Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Maaas, aku pinginnya ..."
"Pingin apa?" jawabku datar, dia diam.
"Bilang saja," kataku tak sabar.
"Mas kok kayak marah gitu sih ngejawabnya," katanya sambil cemberut. Nah, jawab salah, diam tambah salah, lantas harus jawab bagaimana? keluhku di dalam hati. Apa karena aku terlalu lelah menuruti permintaannya yang macam-macam dengan dalih ngidam, jadi suaraku terdengar seperti orang yang marah?
Kubelai lembut bahunya sebagai pengganti kata maaf.
"Hmm ... jadi, tuan putri kepingin apa?" kataku lembut di dekat wajahnya, lalu senyum manisnya mengembang, menampakkan lesung pipit di pipi kanannya.
"Mas, aku ngidam naik bis kota," kata istri cantikku itu dengan suara pelan seperti takut tak aku penuhi maunya, tangannya memegang lenganku seperti ingin menambah kekuatan pada kata-katanya. Kaget juga mendengar permintaannya yang aneh itu, tapi mataku hanya melirik ke arah perutnya yang semakin membuncit, sambil memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan tanpa membangkitkan perang dunia ke tiga.
Bila berbicara jujur tak menimbulkan gejolak, aku hanya ingin bilang, "Tidaaak!" Bila itu terlalu keras, boleh dipermanis menjadi, "Sayang, seingatku yang namanya ngidam itu 'kan pas awal-awal kehamilan'kan? Ini kok ngidam pas perut sudah menjelang sembilan bulan, ngidamnya naik bis kota pula, manalah lagi di Malang sini adanya angkutan kota. Harus ke Surabaya dulu, barulah bisa naik bis kota. Jadi jawabanku adalah tidak."
Aku merenung lagi, kalimat panjang yang terdengar manis itu tertahan di pikiranku lalu tenggelam ke dasarnya.
"Mengapa tiba-tiba ingin naik bis kota?" Ternyata malah itu kalimat yang keluar dari mulutku.
"Ini namanya ngidam, Mas, ngiii-daaam," jawabnya, lebih ke mengeluarkan senjata pamungkas yang memaksaku memenuhi permintaannya.
"Ngidam itu biasanya 'kan berupa makanan, sebagai pemenuhan gizi karena si jabang bayi membutuhkan zat tertentu," kataku sambil membelai lembut rambutnya, sementara batinku mempersiapkan diri andai dia membantah dan ngajak perang. Bagiku keselamatan kandungannya lebih penting daripada keinginan konyolnya yang tidak masuk akal dan tidak ada landasan ilmiahnya itu. Sudah waktunya aku tidak iya-iya saja menuruti segala permintaannya.
"Aku tahu Mas pasti tidak mengabulkan keinginanku," jawabnya kalem, lalu dia beranjak dari sampingku, berjalan gontai lalu menghilang di balik pintu kamar. Aku duduk terpaku, bingung antara mengikutinya masuk ke dalam kamar atau mengabaikannya agar dia tak terlalu manja dan selalu minta dituruti.
Keesokkan harinya, dia tak membahas masalah itu lagi, soal ngidamnya yang aneh, rasanya di dunia ini tidak ada wanita selain istriku yang ngidamnya naik bis kota. Karena dia tidak menyinggung persoalan itu, aku anggap dia paham bila naik bis kota amat berisiko bagi kandungannya, dan masalah aku anggap selesai.
Sehari, dua-tiga hari, dia tak membicarakannya, tapi aku amati dia sedikit sekali makan, hanya dua tiga suap saja, buah-buahan kesukaannya tak disentuhnya sama sekali, hampir utuh di atas meja makan. Ketika aku ingatkan untuk makan yang cukup, dia bilang mual, padahal mual-mual umumnya dialami di trimester pertama kehamilan. Kuajak periksa ke dokter tidak mau, belum jadwal periksa, katanya. Dan aku mulai resah, jangan-jangan ini jurus baru istriku untuk memaksakan keinginannya.
Istriku mulai lemah, mungkin karena kurang makan, untungnya dia masih rajin mengonsumsi susu khusus wanita hamil. Kupikir dari situlah mayoritas kebutuhan nutrisinya terpenuhi.
