Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Suatu hari, Abdul kedatangan seorang wanita muda yang meminta izin untuk membawa balitanya ke kamar mandi. Abdul tahu putrinya juga baru saja keluar dari kamar mandi tersebut, tetapi karena ia tahu pandangan terhadap wanita pemakai tembakau sangatlah buruk, ia akan mengaku bahwa dialah yang menggunakan kamar mandi jika tamu tersebut tiba-tiba menyinggung bau yang menyesakkan nafas.
Tak disangka, wanita muda itu menderita penyakit langka, di mana ia akan mengalami sesak napas kritis jika menghirup banyak asap yang dihisap sehari-hari untuk menghilang penat. Singkat cerita, Abdul ditangkap dan merahasiakan fakta yang sebenarnya. Putrinya berulang kali mengungkapkan kepada Abdul bahwa sebetulnya dialah yang harus bersalah, terutama jika Avin—wanita yang menghirup asap itu—meninggal, hukuman yang tidak adil pun menanti ayahnya.
Abdul memang menyesal selama ini membiarkan putrinya mengkonsumsi, tetapi ia melakukannya karena ia tahu rasanya hidup dalam kekangan. Selain itu, putrinya menjadi penikmat karena Abdul terlalu menyayangi kakak laki-laki putrinya yang merupakan penikmat asap berat; depresi putrinya akan kambuh jika ia berpisah dengan dunia tembakau. Terlebih lagi, putrinya dijanjikan oleh Ahmir, adik laki-laki Abdul yang kaya, untuk membayar biaya sekolah yang sebelumnya terputus. Abdul tahu dengan dipenjaranya dia, Rozhan, putrinya yang selama ini terabaikan, akan menjadi pusat perhatian keluarga besar. Abdul tahu dengan menyembunyikan fakta, Rozhan akan mendapatkan pendidikan setinggi mungkin.
Abdul menyadari bahwa pengorbanan tulus yang ia lakukan menyebabkan luka menganga dan depresi yang lebih besar bagi putrinya, tetapi ia berasumsi bahwa depresi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hak yang akan dirampas dari Rozhan jika ia mengungkapkan kebenaran. Tapi... tidak ada yang tahu rencana Sang Desainer Semesta.
Ahmir yang kaya pun tidak bisa apa-apa, ia sudah tahu dari cerita Rozhan sendiri, juga tahu betul resikonya, ia sesekali memang melihat keceriaan dan tawa dari mata dan bibir serta senyum Rozhan, tapi dia tahu itu palsu, setiap dirinya menjemput sendiri Rozhan untuk pergi atau pulang sekolah, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sendiri pada orang lain bahkan pada istrinya, ia selalu melirik ke arah kaca dasboard mobil untuk mengecek ekspresi keponakannya jika berubah, dan ia selalu saja melihat ceria berubah menjadi sendu, hingga akhirnya tahun-tahun berlalu dan sudah waktunya Abdul menghadapi takdirnya.
Pilunya, Abdul mendapatkan waktu dimana ia wajib meninggalkan hidup di mana di saat bersamaan dengan itu Rozhan, sang putri, mendapatkan peringkat pertama, dan menyatakan betapa berartinya sang ayah baginya, di mana ia juga menyampaikan salam perpisahan pada sang ayah dalam pidatonya. Hampir tidak ada yang menangis, simpati atau peduli dengan itu kecuali Ahmir yang juga hadir, seperti dunia yang memang sudah terlalu mementingkan prestasi ketimbang kehidupan yang akan segara meniti menit terakhir.
Setelah selesai berpidato, Rozhan menangis di balik panggung, kemudian Ahmir mencoba menghibur keponakan kesayangannya tersebut, di mana ia mendengar langsung dari gadis tersebut bahwa Rozhan merasa amat terbebani dengan kesalahan dirinya yang ditutup-tutupi sang ayah, satu hal yang sudah diduga-duga oleh Ahmir sejak dia tahu kebenaran, dulu.
Ahmir hanya bisa menjawab:
"Memang apa yang ayahmu putuskan salah, tapi setidaknya hargai ayahmu yang telah bertaruh hidup akan hal itu."
"Jika kau mengatakan pada semuanya, maka pengorbanan ayahmu akan sia-sia."
"Mulai sekarang tutup mulutmu, tahan itu di dalam jiwa ragamu, agar perginya ayahmu yang bagi mereka atas nama keadilan tidaklah jadi sia-sia belaka."
Rozhan pun kemudian memeluk pamannya itu dan menangis sesenggukan di dalam pelukannya, sedangkan masyarakat kembali melanjutkan hidupnya seolah semuanya berjalan normal.