Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
Penjara Aktivis
6
Suka
98
Dibaca

Aku tertegun netra ku menatap pria berbadan kekar dengan perut yang setengah buncit itu; berseragam lengkap serta atribut yang tersusun rapi.

Wajahnya seperti singa yang siap menerkam. Aku tidak akan gentar, bisa saja dalam perut buncitnya ada uang haram dari rakyat.

Aku terpekur melihat jam tangan mahal berada di tangan kanannya, itu keluaran terbaru, dilihat dari pangkatnya dia setara letnan atau kolonel; aku rasa.

"Urusan negara ini pelik, kita sebagai rakyat diam dan patuh saja. Orang kecil, tidak pantas melawan!" ujarnya dengan mengintimidasi, mata menyalang miliknya tak akan gentar.

Dia mengenggam cerutu, asap mengepul tinggi menyiksa paru-paru ku. Ia mendesis, tatapan matanya menusuk sanubariku.

"Jadi kamu, dalangnya.. menyebarkan Anarkismse, menghancurkan tatanan rezime publik. Kalian, dikasih makan enak malah minta makanan babi" amuknya. 

"Kalau kamu mau, pelor ini bisa menembus kepala kamu, kamu akan mati seketika" ujarnya, cerutu mengepul di udara.

"Jawab aku, bangsat!

Kamu yang menyebabkan warga memberontak di dusun sariwangi dan menyebabkan para buruh menuntut haknya, mereka cukup diberikan makan saja" Hardiknya, membuat gigi bergemelutuk; sialan, pejabat sipil gila.

Entah dengan nyali darimana, bibirku menyeletuk"Bukan Anda babinya pak?" Celetukku tak gentar, aku hanya ingin mendapatkan keadilan.

Satu bogeman meluncur dipipiku, yang sudah lebam. Siksaan ini tidak seberapa, dibandingkan Eko, yang merenggang nyawa dengan seutas tali yang di ikatkan lehernya pada penjaga dan tubuhnya di beri sulutan rokok; sangat biadab.

"Sudah puas memukul ku, kami orang kecil, sekedar meminum atau membeli whisky yang terletak diatas meja saja, jelas kami tidak mampu, apalagi harus bayar polisi." Ujarku, ngilu gigiku lepas tiga. Sialan.

"Oh, ya. Jika aku babinya maka, kau kotorannya... Orang seperti kalian, menuntut keadilan padahal bangsa ini sedang berkembang." 

Bugh! 

Satu pukulan melayang di pipiku, berdenyut nyeri rasanya ingin mati. 

Bugh! 

"Sudahlah! Berhenti menyuarakan keadilan, toh para buruh tetap dapat upah, dan lumbung dan lambung petani tetap terisi, tidak akan mereka mati kelaparan. Mari angkat saja gelas dihadapanmu dan minum whisky bersamaku," tatapannya nyalang, sudut bibirku berdarah aku tersenyum menantang. 

"Sebentar lagi, kalian akan mabuk..."Ujarku terputus, "dan menyewa bintang jalang." Mereka melepaskan ikatan tanganku dan memberikanku gelas. Aku tersenyum tipis dan menegak sampai habis, sial! gigiku ngilu.

"Besar juga nyalimu, sebelum kau mati mau ikut minum." Ujar pria bersenjata itu, tersenyum tipis. 

Tanganku bergetar menyodorkan gelas, bedil dengan lima pelor siap ditembakkan oleh pria berbaju hitam dan lengkap pangkatnya; jika aku salah kata sedikit saja peluru itu akan mengakar dipelipisku.

Waktunya jam makan siang ini ku habiskan menegak whisky sampai tandas. Perutku meronta, rongga mulutku terbakar, lebih baik aku mengakui semuanya jika tidak, aku akan mati. 

Gelas kedua tandas. Pekikku tertahan.

"Bung, Sodorkan gelasmu, mari kita minum. Ini sudah gelas kedua bukan? minum sebelum pelor-pelor ini menembus pelipismu." Aku tertawa, minum peralahan setegak atau kematian didepan mata bukan alasan. 

"Jadi, kamu dalangnya..." Pria itu menahan napas dengan perlahan.

"Ku dengar Dinda sudah di gilir oleh lima tentara, sekarang dia adalah binatang jalang." Jelas kolonel itu dihadapanku, tanganku bergetar; dinda kekasihku, pujaanku, matanya yang sayu dan wajahnya yang ayu telah di nodai pria yang tidak tahu malu ini— gigiku bergemeletuk tak hiraukan asin darah masih terasa.

"Yah kekasihmu, sudah jadi jalang, ia di antar ke rumah bordil yang akan siap melayani tentara kami." Ujarnya, mataku nyalang, air muka ku keruh dan kuku jariku memutih

"Bangsat!" teriakku, ia tertawa.

