Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Percayakah kamu bahwa imajinasi kuat bisa memanifestasikan seseorang di dimensi lain? Tuhan membatasi mereka dengan dinding tipis yang tak kasatmata. Mereka berbagi ruangan yang sama, namun tidak menyadari satu sama lain. Inilah yang dialami Adi dan Lala.
Adi, pemuda 21 tahun pengidap disleksia, menghabiskan waktu di tempat tidur dengan menggambar Lala sebagai teman khayalannya. Di dimensi lain, Lala yang lumpuh juga membayangkan Adi dan menuliskannya dalam novel. Apa yang mereka bayangkan menjadi nyata; Adi menggambar Lala bisa berjalan, dan Lala sembuh. Lala menulis Adi bisa membaca, dan disleksia Adi sirna. Namun, mereka lupa menuliskan alasan kesembuhan itu, membuat orang sekitar merasa aneh.
Setelah sembuh, keduanya bekerja di warnet yang sama, namun tetap di dimensi berbeda. Mereka hanya bisa saling merasakan melalui kreativitas. Cinta tumbuh pada karakter imajiner, hingga mereka menutup hati bagi orang nyata. Keyakinan mereka hampir meruntuhkan dinding dimensi, namun para Malaikat yang menyamar sebagai manusia terus meyakinkan mereka bahwa sosok itu tidak nyata. Para Malaikat ini memengaruhi orang-orang sekitar lewat obrolan santai untuk menjaga sekat dimensi agar tidak runtuh.
Hubungan mereka layaknya teori Kimia; bisa dicampur namun tak pernah benar-benar menyatu. Takdir mereka dibiarkan menggantung, antara nyata dan tiada.
Di sebuah restoran, mereka duduk di meja yang sama namun berbeda dimensi. Di tengah keramaian, Lala menulis tentang Adi, dan Adi menggambar sosok Lala. Sekembalinya ke rumah, Adi menggambar Lala datang mengetuk pintunya, sementara Lala menulis Adi datang dengan motor usangnya. Keduanya siap mengetuk pintu pencipta mereka. Sebelum ketukan terdengar, mereka saling melihat bayangan masing-masing dan tersenyum sangat bahagia.