Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kisah dimulai saat Didi Davinha, bocah 8 tahun yang penuh percaya diri dalam melukis, melakukan perjalanan nekat dari Santos ke Sao Paulo. Dengan sepeda tua yang ia bawa dari temannya, ia berharap lukisannya diterima oleh kritikus berpengaruh, Benigno Agueda.
Didi adalah anak yang hanya hidup untuk seni; ia seolah tidak mampu melakukan hal lain selain melukis. Meski cerdas, ia enggan memedulikan hal lain. Bakat alaminya unik, ia belajar dari ayahnya, seorang pemahat amatir. Teknik kuasnya menyerupai cara memahat, menciptakan tekstur yang tidak dimiliki pelukis lain. Namun, orang tuanya melarang keras dan ingin Didi menjadi pejabat pemerintah karena kondisi ekonomi mereka yang sangat memprihatinkan.
Bukannya belajar, Didi malah melukis di buku tugas. Jawaban ujiannya penuh coretan abstrak yang bagi gurunya tidak bernilai. Akibatnya, ia sering dihukum dan dipukul penggaris. Orang tuanya mendukung guru tersebut karena menganggap melukis tidak ada masa depannya. Didi menjadi pembangkang; ia sering tidur di jalanan, melukis di pasir, atau menggores pohon dengan pisau. Tubuhnya kurus kering karena sering dihukum tidak diberi makan.
Suatu hari, ia membawa pergi sepeda temannya, Garicca Carlos, tanpa izin saat temannya itu bermain bola. Hal ini memicu amarah besar antar keluarga yang berakhir pada kesepakatan untuk melaporkan Didi ke polisi agar ia jera. Namun, Didi tak pernah kembali ke rumah, membuat kemarahan mereka berubah menjadi kecemasan yang mencekam.
Didi ternyata telah sampai di Sao Paulo dengan bekal seadanya. Meski kelaparan dan harus mengais makanan di tempat sampah, ia tetap ceria saat bertemu Agueda. Tragisnya, Agueda yang sombong meremas dan membuang lukisan Didi tanpa melihatnya. Didi pulang dengan hati hancur di tengah teriknya kota.
Beberapa bulan kemudian, nurani Agueda terusik. Ia nekat mencari kembali lukisan itu di tempat sampah yang busuk. Saat melihatnya, ia sangat terkejut karena lukisan itu sungguh istimewa. Ia segera menyiarkan pencarian Didi di televisi. Orang tua Didi yang baru tahu dari tetangga merasa bangga sekaligus hancur.
Agueda mendatangi rumah Didi, namun disambut tangis Garicca. Kabar pahit terucap: Didi telah mengakhiri hidupnya dengan terjun dari tebing karena harapannya dirampas oleh Agueda. Sang kritikus berteriak histeris, menyadari kesombongannya telah membunuh bakat jenius.
Kisah berakhir dengan Agueda berjalan gontai meninggalkan kemewahannya, merapalkan doa pengakuan dosa sepanjang jalan.