"Akuilah. kau dalangnya maka, wanitamu akan selamat." Mendengar itu, logika ku terhenti. Aku akan mengakuinya.

"Kamu tau, kebijakan ini untuk membuat Indonesia lebih baik." Lanjutnya, netraku terpejam, antara pengar dan nyeri menjadi satu.

Aku tertawa, "Bung, nilai keadilan tiada lagi lalu percuma saja berjuang hingga darah penghabisan, sedangkan kita diinjak bangsa sendiri. Aku akan mengutuk penguasa dalam doa bung! rakyat yang terdzalimi dan pejabat pemerintah dengan moral yang semakin menipis." 

"Bangsat! Jangan sekali-kali melawan pemerintahan" 

"Bung, bunuh saja aku. Toh, pemimpin tidak akan merasa bersalah akan hal itu." Ia terdiam, tangannya bersiap memegang bedil itu, dan mengeram; bola mata jernih itu memerah, hidungnya kembang kempis dengan satu tangannya meraih bedil dan menarik pelatuknya.

Pelor berhasil menembus kepalaku tanpa permisi.

"Sudah sepantasnya aku mati." aku terjatuh, izinkan aku berbicara dengan Dinda, mendoakannya semoga ia baik-baik saja.

"Bung abimana, Dinda sudah tiada. Ia digilir tentara tanpa ampun dan mati, mayatnya dibuang di sumur belakang penjara ini dan, kau mandi mengunakan air bekas mayatnya." Tawa kolonel itu menjadi, kejam. Bahkan Binatang saja lebih buruk.

Bangsat! Tidak adalagi yang bisa dilindungi dari negeri ini.

Sialan, bodohnya aku tinggal di negeri ini, tiap hari seperti tak mendengar pelita, mau kabur kemana? Uang saja tidak punya? Budak korporat sepertiku memijat kaki para pemimpin dan mengais pundi uang agar bisa makan, pilih makan nasi atau karyawan yang hilang pekerjaannya demi melegalkan makan gizi gratis, rasa nasionalisme ku terkikis habis.

Masih kuingat dengan jelas, guru pendidikan kewarganegaraanku yang buncit itu menjelaskan arti demokrasi dan hukum; mata yang setengah mengantuk, bahkan kacamata bertengger dihidungnya yang keriput dimakan usia, bersuara lantang.

"Demokrasi harus berjalan dengan baik, anak-anak, ingat hukum di negeri kita mengikat."

Sekarang aku tertawa, peraturan dan hukum bersifat mengikat untuk apa jika merugikan rakyat, tumpukan uang negara yang ditinggali tikus tak beradab, tanah warga dijarah para mafia, nilai pasar uang yang menurun, investor yang kabur, lucunya lagi teror kepala babi tidak bertelinga dengan tikus tanpa kepala menghantui para redaksi. 

Oknum aparat yang mengila, kulihat kemarin perempuan semakin tertindas. Keadilan bisa dibeli dengan segepok kertas bergambar presiden pertama kita dan wakilnya. Tikus-tikus dalam negeri berlenggok mengunakan jas mahal seharga 10 tahun gaji para buruh tani.

Kerja bakti menyusun neraka, kau dan aku juga bahan bakarnya- persetanan ribuan tahun di neraka, di dunia sama saja dengan makan bangkai, rakyat mati kelaparan ditindas habis hukum dan tentu saja, mengais pundi uang di kaki negeri sendiri. 

Aku memejamkan mataku, tiga pelor bersarang di tubuhku namun Aku tertawa kecil, dengan sisa tenagaku miliki."Sampai jumpa di neraka kawan! Bajingan seperti kalian, semoga dikutuk rakyat yang terzalimi, semoga terpenjara dalam dosa"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Novel
Gold
Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib
Noura Publishing
Flash
Jembatan merah
Mahmud
Novel
Suami Pelit Bin Medit
Dara Apriliani
Flash
The Descendant of Murderer
Matrioska
Novel
Bersama Langit 1998
Alpina Sari Harahap
Novel
Bronze
Kisah Tak Berujung
Savana Radiani
Novel
Negeri Ilusi Bapak Presiden
Liston Siregar
Novel
JOHN & ANYA
Yudha Taruna
Novel
Meskipun Dia Bukan Anakmu
Titin Hartini
Novel
Bronze
Cinta di Balik Senyuman Misey
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
Beautiful Customer
Nida Sopiah Zulfa
Cerpen
MERAH TERAKHIR
Rizky Anna
Novel
Bronze
Kemelut memorasa
Frisca Amelia
Novel
Gold
Death in Babylon, Love in Istanbul
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Flash
Roda berputar
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella