Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Sedia Aku Sebelum Hujan
8
Suka
8,481
Dibaca

“Kenapa? Putus lagi?”

Gibran cuma mengangguk. Lesu. Seperti orang kehabisan tenaga.

Padahal kalau dihitung-hitung, ini pacarnya yang ke-enam belas. Tapi tetap saja, putus selalu menyisakan rasa perih.

“Playboy cap kelinci kok sedih!”

Gibran tak menanggapi. Ia hanya menatap Rain dengan mata jutek.

Mereka berdua memang aneh. Pacaran tidak, dekat iya, dibilang teman juga bukan.

Teman, katanya. Cinta, rasanya.

“Udah ah,” Rain menyenggol bahu Gibran. “Lupain si Mita. Cari yang lain. Masih ada Cici yang imut, Gloria yang kinyis-kinyis menggelora, atau yang putih seksi—meongnya tante kantin. Kayaknya masih sendiri, jomblo itu.”

“Memangnya aku kucing?”

“Lha terus kamu apa? Kelinci playboy?” Rain mendengus. “Baru diputusin enam belas kali udah nyerah.”

Gibran berhenti melangkah. Menatap Rain sungguh-sungguh.

“Aku pacaran sama kamu aja, Rain. Mau, ya?”

“Ogah!” Rain refleks. “Teman kok makan teman.”

“Makanya diganti statusnya,” Gibran nyengir tipis. “Jadi pacar.”

“Gib,” Rain melotot, “kamu manfaatin kejombloan buat ngerayu aku, ya? Pokoknya aku ogah! Kamu pikir aku cewek nggak laku? Sorry aja. Biar gini, yang mau banyak. Akunya aja yang males pacaran.”

“Please, Rain. Kamu kan baik.”

“Terus kalau baik bisa diobral?” Rain mendecak. “Udah ah. Mending kita makan, kamu traktir aku mie Gacoan level 50. Biar hati kamu melting kena sambel. Curhatan nggak gratis, woi!”

***

“Eh, Rain...”

“Hm?” Rain masih mengunyah sandwich favoritnya sambil berjalan sejajar menuju ruang kuliah.

“Kalau aku jadian sama Gloria yang glowing itu, gimana menurutmu?”

Rain menelan makanannya. “Gib, kamu mau dipasangin sama gorila atau Gloria, sah-sah aja. Yang penting awewe—alias cewek.”

“Ish! Masa ceweknya gorila.” Gibran nyengir. “Kamu marah ya? Cemburu ya?”

“Sama gorila iya,” jawab Rain santai, “tapi sama Gloria enggak level. Aku masih cantik sepersekian persen, beda tipis lah.”

Ia melirik Gibran. “Terserah elo. Kalau suka, kejar. Semangat!”

Rain kembali fokus ke sandwich-nya, seolah obrolan itu tak berarti apa-apa.

Gibran memang begitu. Putus, curhatnya ke Rain. PDKT, nanya saran ke Rain. Luka cinta? Rain juga yang mengobati.

Mereka sahabatan sejak kecil. Sudah tak terhitung berapa kali Rain jadi tempat pulang Gibran. Bahkan saat jomblonya mentok, Rain sempat dijadikan pacar cadangan.

Kapan pun Gibran terluka di medan perang cinta, Rain selalu siap sedia.

Entah sejak kapan, Rain tak lagi sekadar gadis imut di mata Gibran. Ia lebih mirip caregiver—tapi yang satu ini menjaga hati orang lain, sambil pelan-pelan mengabaikan hatinya sendiri.

Mana ada teman yang rela cuma jadi tempat curhat terus-terusan.?

Tapi karena terbiasa, bulir-bulir cinta itu tumbuh diam-diam.

Ditahan sakit. Diungkap takut perih.

Kalau ditolak?

Dukun pun rasanya tak layak diajak bertindak.

Itu sebulan lalu.

Dan siang ini, Rain kembali bertemu pasien caregiver-nya itu.

“Kenapa?” Rain menatapnya. “Putus lagi?”

Gibran mengangguk.

“Rain,” suaranya lirih, “emang masih ada cewek yang baik?”

“Ada,” jawab Rain cepat. “Nanti juga ketemu.”

“Kayak kamu?”

“Mungkin.”

"Atau memang kamu?"

"Masa bodo!."

"Awas jangan macam-macam minta jadian.!"

"Ngarep ya.?"

“Ah, sebel.” Rain berdiri. “Yuk makan aja. Curhatanmu bikin aku keki, jadi laper.”

“Hayuk. Cepet naik.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Gibran tersenyum di atas motornya.

“Dasar cowok bodoh,” gumam Rain di boncengan.

Dari kejauhan, terdengar lagu Idgitaf—Sedia Aku Sebelum Hujan. Seandainya kamu tahu, Gib, akulah payung yang akan selalu menjagamu hingga saat hujan itu nanti tiba.

Ibumu pernah bilang, "Temani Gibran ya Rain, sampai waktunya tiba. Kamu satu-satunya yang bisa membuatnya tetap bahagia." Aku yang bingung dan goyah saat itu hanya bisa menggangguk mengiyakan.

Itu yang membuatku tetap menjadi payung buatmu hingga sejauh ini Gib.

***

"Terima kasih ya Rain, untuk semua yang sudah kamu berikan untuk Gibran." Ibu memelukku lagi, sesaat sebelum kami meninggalkan pemakaman, setelah limfoma akhirnya merenggutnya. Dan payung itu kini aku simpan di kenanganku terdalam.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Kemerdekaan Untuk Giandra
jangmi eileen
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Novel
SANDIWARA CINTA
Embart nugroho
Flash
PRA NIKAH
Nurmala Manurung
Cerpen
RAHMA
Sarjana MIPA
Novel
Bronze
LONG DISTANCE
Farida Ilma
Skrip Film
Cinta dalam Doa
Leni Juliany
Flash
Dua Gantungan Kunci
Emur Paembonan S
Flash
Pelukkan Segelas Jus
lidia afrianti
Novel
My Devil's Husband, Rainer
irma erviana
Flash
Bronze
Pengamat Kucing dan Mi Ayam
Rizal T Fadh
Cerpen
Bronze
El Beso Del Final (The Last Kiss)
Silvarani
Novel
Gold
Orion
Bentang Pustaka
Novel
Romantika Cinta Dinar - Buku-2
TOTO M. RIANTO
Skrip Film
Behind The Scene
Bintang Muhammad Wahid
Rekomendasi
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg
Cerpen
Susah Lupa
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jendela yang Pecah
Hans Wysiwyg
Flash
Boba
Hans Wysiwyg
Cerpen
Flying Over a Hundred Miles
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
SOULMATE
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg