Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Desa Kramat, 1989
Antin. Seorang anak yang cerdas dan ceria. Suasana rumahnya malam ini ramai dengan para tetangga yang turut pengajian terakhir; tujuh hari kematiannya.
Rumah orang tua Antin memanglah sangat sederhana. Atapnya dari pelepah daun kelapa, dinding-dindingnya kombinasi kayu dan anyaman bambu yang tampak bersih meski tak mampu menyembunyikan reyotnya. Lantainya juga bersih, walaupun hanya tanah padat.
Orang tua Antin memanglah termasuk kategori tidak mampu / miskin. Namun keluarga ini terkenal baik dan ramah pada tetangga. Pantas saja, setiap malam pengajian almarhum Antin, rumahnya penuh sampai halaman hingga jalan kampung depan rumahnya.
Keperihatinan tetangga juga karena tahun ini adalah tepat ulang tahun Antin yang ke 17. Tahun-tahun pertama ia melepas masa remaja menuju baligh. Namun, penyebab kematian Antin cukup membekas dengan beribu pertanyaan yang samar-samar simpang siur diantara saudara dan tetangganya.
Sudah 3 orang bersaksi bertemu Antin, di hari-hari setelah Antin meninggal. Ada yang mengaku dan melihat di ujung jalan kampung, ada yang mengaku melihat Antin berdiri di depan rumah besar milik Pak Biyan, ada juga yang melihat Antin mutah di sungai dekat rumahnya.
3 hari sebelum Antin meninggal ...
"Ibu, aku dapat nasi kotak. Ibu dan bapak sudah makan belum?" Antin baru saja pulang sekolah, tas punggungnya masih menggantung di pundaknya, dan tampak dibawanya nasi kotak.
"Sudah Nak." Jawab Ibunya.
Antin menaruh tasnya di kursi makan, lalu ia duduk di sebelahnya. Dibukanya nasi kotak yang didapatinya. Menunya cukup istimewa, ada nasi, sepotong ayam, sebutir telur, sayur dan buah, lengkap dengan pudingnya. Diambil sendok, dan makanlah Antin dengan lahap. Baru sekitar setengah isi kotak nasi, tiba-tiba Antin tersungkur di meja makan. Ibunya panik.
"Nak, nak, nak, Bapaaaaak!" Ibunya memanggil suaminya sambil terus membangunkan Antin.
Antin dibawa ke puskesmas. Di sana, dokter kebingungan mengidentifikasi sakitnya Antin. Tidak ada tanda-tanda keracunan. Tidak ada tanda-tanda sakit berat. Sisa makanan Antin juga sama, tidak ada tanda-tanda racun, atau kandungan bahan yang berbahaya hingga menyebabkan kematian.
Di ruang dokter yang sunyi dan tegang, sudah duduk tegap Ibu dan Bapak Antin menghadap Pak Dokter.
"Bu, mohon maaf. Kami tidak banyak membantu. Selain itu, setelah seluruh pemeriksaan, Dik Antin mengalami Colaps (Jantungnya berhenti tiba-tiba), sedangkan Dik Antin tidak memiliki riwayat sakit berat." Dokter bicara dengan datar dan tenang.
"Ini adalah surat pernyataan." Kata Dokter, sambil menyodorkan seberkas dokumen. "Setelah bapak atau ibu tandatangan, Antin boleh dibawa pulang untuk dimakamkan." Dokter melanjutkan.
Bapak dan Ibu Antin tak memberikan jawaban apapun. Dalam diam dan tegang, diraihnya pulpen di meja dan ditandatangai kertas tadi, lalu mereka keluar setelah bersalaman dengan dokter.
Dingin dan kaku. Pun, setelah sampai di rumah duka, bahkan tiada lagi tangis dari Ibu dan Bapak Antin, seolah telah habis dan kering air mata mereka berdua.
Ibu Antin, diam-diam menyimpan rahasia dalam perasaan yang berkecamuk, tentang bau anyir yang selebat-selebat saat Antin menyantap Nasi Kotak terakhir dalam hidupnya. Diingatnya, bagaimana Antin begitu lahap atau lebih tepatnya rakus dan cepat dimata Ibunya, seperti seseorang yang makan tanpa kesadaran atau dorongan yang tidak wajar.
Pun, juga Bapak Antin diam-diam menaruh curiga pada Pak Biyan, tetangga kayanya. Sejak kematian Antin, setiap melewati rumah Pak Biyan, samar-samar tercium wangi bunga yang menyengat. Ada amarah Bapak Antin yang menyeruak bersama aroma yang disesap. Langkahnya akan melambat, lalu menyelidiki setiap jengkal rumah Pak Biyan, barangkali ada sedikit bukti maupun petunjuk, atau bisa dijumpainya sendiri anak semata wayangnya yang kemarin muncul di sini.
Kecurigaan Bapak Antin bukan tanpa alasan. Selain kesaksian orang yang melihat Antin di depan rumah Pak Biyan, juga karena selama pemakaman hingga sudah lewat 7 hari kematian Antin, Pak Biyan tak pernah tampak batang hidungnya. Kabarnya, Pak Biyan sedang berada di Luar Pulau, mengurus bisnisnya. Yang di rumah hanyalah tukang bersih-bersihnya yang datang satu minggu sekali. Namun, tak diketahui pasti sejak kapan Pak Biyan tidak berada di Rumahnya, di Desa Kramat ini.
Bapak Antin tiba di rumah. Dilihatnya Ibu Antin sedang merenung dengan sedikit penyesalan. Kenapa tak sempat aku tanyakan dari siapa Nasi Kotak Antin berasal. "Siapa yang memberimu Nasi Kotak Bertulah itu Nak?" Ibu Antin bertanya dengan sesal dari hatinya yang paling dalam.
Sementara Bapak Antin dan Ibu Antin terus terbayang-bayang akan nasib Anaknya.
Di sebuah kamar tertutup, tampak Pak Biyan sedang duduk bersila, wangi dupa dan kembang 7 rupa menyeruak memenuhi ruangan. Pak Biyan tiba-tiba bicara dengan suara lirih, "Dik Antin, sudah lebih 7 hari, akan aku carikan teman untukmu, tolong kamu tak perlu muncul lagi di sekitar desa dan rumah, saya tak punya pilihan lain, semua ini agar anak dan keluargaku selamat." belum selesai Pak Biyan bicara, tiba-tiba terdengar suara isak tangis anak perempuan. Pak Biyan menambahkan dupa, lalu ia bicara lagi, "Tolong datanglah dalam mimpiku, siapa lagi yang bisa kujadikan tumbal, sekaligus bantu selamatkan arwah Dik Antin." Pak Biyan bicara dengan sedikit terbata-bata. Dan seketika suara tangis berhenti.
Sedangkan, di kampung Antin, kini, Pak Biyanlah yang bergentayangan memberi teror ketakutan. Meski raga Pak Biyan tak ada, tetap saja tak ada yang berani mendekat rumahnya. Setiap ada makanan yang di bawa anak-anak akan ditanya dan diteliti dari mana didapati.
Teror Makan Bertulah Gratis terus berlangsung hingga bertahun-tahun. Meskipun Ibu dan Bapak Antin sudah pindah ke Desa Sebelah. Begitu juga dengan nasib Pak Biyan yang tak diketahui, kecuali info tentang rumah Pak Biyan yang di jual, namun tak laku-laku.
Kisah ini menjadi legenda yang masih hidup diantara warga Desa Kramat, ada peraturan tak tertulis tentang pantangan menerima dan memberi makan gratis tanpa diketahui maksud alasan dan asal usulnya.
Tamat.