Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Dongeng Senja
11
Suka
30,232
Dibaca

Fabian berdiri di tepi pantai, menghirup udara laut dan merasakan tiap obyek di pantai memainkan lantunan nada. Melodi air laut berdesir pelan, tak tampak adanya ombak tinggi yang menggulung di lautan. Bersama dengan gerakan yang diciptakan angin memainkan rerumputan liar, suara gesekan-gesekan kecil muncul, menambah suasana yang entah kenapa terasa sangat damai bagi Fabian.

Sudah sekitar setengah jam dia berdiri di bibir pantai, membiarkan ombak kecil menyapu kakinya yang tak mengenakan alas kaki. Merasa lelah, Fabian menghampiri sebuah bangku kayu yang sengaja diletakkannya tak jauh dari bibir pantai. Bangku yang tak pernah dipindahkan. Kini dia duduk menatap sebuah lukisan senja yang terhampar begitu besar di hadapannya. Sebuah lukisan alami klasik yang keindahannya tak pernah membosankan. Menampilkan latar belakang langit jingga, dengan hiasan beludru awan-awan tipis, memberikan sentuhan manis. Gulungan-gulungan air dan buih-buih yang menari di atas kilau permukaan air laut, merefleksikan sebuah kilasan memori sejarah kehidupan di mata Fabian. Semua unsur itu mengiringi setengah lingkaran matahari kemerahan tepat di batas cakrawala.

Mahakarya Agung. Sebuah suara terdengar memuji, mengejutkan Fabian. Seolah tahu persis, bahwa lelaki itu tengah mengagumi keindahan senja. Sang pemilik suara berjalan pelan mendekati Fabian dan duduk di sampingnya. Fabian tersenyum dan mengulang kata-kata wanita yang kini menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Fabian. Mahakarya Agung.

Dalam hening, mereka berbagi sentuhan dan belaian senja. Perlahan setengah lingkaran di batas cakrawala itu makin tenggelam, menyadarkan Fabian akan sesuatu. Bahwa setiap rangkaian waktu akan memiliki akhir. Seperti dirinya, yang dulu begitu terang seperti matahari utuh, kini mengikuti alur skenario kehidupan yang membawanya hampir menuju bagian akhir. Sinarnya telah meredup bagai senja dan hampir tenggelam, seperti matahari yang akan lenyap dari garis horison.

Fabian menunduk, menatap wanita di pelukannya yang matanya terpejam. Ada setitik air mata menetes di antara kerutan wajah cantik yang telah menua itu. Fabian mengecup keningnya membuat wanita itu tersenyum. Kemudian dengan lirih dia meminta Dongeng Senja pada Fabian. Mereka menyebutnya Dongeng Senja. Yang tak lain hanyalah berupa serentetan kata-kata manis yang dulu diucapkan pada janji pernikahan Fabian untuk mengajak wanita itu dalam sebuah ikatan suci. Sudah beberapa minggu ini, dia selalu meminta pada Fabian untuk mengucapkannya tiap sore di tepi pantai belakang rumah kecil mereka. Janji yang tak pernah ternoda hingga senja telah menjemput mereka.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Dongeng Senja
Liz Lavender
Novel
Bronze
Komandan Penakluk Hati (TELAH TERBIT)
elrena._
Flash
Jika Kita Bisa Kembali ke Masa Itu
Khoirul Abidin
Novel
Choco Lab
rinano
Novel
SURINALA
NISA HAPSARI.
Novel
Bronze
Isekai Everywhere
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
MUALAF
Iman Siputra
Flash
Bronze
Bukan Malam Jahanam
Anjrah Lelono Broto
Cerpen
Later
Rama Sudeta A
Novel
Gold
Terbang
Noura Publishing
Skrip Film
Rona Memorabilia
Galeh Pramudita Arianto
Flash
Bronze
Alasan Pria Mudah Lelah
Ron Nee Soo
Novel
Hanari
Meliawardha
Novel
Kemerdekaan Untuk Giandra
jangmi eileen
Novel
Bronze
When Cammelia Bloom
Chacha
Rekomendasi
Flash
Dongeng Senja
Liz Lavender
Novel
Bronze
Fabricated Love
Liz Lavender
Skrip Film
Fly and Kiss the Sky
Liz Lavender
Novel
Bronze
Star-crossed
Liz Lavender
Flash
Your Lips, My Ears.
Liz Lavender
Skrip Film
A15 - A16
Liz Lavender
Flash
Song For You
Liz Lavender
Novel
Bronze
BLACK COFFEE
Liz Lavender