Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Hahaha.. Oh God, ini sungguh konyol!” Aku tertawa dengan seluruh tenagaku menyadari keadaanku saat ini.
“Ternyata, hanya sampai di situ, dirinya bisa mengakui harga diriku yang bahkan lebih besar dari harga dirinya! Hahaha.. Tuhan… lihatlah mahkluk-Mu yang satu itu! Hahahaha..”
“Sialan! Persetan dirinya! Bisa-bisanya aku menghabiskan tahun-tahunku untuk dirinya yang bahkan tidak punya harga diri. Hahahahaha!”
Aku terus meracau sendiri dan hujan masih terus mengguyur kota ini. Aku sangat senang mengetahui hujan mendukung racauanku dengan mengirimkan beberapa gemuruh petirnya ke bumi. Di tengah derasnya hujan, aku berjalan bagai orang yang sudah kehilangan akalnya, menyadari setiap situasi yang mengantarkanku ke saat ini. Betapa bodohnya aku selama ini mengharapkan yang mustahil pada orang yang bahkan lebih bodoh dariku.
Sepanjang jalan ini, hanya ada bayangan diriku memantul di setiap genangan air yang aku lewati. Seolah kota ini juga ikut menertawakan keadaanku saaat ini. Lampu-lampu jalan berdiri tanpa sepatah katapun, menyinari diriku yang sudah basah tak karuan. Aku menghitung semua ingatan, betapa konyolnya semua itu, tawa yang pernah kupercaya, kata-kata yang dulu terdengar hangat yang ternyata hanya omong kosong belaka.
Ku hentikan langkahku di bawah pohon yang daunnya sudah tidak sanggup lagi menahan air yang jatuh. Di sanalah aku sadar bahwa aku tidak kehilangan dirinya, tapi aku yang sudah lama menitipkan diriku pada dirinya. Aku marah bukan karena merasa ia meninggalkanku, tapi aku marah dan kecewa karena dirinya, aku menghabiskan waktuku yang berharga, energiku yang susah payah ku berikan, dan emosi yang sekuat raga ku jaga, untuk dirinya yang bahkan tidak pernah berniat untuk berdiri menghadapi kenyataan.
Sepertinya hujan masih tidak ingin melepaskan diriku dari semua bayangan-bayangan konyol itu. Air masih turun dengan begitu deras dan petir masih menyambar beberapa kali, bahkan angin masih terus berhembus kencang. Sepertinya Januari akan berakhir seperti di dalam nyanyian, ‘kisah kita berakhir di Januari’. Akan kututup semua bab tentang dirinya, akan ku musnahkan semua kenangan tentang dirinya dan kubiarkan badai di Januari menyapu semua hal tentang dirinya. Ini adalah terakhir kalinya aku menulis tentang dirinya.
…
Singkat saja, aku tidak ingin menyombongkan diriku hanya saja selama ini dia yang lebih dulu memujiku bahwa aku lebih pintar darinya, bahwa aku lebih di segala aspek dari dirinya. Jujur saja aku tidak pernah menganggap pujian itu adalah hal serius, karena aku tidak pernah merasa seperti itu. Aku tidak sepintar itu, masih banyak hal yang perlu aku pelajari, ada banyak aspek yang belum bisa ku mengerti, maka dari itu aku terus mempelajari hal-hal baru yang tidak aku mengerti.
Tapi siapa sangka, ia merasa dirinya lebih rendah dariku. Ia yang memuji diriku dan ia juga yang merasa rendah.
Aku tidak pernah menuntut dirinya agar ia menjadi sosok yang hebat dalam satu malam. Aku tahu itu sangat tidak masuk akal. Aku malah menghargai dirinya yang mau ikut belajar hal-hal yang tidak ia ketahui. Aku selalu menjadi supporter setia setiap kali dirinya ingin bergerak maju. Bodohnya, ia malah takut untuk maju.
…
Ia memilih berdiri di tempat yang aman bagi egonya sendiri. Bersembunyi di balik candaan, menyangkal perasaan dengan dalih logika, dan menutup mata dari kenyataan bahwa ia sendiri yang menciptakan kebingungan itu. Ia ingin ditemani, tapi tidak ingin bertanggung jawab. Ia ingin diperhatikan, tapi tidak ingin mengakui. Ia ingin aku tetap ada, tapi tidak pernah berniat menggenggam. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam kebingungan itu sendiri sejak awal. Seperti orang idiot yang mengerti bahwa ia harus berenang agar bisa selamat dari air yang dalam tapi, ia bahkan tidak mengerti apa itu berenang.
Aku akhirnya mengerti semua tindakan idiotnya itu berasal dari ketakutannya. Bukan ketakutan akan kehilangan diriku, melainkan kehilangan kendali atas rasa rendah yang selama ini ia rawat sendiri. Maka ia menarikku mendekat saat aku menjauh, dan mendorongku pergi saat aku berani jujur. Sebuah permainan yang terlalu melelahkan untuk disebut cinta, dan terlalu kejam untuk disebut pertemanan. Mungkin baginya diriku ini adalah sebuah kompetisi yang bahkan akupun tidak pernah menyelenggarakannya. Entah siapa yang memulai kompetisi itu, yang jelas aku tidak pernah membuat kompetisi itu.
Dan aku terlalu lama bersabar. Terlalu lama memberi makna pada sikap-sikap idiotnya. Terlalu lama menafsirkan perhatian sebagai keberanian, dan diam sebagai kebingungan yang kelak akan menemukan jawabannya. Padahal sejak awal jawabannya sudah ada yaitu, ia tidak pernah siap dengan apapun yang ia mulai. Yap, selama ini aku hanya berdebat dengan seorang pengecut nan idiot.
…
Kini aku berdiri di sini, di antara hujan yang mulai reda dan amarah yang perlahan kehilangan suaranya. Tidak ada lagi teriakan di dadaku, hanya sisa lelah yang mengendap. Aku kembali tertawa. Aku tidak lagi ingin dipahami olehnya, tidak lagi ingin jawaban, apalagi pengakuan. Semua itu tidak lagi penting. Aku tidak butuh dimengerti oleh manusia yang tidak paham akan dirinya sendiri.
Aku memilih berhenti menunggu seseorang yang bahkan tidak berani menunggu dirinya sendiri. Aku memilih berjalan pergi, bukan karena kalah, tetapi karena aku sudah selesai. Selesai mengorbankan waktu, selesai meminjamkan cahaya pada orang yang takut bersinar, selesai menjelaskan nilainya pada seseorang yang menolak bercermin. Aku benar-benar sudah selesai.
Satu hal yang akhirnya bisa kuucapkan tanpa ragu “Hahaha.. Ia sudah memaksaku untuk memilih antara diriku dan dirinya, Tuhan jadilah saksiku saat ini bahwa dari dua pilihan itu aku akan selalu memilih diriku sendiri.”
Dengan ini, selesai sudah chapter kisah menyedihkan ini. Izinkan aku menutupnya dengan satu umpatan “Bajingan!”