Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Phthonos, sudah berhasilkah kau jadi seperti orang yang membuatmu iri itu? Atau malah semakin dalam hasad di jantung hati?
Setiap kali dia lewat, tak lepas matamu menatap cemburu. Pakaiannya bagus atau biasa, seketika buat hati berkarat. Dia tersenyum ramah pada orang, geringlah kalbumu. Ketika dia tersenyum padamu, kalat senyummu membalas.
Gerak-gerik dan suaranya menyempitkan dadamu. Barah rasa di dalam hati, padahal ia hanya melakukan aktivitas seperti biasa. Guligah kala ia asyik berbincang dan bercanda dengan teman-temannya. "Apa asyiknya sih berteman dengan dia? Sudah lama aku merasa dia itu palsu. Fake," ucapmu pada teman terdekat, sambil menatap mereka dari kejauhan. Temanmu mengangguk, maka tertularlah sudah dengkimu kepadanya.
Bernanah sudah sukmamu, Phthonos. Kau makan sendiri hatimu sebab dengan keruh batin kau menatapnya. Kelam sanubari padahal kau pun tak ada dalam isi kepalanya. Dia lihat pun tidak.
Ampas kalbu sudah menumpuk, mengeras dan berkerak. Onak tertancap di sekujur dinding jiwamu, berayun-ayun saling menyayat dinding satu ke dinding lain. Sudahlah, Phthonos. Buanglah benalu di lubuk jiwamu itu segera. Sanu iri hati semakin tampak jelas dari jauh, meski kau tutup dengan tampilan kudusmu.
***