Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Manuel Gotze, pimpinan sebuah firma akuntansi di Jerman, mendapati dunianya runtuh dalam satu hari yang kelabu. Setelah memeriksakan kepalanya yang sering pening, dokter memberikan vonis yang mustahil: sel darah putih di otaknya telah memakan sel darah merah selama lima belas tahun tanpa ia sadari. Kini, hidupnya hanya tersisa empat hari lagi. Gotze menolak tawaran doa dari seorang pastor karena ia percaya bahwa setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan secara nyata; baginya, dosa harus ditebus dengan tindakan, bukan sekadar simbol.
Sepulangnya dari dokter, ia mendapati kantornya di lantai 78 sedang dibongkar paksa karena pengkhianatan rekan bisnisnya, Peter Glasisch. Glasisch memalsukan tanda tangan Gotze dan membuatnya dituduh mencurangi karyawan demi keuntungan pribadi. Seluruh asetnya disita bank, dan istrinya, Elisa Braum, langsung melayangkan gugatan cerai karena menganggap Gotze pria yang sangat licik. Dalam kemarahan yang meluap, Elisa sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Gotze untuk menjelaskan kebenaran maupun penyakit mematikan yang ia derita.
Kabar buruk berlanjut saat putranya, Hermann, ditangkap polisi karena mengedarkan zat terlarang. Lebih pahit lagi, Hermann terlibat dalam skandal yang merusak kemurnian jiwa anak-anak di bawah umur melalui sebuah pertunjukan kelam yang tak seharusnya mereka saksikan. Di tengah badai itu, Gotze mendapat kabar bahwa ayahnya, Allan, baru saja merenggut napas terakhir ibunya akibat amarah maut yang dipicu masalah sepele: taburan merica pada telur dadar yang memicu alergi hebat sang ayah.
Alih-alih menyerah pada nasib, Gotze bertekad menjadikan sisa empat harinya waktu yang paling sempurna. Hari pertama dan kedua ia habiskan bersama Hermann di bawah pengawasan polisi. Gotze menyadari bahwa selama ini ia dan Elisa telah menelantarkan putra mereka demi kesuksesan bisnis. Gotze membiarkan Hermann melakukan hal-hal yang dulu dilarangnya, termasuk minum Sangria bersama di taman kota. Namun, Hermann memiliki satu permintaan terakhir: ia ingin makan malam bersama ayah dan ibunya sebagai sebuah keluarga.
Awalnya, Elisa menolak keras ajakan tersebut karena kebenciannya yang mendalam. Namun, Gotze membujuknya dengan penuh ketulusan, menjelaskan bahwa ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk duduk bersama sebagai keluarga sebelum Hermann kehilangan kebebasannya dalam waktu yang sangat lama. Dengan berat hati, Elisa akhirnya setuju untuk hadir dalam perjamuan itu. Hari ketiga, ia merawat ayahnya di tahanan. Mereka mengenang masa lalu tentang arti nama "Gotze" tanpa membahas tragedi kematian ibunya sedikit pun.
Di hari terakhir, meski kepalanya terasa sangat sakit, ia berjalan kaki mendatangi satu per satu rumah karyawannya untuk meminta maaf. Gotze akhirnya kembali ke taman, meminum Sangria terakhirnya, dan meninggal dengan tenang di sana. Baginya, ia telah berhasil menutup catatannya dengan sebuah hari yang sempurna.