Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk belajar membaca cuaca di matanya. Namun, hingga detik ini, aku tetap gagal. Di rumah ini, atmosfer tidak ditentukan oleh musim, melainkan oleh bagaimana cara dia membuka mulut.
"Kamu enak tinggal di rumah,aku yang capek kerja," kalimat itu meluncur begitu saja, setajam sembilu, memotong udara yang sedang kucoba hirup dengan tenang.
Tidak ada memar biru di kulitku, tapi hatiku sudah penuh dengan jahitan luka yang ia buat lewat kata-kata.
Aku telah memaafkan hingga hitunganku habis.
Aku telah menangis hingga air mataku terasa tawar.
Dulu, aku berdoa agar dia berubah. Lalu doaku menyusut,aku hanya ingin dia mengerti. Aku menerima egonya, suasana hatinya yang berantakan, dan sikap diamnya yang selalu mengacuhkan ku bagaikan orang asing.
Tak masala dalam keadaan sesulit apapun ku tetap memegang tangannya.
Aku bertahan pada satu tumpuan,yaitu aku sudah memilihnya, maka aku harus menelannya bulat-bulat. Bahkan saat melihat anak kami bermain di sudut kamar, aku sering berbohong pada diri sendiri bahwa "tidak apa-apa selama kita bersama."
Namun, mencintai sendirian itu melelahkan. Aku menyadari kami hanya berputar di titik awal yang sama. Mengabaikan rasa sakit dengan dalih cinta ternyata hanyalah cara lain untuk bunuh diri perlahan.
Kini, aku memilih menyerah. Bukan karena cintaku mati--cinta itu masih ada, berdenyut nyeri di balik dadaku. Aku pergi karena aku sadar, hubungan ini tidak punya masa depan untuk tempatku tumbuh.
Ketika rasa sakit sudah lebih besar dari rasa cinta, langkah kaki keluar pintu adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.