Di hari keempat dia mogok makan, aku mulai resah dan khawatir. Kurasa sudah waktunya bagiku meletakkan ego dan membicarakan persoalan ini dengan kepala dingin. Benar saja, ketika aku bicara dari hati ke hati dengannya, keluar pengakuan dari mulut istriku bila dia masih menyimpan dendam karena tak aku penuhi keinginannya naik bis kota. Aku benar-benar terpojok dalam satu-satunya pilihan yaitu menuruti keinginannya.
"Baiklah, hari ini kita ke Surabaya ya," kataku sabar, lebih tepatnya berusaha menyabar-nyabarkan diri.
"Makasih ya Mas,"katanya ceria,"Boleh sambil lihat pameran lukisan ya Mas? Temanku pameran lukisan di Balai Pemuda."
"He-eh," jawabku sambil menganggukkan kepala lalu mencium kedua belah pipinya.
"Tapi kita naik bis 'kan?"
"Iya, naik bis kota 'kan? dari Malang bawa mobil sendiri turun di Bungurasih, lalu naik bis kota ke tempat pameran lukisan," kataku, dia menggelengkan kepala, aku kebingungan.
"Jadi mau Dik Lala gimana?" tanyaku lembut.
"Maksudku, kita naik bis dari Malang ke Surabaya, lalu naik bis kota," katanya, aku membelalakkan mata, jadi dobel naik bis ini ceritanya? batinku. Melihat dia memandangku sambil mengerjap-ngerjapkan mata membuatku tak punya pilihan selain menurutinya. Mestinya aku bersyukur karena dia hanya ingin naik bis kota dan bukan ingin nyopiri bis kota, bisa repot suami siaga ini.
Anehnya, siang itu, setelah aku iyakan keinginannya dan aku janjikan sore nanti ke Surabaya, istriku makan dengan lahapnya, sambil berceloteh tentang betapa keren lukisan temannya yang sedang pameran di Surabaya.
Sore itu kami berdua naik angkot ke terminal Arjosari, lalu naik bis patas ke Surabaya, lalu naik bis kota, persis permintaannya, tetapi ....
"Kok bis kotanya begini yo Mas?" katanya ketika kami berada di dalam bis kota yang panas dan berdebu.
"Maksudku bis kota yang bersih kayak di sinetron," katanya lagi. Tapi dia tak punya pilihan lain, tak ada bis kota seperti yang dia maksudkan di sini. Kami juga ditipu calo, ternyata bis kota butut ini tak lewat di depan Balai Pemuda, jadi kami berdua harus naik angkot lagi.
Pulangnya, setelah kami tanya sana sini sampai tujuh kali, barulah kami bisa naik Trans Surabaya. bis kota idaman istriku seperti di sinetron.
Kami yang baru pertama kalinya naik Trans Surabaya sempat membuat kelucuan yang tidak lucu di dalam bis. Bis hanya menerima pembayaran Qris atau kartu elektronik, sedangkan aku malah menyodorkan kartu debit, kukira itu bisa dipakai, ternyata tidak.
Dalam kebingunganku, seorang penumpang membayari kami berdua, tapi tidak mau diganti dengan uang tunai, sampai aku merasa sungkan, tapi itu memberiku pengalaman berharga. Setelah ditipu calo bis, malah ketemu mbak penumpang yang baik hati, menjadikan hariku penuh warna.
Bersyukurnya aku, karena tak terjadi hal yang aku khawatirkan pada istriku sampai kami duduk manis di bis patas pulang ke Malang, saat langit senja berangsur gelap.
Terkantuk-kantuk di dalam bis, aku sempat berdoa dalam hati, semoga ini adalah ngidam terakhir istriku. Ketika mataku melirik ke samping, penumpang cantik itu sudah tertidur dengan tangan berada di atas perutnya yang sebesar genderang.
***selesai***
Kisah ini untuk mengenang seorang penumpang baik yang membayari aku dan suami di bis Trans Surabaya tanpa mau diganti uang tunai. Terimakasih Mbak.