Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Setiap hari Senin, selama tiga minggu berturut-turut, aku datang ke rumah sakit.
Bukan sebagai pasien. Bukan aku yang duduk di kursi roda itu, melainkan Ayah—suami dari adik Mamaku, sekaligus sosok yang, dalam relasi batin, kuanggap sebagai ayah kandung.
Secara silsilah, aku keponakan. Tapi dalam kenyataan hidup, aku adalah anak yang berdiri di sampingnya, menjadi penyangga bagi Ibuku yang merawatnya seorang diri.
Ibu berangkat dari kampung menuju rumah sakit di kota untuk keperluan medical check up Ayah. Aku berangkat sendiri. Rumahku memang tak jauh dari rumah sakit, jadi motorku sudah cukup mengantarku bolak-balik.
Mereka datang dengan mobil pribadi—bukan karena mapan, tapi karena kebetulan memilikinya. Ibu tak bisa menyetir. Ayah pun tidak. Maka Om Eri lah yang selalu membantu. Tetangga Ibu di kampung. Orang yang bersedia menjadi driver setiap kali Ayah harus berobat.
Anehnya, aku tak pernah benar-benar melihat wajah Om Eri.
Setiap kali menurunkan Ayah di depan pintu rumah sakit, ia langsung memutar arah menuju parkiran. Kadang menunggu di mushola. Tak pernah ikut mengurus administrasi. Tak pernah masuk ke ruang-ruang pemeriksaan.
Berada di rumah sakit membuatku menyaksikan banyak kisah. Pasien dari luar kota. Keluarga yang bertahan dengan sisa tenaga dan harapan. Cerita-cerita yang dibagikan di ruang tunggu, saling menguatkan tanpa saling mengenal.
Ibu dan Ayahku juga punya kisahnya sendiri.
Aku?
Aku hanya mengamati. Diam. Bertindak seperlunya.
Tugasku sederhana tapi menguras tenaga, mendorong kursi roda Ayah ke mana-mana. Lorong rumah sakit tak selalu ramah. Jalanannya tak selalu rata. Aku lelah. Tapi aku lebih tak tega membiarkan Ibu yang melakukan itu sendirian.
Sesekali terlintas pikiran. Seandainya Om Eri mau membantu sedikit saja. Namun pikiran itu segera kutepis. Mengantarkan mobil saja sudah cukup merepotkan. Tak adil jika aku menuntut lebih.
Meski begitu, rasa lelah perlahan berubah menjadi kesal. Kesal yang salah sasaran.
Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya, tapi emosiku sudah lebih dulu menjadikannya pelampiasan. Aku marah pada tubuhku yang letih, lalu melampiaskannya pada sosok yang tak bersalah.
Hari Senin minggu ketiga, semua prosedur selesai lebih cepat. Jam tiga sore Ayah sudah boleh pulang. Aku berniat langsung kembali ke rumah dan beristirahat. Namun Ibu mengajakku makan siang. Bersama Om Eri. Sebagai ucapan terima kasih, katanya.
Akhirnya, aku akan melihat orang yang selama ini hanya hadir sebagai bayangan. Aku datang ke restoran menyusul mereka. Aku sengaja datang terpisah, masih dengan motorku. Dalam benakku, sudah kusiapkan tatapan sinis.
Om Eri duduk di hadapanku. Kaosnya pudar dan sedikit kebesaran dengan celana jeans dan sandal jepit. Tapi begitu aku melihat wajahnya, sesuatu dalam diriku runtuh.
Kesalku menguap begitu saja. Ia menyapaku dengan senyum tenang dan teduh. Nyaliku yang semula ingin menyindir mendadak mengecil.
Saat makanan datang, aku menyadari sesuatu, ia tidak memesan minuman. Pikiran picikku muncul lagi.
Apa karena dia dari kampung? Apa dia tidak nyaman di restoran? Padahal ini hanya restoran biasa dari kebanyakan restoran populer di Kota.
Namun Om Eri makan dengan tenang. Tanpa suara. Tanpa canggung. Dari ransel di pangkuannya, ia mengeluarkan tumbler dan minum dengan santai.
Ia menghabiskan makanannya, lalu menata sendok dan garpu bersilang rapi di atas piring.
Etikanya… tak bisa ku tebak.
Pemikiran sempitku runtuh satu per satu. Saat itu, Ibu membuka percakapan. Menanyakan kehidupannya selama bertahun-tahun tinggal di luar negeri.
Deg…
Seperti ada sesuatu yang menghantam kepalaku.
Orang yang kupandang sederhana ini ternyata menyimpan dunia yang jauh lebih luas dari dugaanku. Ia bukan “orang kampung” seperti yang kubayangkan. Ketenangannya bukan kebetulan. Sikapnya bukan hasil pura-pura.
Dan aku—
baru sadar betapa kecilnya cara pandangku.
Andaikan ia sepemikiran denganku, mungkin akulah yang pantas dipandang rendah. Cara makanku berantakan. Etika Ku biasa saja.
Tapi tidak. Ia tetap menjawab setiap pertanyaanku dengan senyum yang sama. Teduh. Tidak menghakimi.
Rasa kesalku lenyap. Yang tersisa hanya rasa malu dan bersalah. Aku telah menjadikannya objek pelampiasan lelah dan prasangkaku sendiri.
Dari Om Eri, aku belajar satu hal. Manusia tidak pernah bisa dinilai dari penampilan, tempat asal, atau dugaan-dugaan dangkal.
Table manner ternyata bukan soal cara makan. Melainkan cara memandang sesama manusia.