Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ibu selalu bersemayam dalam ingatan, sampai kapan pun.
Bukan sekadar bayangan samar, melainkan sebagai kehadiran yang utuh—seperti uap nasi hangat di pagi hari, atau suara sendok beradu dengan piring seng yang masih terdengar bahkan ketika dapur itu sudah lama sunyi.
Ada suatu masa dalam hidup ketika aku yakin: aku tidak akan mampu hidup tanpa beliau. Keyakinan itu tidak lahir dari ketergantungan yang manja, melainkan dari kesadaran sederhana bahwa dunia terasa terlalu luas dan terlalu keras jika dijalani tanpa kasih sayang ibu.
Ibu adalah perempuan tangguh. Sebelas anak ia besarkan—sembilan di antaranya laki-laki, dengan jarak usia yang berhimpitan seperti anak tangga yang disusun tergesa. Bayangkan pagi yang tak pernah benar-benar sepi, rumah yang selalu penuh suara, dan tubuh ibu yang seolah tak pernah diberi waktu untuk benar-benar lelah.
Ayah seorang pegawai negeri yang tekun di masa Orde Baru. Gajinya cukup untuk bertahan, tetapi jauh dari kata lapang. Kami hidup dalam perhitungan yang ketat: beras jatah dari pemerintah yang cukup berbau, harus cukup sampai akhir bulan, minyak goreng harus dijaga tetesannya, dan pakaian sering kali berpindah tangan dari kakak ke adik tanpa pernah singgah di lemari terlalu lama.
Namun dari ayah dan ibu, kami tidak pernah belajar meminta-minta. Tidak pula mencuri, apalagi berbuat curang. Ayah selalu mengulang satu kalimat yang kini terasa seperti mantra hidup:
“Lebih baik lapar daripada harus merugikan orang.”
Ibu selalu mengangguk mendukung, meski ia tahu benar apa arti lapar itu. Ia tahu bagaimana rasanya menghitung porsi sambil menyembunyikan cemas. Ia tahu bahwa kadang, makanan di meja tak sebanding dengan jumlah kepala yang harus disuapi. Tetapi ibu tidak pernah mengeluh. Ia justru selalu menemukan jalan keluar—solusi kecil yang lahir dari cinta besar.
Satu butir telur, misalnya.
Ibu akan memarut kelapa setengah tua, mencampurnya dengan telur itu, lalu menggorengnya perlahan. Hasilnya tak pernah tebal, tetapi aromanya memenuhi rumah. Telur itu akan dipotong kecil-kecil, dibagi rata, dan entah bagaimana caranya, setiap mulut anaknya tetap bisa merasakan kehangatan makan siang. Aku sering berpikir, bukan telur yang mengenyangkan kami, melainkan keyakinan bahwa ibu selalu memastikan kami tidak merasa sendirian. Sejak hari itu, aku tahu: kenyang atau puas bukan soal jumlah, melainkan soal kemauan berbagi.
Bagi orang lain, ibuku mungkin masuk kategori galak. Suaranya lantang, tegurannya tegas. Tetapi bagi kami, anak-anaknya, suara itu justru terdengar merdu—menenangkan, seperti jangkar yang menahan kapal agar tak hanyut terlalu jauh. Di tengah kekacauan dunia kecil kami, suara ibu adalah penanda arah.
Pelukannya selalu menjadi tempat paling aman. Kecupannya, meski singkat, selalu cukup untuk mengisi ulang keberanian. Ada hari-hari ketika aku pulang dengan kepala tertunduk, membawa kegagalan kecil yang terasa besar. Ibu tidak selalu banyak bertanya. Kadang ia hanya menepuk punggungku, menyuruhku duduk, lalu menyendokkan nasi. Dan entah mengapa, setelah itu, dunia terasa sedikit lebih bisa ditoleransi.
Waktu berjalan, seperti selalu. Kami tumbuh, satu per satu meninggalkan rumah. Rambut ibu mulai memutih, langkahnya tak lagi secepat dulu. Tetapi ia tetap berdiri di tempat yang sama: di antara dapur dan ruang tamu, menunggu dengan cara yang hanya ibu-ibu pahami—tanpa menuntut, tanpa menghitung.
Hal yang paling kusesali dalam hidup ini adalah belum sempat banyak membalas cintanya. Kesibukan datang lebih cepat daripada kesadaran. Tanggung jawab tumbuh, sementara waktu menyusut. Dan ketika akhirnya aku merasa siap memberi lebih, waktu justru memilih berhenti.
Kini, rumah itu tak lagi seramai dulu. Dapur tak lagi memanggil dengan suara piring. Tetapi ibu tidak benar-benar pergi. Ia hidup dalam cara kami membagi makanan, dalam prinsip ayah yang terus kami ulang, dalam rasa bersalah yang pelan-pelan berubah menjadi tekad untuk hidup lebih jujur.
Aku tahu, suatu hari nanti, ketika aku lelah, ketika hidup terasa terlalu berat, aku akan kembali mengingatnya. Bukan untuk menangis, tetapi untuk berdiri lebih tegak. Karena ibu telah menunjukkan caranya: bertahan tanpa mengeluh, memberi tanpa menghitung, mencintai tanpa syarat.
Al-Fatihah untuk ayah dan ibu.
Dan terima kasih—untuk hidup yang mungkin sederhana, tetapi penuh martabat.
Wonogiri-Yogyakarta-Jakarta-Solo-Blora, sepanjang hidup.