tiba. Kamu satu-satunya yang bisa membuatnya tetap bahagia." Aku yang bingung dan goyah saat itu hanya bisa menggangguk mengiyakan.

Itu yang membuatku tetap menjadi payung buatmu hingga sejauh ini Gib.

***

"Terima kasih ya Rain, untuk semua yang sudah kamu berikan untuk Gibran." Ibu memelukku lagi, sesaat sebelum kami meninggalkan pemakaman, setelah limfoma akhirnya merenggutnya. Dan payung itu kini aku simpan di kenanganku terdalam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Be more than wishes
Ney
Novel
ALLURA
Mirna Anata
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Novel
B A L I A
Wulansaf
Novel
Tenggat Waktu
Nunik Fitaloka
Novel
Nothing or Something
Ega Okti Mayang Sari
Flash
Sebatas teman
Anisa Dhea Pratiwi
Novel
Secerah Purnama Awal Desember
Khairatul Annisa
Komik
the Secret of WALEN SOES
Illiyin
Komik
Eternal Bloom
rin rina
Flash
You Are My Angel
Luca Scofish
Flash
Jika aku tidak cukup, bilang saja
lidia afrianti
Cerpen
Cerita
Mutia Lasiama Azizah
Novel
Frist Meet wife
Nurul Bayti
Novel
Jika
Eric Shandy Admadinata
Rekomendasi
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH BERTABUR BAN
Hans Wysiwyg
Cerpen
SUNYI SEKALI
Hans Wysiwyg
Flash
Pacar Lima Ratus Langkah
Hans Wysiwyg
Flash
JANGAN JADI GURU!
Hans Wysiwyg
Flash
BAJINGAN
Hans Wysiwyg
Flash
Bos Kubikel
Hans Wysiwyg
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg
Flash
Gadis Kecil Di Trotoar
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Cerpen
Terjebak Rasa
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jalan Tikus
Hans Wysiwyg